Adab Berpantun Ditinggalkan Masyarakat Belitung
Bangkapos.com - Minggu, 22 Mei 2011 15:33 WIB
Share |
Berita Terkait
Laporan wartawan Bangka Pos, Dodi Hendriyanto

BANGKAPOS.COM, BELITUNG --
Budaya berpantun sudah hidup ratusan tahun lalu dalam tataran sosial masyarakat Melayu Belitung. Namun sejak tahun 80 an, budaya berpantun secara perlahan namun pasti mulai ditinggalkan masyarakat Belitung.

Adat berpantun yang dahulunya menjadi payung dan tatakrama pergaulan masyarakt kini hanya bisa dijumpai saat prosesi pernikahan saja. Itupun sudah tidak banyak lagi.

"Kita miris melihat kondisi perkembangan budaya pantun saat ini di belitung. Animo masyarakat untuk melestarikan adat berpantun ini minim sekali. Bahkan untuk prsosesi pernikahanpun tidak semua keluarga yang berhajat pernikahan memasukan adat berpantun ini dalam prosesi menyambut pengantin prianya," ungkap Janong, Ketua Pantun Berebut Lawang (Panbel) Kabupaten Belitung kepada bangkapos.com, Minggu (22/05/2011).

Menurut Janong yang sehari-hari menjadi penjaga malam di Dinas PU Kabupaten Belitung ini, Ia bersama teman-temannya akhirnya membentuk Komunitas Berpantun yang sekarang diwujudkan menjadi Komunitas Panbel (Pantun Berebut Lawang).

"Dengan adanya komunitas ini, kita akan berusaha mengajak kembali generasi muda untuk mau belajar berpantun," katanya.

Karena, menurut Janong, akibat pergaulan dan berkembangnya adat bahasa bertutur yang bebas saat ini telah membentuk karakter generasi muda menjadi liar. Para remaja tidak memiliki lagi adab sopan santun, baik terhadap sesama seusia, dengan orang yang lebih dewasa dan dengan orang yang lebih muda.

"Seenaknya saja mereka bicara, terkadang tanpa malu dan mengindahkan etika. Bahkan dengan orang tua merekapun mereka seenaknya bicara," ungkap Janong.

Padahal menurut Janong, jika filosofi berpantun ini bisa ditanamkan kepada generasi muda sekarang, maka bisa diharapkan timbul etika dan estika mereka dalam berbicara. Karena bahasa menunjukan karakter pribadi, keluarga, daerah dan bangsa.

"Pantun itu singkatan dari sopan dan santun. Orang yang memahami jiwa pantun, maka bisa kita lihat dalam pergaulanya sehari-hari. Yakni sopan dan santun," tambahnya.

Penulis : Dody
Editor : ismed
Sumber : Pos Belitung


Rekomendasi Facebook