A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Pemerintah Daerah Perlu Standarkan Harga Timah - Bangka Pos
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 30 Juli 2014
Bangka Pos
Home » Lokal » Bangka

Pemerintah Daerah Perlu Standarkan Harga Timah

Selasa, 10 Mei 2011 10:24 WIB
Laporan Wartawan Bangka Pos, Riyadi

BANGKAPOS.COM, BANGKA --
Penambang pasir timah kini mulai mengeluh sejak ada penurunan harga timah yang dimulai sekitar dua atau tiga hari lalu.

Pemerintah daerah dirasakan perlu untuk membangun kebijakan, terkait  standar harga timah di daerahnya sendiri, sehingga dapat dijadikan patokan jual beli timah di daerah setempat, sehingga tidak terus-terusan ikut harga dunia atau kolektor.

Penurunan harga timah berkisar antara Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu. Sebelum ada penurunan, harga lepas (harga timah) di tingkat penambang mencapai Rp 125 ribu hingga Rp 130 ribu per kilo.

"Sekitar dua hari ini harga timah turun dengan harga Rp 90 ribu sampai Rp 100 ribu per kilo, itu untuk harga lepas, artinya dari penambang ke kolektor, saya nggak tahu kalai harga di lobi berapa, kabarnya sampai Rp 125 ribu per kilo," ujar seorang penambang timah Nono kepada bangkapos.com, Selasa (10/05/2011) di Parittiga, Bangka Barat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Bagaimanapun juga lanjut Nono, naik turunnya harga timah secara umum
tidak berpengaruh terhadap produksi timah di tingkat penambang, alasannya, penambang mengutamakan kebutuhan ekonomi. Hanya saja, jika harga timah terus melorot, mau tidak mau akan berdampak khususnya terhadap biaya operasional.

Penambang juga harus dihadapkan dengan mahalnya minyak, yang harganya kini mencapai Rp Rp 160 ribu hingga Rp 170 ribu per jeriken (isi 17 liter).

"Dalam dua hari ini turunnya sekitar Rp 20-30 ribuan per kilo, tapi kalau masalah produksi di tingkat penambang skala kecil seperti kita ini, ya mau tidak mau tetap berjalan, harga timah naik turun ya tetap kerja, hanya kalau harga timah terus anjlok, kan tidak sesuai dengan biaya operasional apalagi harga minyak mahal," jelas Nono.

Turunnya harga secara umum juga akan berdampak terhadap perekonomian
masyarakat, apalagi sampai harga timah anjlok.

"Penambang berharap agar ada patokan yang standar terhadap harga timah khususnya di tingkat penambang, kalau bisa daerah juga yang menentukan harga itu, jangan berpatokan dengan harga dunia terus-terusan atau patokan dari kolektor," harap Nono. (yik/bangkapos)
Penulis: riyadi
Editor: rusaidah
Sumber: bangkapos.com
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas