BangkaPos/

Cheng Beng, Mereka Tetap Hidup di Alam Sana

Sebagai bentuk penghormatan dan ucapan terimakasih itu pula berbagai persembahan berupa aneka sajian makanan dipersembahkan kepada...

Cheng Beng, Mereka Tetap Hidup di Alam Sana
bangkapo.com/albana
Asen dan istri warga Pangkalpinang hendak meninggalkan makam orangtua mereka di Pekuburan Sentosa usai menggelar ritual Cheng Beng, Selasa (5/4/2011) pagi.
Laporan Wartawan Bangka Pos, Albana

PANGKALPINANG, BANGKAPOS.com -- Puncak peringatan Cheng Beng (sembahyang kubur) warga Tionghoa jatuh pada Selasa (5/4/2011).

Ribuan warga berduyun-duyun menuju pemakaman Sentosa di Semabung, Pangkalpinang. Ada yang datang sejak subuh bersama rombongan keluarga besar untuk menggelar sembahyang. Bentuk pengabdian sang anak terhadap orangtua.

Terselip juga rasa terimakasih para keturunan terhadap leluhur mereka. Cheng Beng seakan menarik kembali para cicit, cucu, anak, dan keturunan dalam satu garis dimana mereka dilahirkan.

Sebagai bentuk penghormatan dan ucapan terimakasih itu pula berbagai persembahan berupa aneka sajian makanan dipersembahkan kepada leluhur yang telah tiada itu.

"Mereka tetap hidup di alam sana. Mereka tetap melihat kita yang masih hidup di dunia. Maka sebagai anak kami juga memberikan bhakti kepada orangtua kami yang telah pergi," kata Asen (64), warga Pangkalpinang usai menggelar ritual sembahyang kubur kepada bangkapos.com di areal
Pekuburan Sentosa.

Asen bersama isterinya Alan sejak pukul 06.00 WIB berada di Pekuburan Sentosa yang hari ini dikunjungi ribuan peziarah. Asap pedupaan dan aroma gaharu menyengat di areal ratusan hektar itu. Sementara sekeliling jalan di Sentosa sesak oleh parkir kendaraan roda empat maupun dua.

"Kami merasa ada yang kurang bila tidak pulang ke Bangka untuk sembahyang kubur di makam orangtua," tutur Valen (43), seorang perantau asal Pangkalpinang yang menetap di kawasan Jakarta Barat. "Istreri dan anak-anak sudah duluan sembahyang, Sabtu  (2/4/2011). Kami bergantian," tukas Valen.

Untuk sebuah bakti terhadap leluhur, tak masalah bagi Valen jika harus merogoh kantongnya guna membeli tiket Jakarta-Bangka pulang pergi.

"Sekali dalam setahun, rezeki bisa dicari, ketenangan dan pengabdian kami kepada mereka lebih berarti," ujar bapak dua putra-putri ini.

Tak hanya Valen ada pula beberapa diantara peziarah ini yang sudah menetap di luar negeri kembali ke kampung halaman untuk Cheng Beng.. Demikian sebuah bakti seorang anak. Sebab mereka yakin leluhurnya masih memperhatikan mereka dari nun jauh di alam sana.


Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help