Badudus Ritual Tradisi Masyarakat Banjar

Badudus Ritual Tradisi Masyarakat Banjar

BANJARMASIN, BANGKA POS.com - Badudus atau mandi-mandi, merupakan salah satu ritual tradisi yang ada dalam masyarakat Banjar. Ritual adat ini masih dipakai hingga saat ini di berbagai kegiatan. Ritual badudus ini, biasanya dilakukan pada saat melangsungkan pernikahan, penobatan terhadap seseorang, dan juga pada saat kehamilan tujuh bulan atau yang disebut tian mandaring. Secara umum pelaksanaan ritual badudus baik pada saat penobatan seseorang, pernikahan, dan tian mandaring, pada dasarnya sama maknanya, yakni untuk membersihkan diri, baik lahir maupun batin. Tradisi badudus juga bertujuan untuk menghindar atau membentengi diri dari berbagai masalah kejiwaan yang datang dari luar dan dalam diri seseorang. Dalam setiap pelaksanaan badudus, biasanya selalu disiapkan sesaji atau piduduk, berupa kue 41 macam, bubur merah, bubur putih, kopi, dan lain sebagainya. Badudus biasa dilakukan dengan tempat khusus didesain menjadi segi empat dikelilingi empat buah tiang yang melambangkan sebuah  perjuangan hidup seseorang. Selanjutnya pada tempat badudus tersebut juga disiapkan berbagai perlengkapannya, mulai dari air bercampur kembang, air bersih untuk membilas dan lain sebagainya. Biasanya, juga tidak ketinggalan peralatan berupa beras putih bersih yang melambangkan citra dan rezeki. Kemudian pisau yang melambangkan kharismatik. Lalu telur ayam kampung yang melambangkan harapan. Dan terakhir  kelapa dan gula merah yang melambangkan manis bahasa atau perilaku seseorang. Menurut tokoh Budayawan Kalsel, H Adjim Arijadi dengan badudus ini dipercaya dapat membersihkan atau menyucikan diri. Melakukan badudus ini dipercaya bisa membuat orang suci kembali baik lahir dan batin layaknya bayi yang baru saja dilahirkan. Badudus ini sudah menjadi kepercayaan masyarakat Banjar. Bahkan, ada sebagian masyarakatnya yang percaya, apabila badudus ini tidak dilaksanakan, maka bisa mendatangkan malapetaka. Untuk Penobatan Beda MESKI pada dasarnya pelaksanaan badudus untuk acara pernikahan, tian mandaring dan juga pada saat penobatan atau  pengangkatan status seseorang sama, namun memiliki perbedaan pada prinsipnya. Menurut H Adjim Arijadi, untuk penobatan atau pengangkatan status seseorang, dilakukan dengan melibatkan banyak hal. Seperti pada saat badudus penobatan Raja Muda Kerajaan Banjar Kharul Saleh, adalah air yang diambil dari tujuh mata air yang ada di Kalsel. "Air yang digunakan untuk memandikan Raja Muda Banjar kemaren, adalah air yang didatangkan dari tujuh sumber, yaitu air yang berasal dari Candi Laras, Candi Agung, Muara Ulak, makam Sultan Suriansyah, Gunung Pematon, Sungai Kitanu,dan Muara Bincau," ujarnya. Dia menambahkan yang memandikan untuk penobatan, berjumlah tujuh orang yang di antaranya merupakan keluarga dekat juga tokoh masyarakat atau ulama. "Jadi untuk badudus penobatan atau pengangkatan status seseorang, berbeda prinsipnya dengan badudus pernikahan dan juga tian mandaring," pungkasnya. (tribunnews.com/pp)
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved