Penganten Dihadang Penghulu Gawai
Bangkapos.com - Minggu, 5 Juni 2011 14:50 WIB
Berita Terkait
Laporan wartawan Bangka Pos, dodi hendriyanto
BANGKAPOS.COM, BELITUNG - Baru saja nafas lega dihembuskan rombongan penganten pria, mereka kembali dihadang Penghulu Gawai pihak penganten wanita. Maksud hati hendak masuk ke dalam rumah mempelai wanita terpaksa kembali tertunda. Senyum penganten pria dan rombonganpun sejenak terhenti melihat pintu rumah dihadang oleh Penghulu Gawai.
"Setelah tadi kami di hadang di perkarangan, kini kami kembali dihadang di depan rumah. Apa maunya tuan rumah," bertanya wakil penganten pria kepada Penghulu Gawai.
"Memang tidak mudah untuk menemui tuan putri, karena kami harus lebih tahu maksud kedatangan pangeran dan rombongan," jawab Penghulu Gawai.
Selanjutnya pantun bersahut menggema di teras rumah penganten wanita.
Di depan teras ini, wakil penganten pria lebih sulit menjawab semua pertanyaan dan pengharapan dari mempelai wanita yang dilantunkan lewat pantun
Setidaknya butuh waktu 10 menit juga untuk wakil penganten pria memenangkan pantun yang lantunkan Penghulu Gawai. Seperti pada penghadangan pertama tadi, di ters rumah ini penghulu gawai juga meminta tebusan kepada rombongan penganten pria supaya bisa masuk ke dalam rumah. Tebusa diminta lebih besar dari pintu hadangan pertama, yakni Rp 30 ribu.
Setelah dimengerti apa yang diminta Penghulu Gawai, wakil penganten pria pun menyerahkan uang Rp 30 ribu. Uang diterima, saat itupun rombongan dipersilahkan masuk ke dalam rumah.
BANGKAPOS.COM, BELITUNG - Baru saja nafas lega dihembuskan rombongan penganten pria, mereka kembali dihadang Penghulu Gawai pihak penganten wanita. Maksud hati hendak masuk ke dalam rumah mempelai wanita terpaksa kembali tertunda. Senyum penganten pria dan rombonganpun sejenak terhenti melihat pintu rumah dihadang oleh Penghulu Gawai.
"Setelah tadi kami di hadang di perkarangan, kini kami kembali dihadang di depan rumah. Apa maunya tuan rumah," bertanya wakil penganten pria kepada Penghulu Gawai.
"Memang tidak mudah untuk menemui tuan putri, karena kami harus lebih tahu maksud kedatangan pangeran dan rombongan," jawab Penghulu Gawai.
Selanjutnya pantun bersahut menggema di teras rumah penganten wanita.
Di depan teras ini, wakil penganten pria lebih sulit menjawab semua pertanyaan dan pengharapan dari mempelai wanita yang dilantunkan lewat pantun
Setidaknya butuh waktu 10 menit juga untuk wakil penganten pria memenangkan pantun yang lantunkan Penghulu Gawai. Seperti pada penghadangan pertama tadi, di ters rumah ini penghulu gawai juga meminta tebusan kepada rombongan penganten pria supaya bisa masuk ke dalam rumah. Tebusa diminta lebih besar dari pintu hadangan pertama, yakni Rp 30 ribu.
Setelah dimengerti apa yang diminta Penghulu Gawai, wakil penganten pria pun menyerahkan uang Rp 30 ribu. Uang diterima, saat itupun rombongan dipersilahkan masuk ke dalam rumah.
Penulis : Dody
Editor : emil
Sumber : Pos Belitung
