A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

PLTN di Bangka Belitung? - Bangka Pos
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 22 Agustus 2014
Bangka Pos
Home » Kolom » Opini

PLTN di Bangka Belitung?

Selasa, 15 Maret 2011 09:23 WIB
Penulis: Oleh: Syaiful Karim Anggota KPU Pangkalpinang

Dampak yang dipersepsikan akan membawa dampak lainnya terutama pada bidang ekonomi khususnya daerah sekitar reaktor PLTN dan tentu saja membawa dampak kepada daerah lain pada wilayah  yang lebih luas

BEBERAPA minggu terakhir pemberitaan tentang rencana pembangunan PLTN dimedia lokal maupun nasional kembali mengemuka.  Konsumsi listrik Indonesia yang terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional dan ancaman krisis energi listrik di masa depan menjadi alasan perlunya pembangunan sumber energi listrik skala besar. Melihat  besarnya daya listrik yang dapat dihasilkan sebuah reaktor nuklir maka PLTN jadi pilihan sumber  energi listrik alternatif yang dianggap sangat penting untuk dibangun.

Rencana pembangunan PLTN di Indonesia telah melalui proses waktu yang panjang. Program pembangunan PLTN  Indonesia dimulai  sejak tahun 1972 dengan dibentuknya Komisi Persiapan Pembangunan PLTN. Komisi ini telah melakukan pemilihan lokasi dan terpilihnya 14 titik lokasi potensial pada tahun 1975, 14 lokasi tersebut semuanya di Pulau Jawa, 11 di wilayah pantai utara dan 3 lokasi di wilayah pantai Selatan.  Rencana pembangunan PLTN di Semenanjung Muria Jepara telah dirintis oleh BATAN pada tahun 1982 dengan rencana menentukan tapak dan menghimpun pandangan masyarakat tentang PLTN. Pro dan kontra mengiringi rencana pembangunan tersebut, banyaknya tantangan dari berbagai pihak baik LSM, tokoh masyarakat dan masyarakat sekitar Jepara, membuat rencana pembangunan PLTN tersebut dihentikan. Demikian juga  pada tahun 1991 sampai dengan 1996 telah dilakukan study kelayakan dan study tapak dengan rekomendasi tapak di lemah Abang Muria, namun pada tahun 1998 terjadi krisis ekonomi dan politik.

Gagasan pembangunan PLTN kembali mencuat pada tahun 2006, Semenanjung Muria Jepara tetap menjadi lokasi rencana pembangunan proyek tersebut. Sosialisasi  telah dilakukan, namun tetap ada pro dan kontra atas rencana proyek tersebut.

Selagi ada yang pihak-pihak yang kontra terhadap rencana proyek tersebut, pemerintah dan pemrakarsa proyek tetap harus memperhatikan kelompok-kelompok penentang, bagaimanapun mereka adalah bagian dari stakeholders. Keberlanjutan sebuah proyek sangat tergantung kepada tingkat  penerimaan masyarakat. Kelompok yang menentang kehadiran PLTN tidak hanya terjadi di Indonesia namun juga pernah terjadi di AS dan Kanada.

Trauma Nuklir

Pembangunan PLTN adalah kepentingan terhadap pemenuhan kebutuhan energi listrik untuk menopang pertumbuhan ekonomi, baik kebutuhan masyarakat maupun industri yang kian tinggi. Isu utama yang mengiringi hampir setiap rencana pembangunan PLTN adalah dampak ekonomi dan sosial sebagai akibat pembangunan PLTN tersebut. Namun untuk kasus pembangunan PLTN dampak yang akan ada tidak hanya bersifat standar seperti pembangunan proyek lain pada umumnya, seperti terciptanya kesempatan kerja, kesempatan berusaha, kebisingan, debu/polusi udara, getaran, gangguan kenyamanan karena kemacetan lalulintas, pencemaran air.  
Dalam konteks PLTN juga menimbulkan dampak spesifik seperti rasa khawatir, rasa cemas, rasa takut/ was-was. Dalam terminologi dampak sosial, dampak yang demikian disebut  dampak yang dipersepsikan atau perceived impact. Berbeda dengan dampak standar yang bersifat tangible dan terukur, dampak persepsi muncul berhubungan dengan pandangan masyarakat tentang risiko yang mungkin timbul. Persepsi masyarakat muncul karena pengetahuan tentang akibat berbagai tragedi PLTN di negara lain seperti kebocoran PLTN Chernobyl (Ukraina,1986) dan Three Mite Island (AS, 1979), kebocoran radioaktif reaktor PLTN Tokyo Electric Power Co (TEPCO) Jepang akibat gempa 6,8 SR (16/7/2007), ledakan dan kebocoran  beberapa reaktor PLTN TEPCO di Fukushima Jepang akibat gempa 8,9 SR (11/3/2011) hingga ratusan ribu orang dalam radius 20 KM dari pusat reaktor harus diungsikan, serta bagaimana dahsyatnya daya musnah energi nuklir atas penggunaan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada perang dunia II tahun 1945.

Reaktor nuklir sangat berbahaya, sedikit saja terjadi kesalahan prosedur baik karena faktor manusia maupun faktor alam  akan menimbulkan radiasi yang sangat mengancam keselamatan jiwa manusia dan lingkungan, langsung  maupun tidak langsung lewat udara, air maupun media lainnya. Jangkauan radiasi sangat luas,  debu radioaktif akibat  kebocoran PLTN Chernobyl bahkan sampai ke Jerman. Dampaknya juga masih dirasakan 25 tahun setelah peristiwa tersebut, bagi kesehatan efeknya juga bersifat inheren atau melekat hingga ada yang baru dirasakan setelah beberapa tahun kemudian.

Isu kedua adalah tentang limbah radioaktif. Dalam operasinya PLTN akan menghasilkan limbah radioaktif yang termasuk dalam kategori limbah khusus berbahaya. Limbah radioaktif harus mendapat penanganan khusus dan harus disimpan minimal 100 tahun bahkan ribuan tahun.  

Dampak PLTN

Seperti telah disampaikan di atas, PLTN membawa dampak yang spesifik yaitu dampak yang dipersepsikan, secanggih apapun teknologi pengamanan yang digunakan tetap ada risiko, faktor kesalahan manusia dan faktor alam  selalu dapat terjadi dan hal ini seperti stigma yang melekat pada pemikiran seseorang. Rasa waspada, khawatir, was-was, ketidaknyamanan dan rasa takut adalah bentuk dampak yang dipersepsikan. Dampak yang dipersepsikan akan membawa dampak lainnya terutama pada bidang ekonomi khususnya daerah sekitar reaktor PLTN dan tentu saja membawa dampak kepada daerah lain pada wilayah  yang lebih luas. Bila dampak yang dipersepsikan adalah negatif maka dampak turunannya juga membawa pengaruh negatif.

PLTN Babel akan dibangun dengan kapasitas 18.000 MW (18 GW). Reaktor di Mentok bakal berkapasitas 10.000 MW akan memasok listrik ke Sumatera, dan reaktor di Tanjung Kerasak bakal berkapasitas 8.000 MW  untuk memasok listrik ke Jawa (Kompas, 1/3/2011). Sementara PLN menyatakan bahwa Bangka Belitung akan mengalami surplus listrik pada tahun 2013 seiring dengan pembangunan beberapa PLTU yang sedang dibangun dan akan dibangun di Bangka Belitung (Bangka Pos, 7/3/2011).

Seseorang yang berniat membangun pabrik roti, tidak perlu membangunnya di dekat pabrik atau gudang terigu, karena akan berisiko dengan lingkungan udara yang terpolusi debu terigu, terigu selalu tersedia dimana saja,  pilihannya cenderung dekat dengan pangsa pasar yang potensial dan jauh dari pabrik/gudang terigu.***
Editor: dedypurwadi
Sumber: bangkapos.com
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
55353 articles 12 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas