A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Menikah pada Bulan Apit - Bangka Pos
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 26 Juli 2014
Bangka Pos
Home » Kolom » Opini

Menikah pada Bulan Apit

Jumat, 7 Oktober 2011 11:25 WIB
Oleh: Isral, S.HI.
Kepala KUA Kecamatan Dendang, Belitung Timur.

DI
kalangan mayoritas masyarakat muslim Bangka Belitung terdapat larangan melaksanakan akad nikah pada bulan di antara dua hari raya atau lebih populer dikenal dengan sebutan bulan apit. “Dak jadi” (Bahasa Bangka) dan “dak kuang” (Bahasa Belitung), begitu mereka membahasakan larangan ini. Hal yang mencemaskan adalah pelarangan ini hampir-hampir telah dimaknai sebagai haram. Artinya, pelarangan yang pada mulanya berada di ranah kebudayaan (tradisi) bergeser ke ranah agama (syari). Benarkah menikah pada bulan apit dilarang dalam Islam?

Islam sebagai ajaran yang sesuai dengan fitrah manusia (QS. Ar- Rum: 30) mengerti benar dengan kebutuhan manusia. Sebagai makhluk hidup manusia berbeda dengan makhluk hidup lainnya, dalam hal menyalurkan kebutuhan seksual. Binatang mungkin membutuhkan seks sepanjang waktu namun tidak dapat melakukannya tiap kali kebutuhan itu muncul. Mereka perlu menunggu betinanya untuk birahi terlebih dahulu. Sementara manusia dapat melakukannya kapanpun ia butuh. Sehingga terkesan menyalahi fitrah jika terdapat aturan yang melarang manusia untuk melakukan hubungan badan (jima) dalam rentang waktu lama (satu bulan dalam kasus ini-pen).

Larangan melakukan hubungan badan pada waktu-waktu tertentu memang ditemukan dalam Islam. Misalnya pada siang hari Bulan Ramadhan. Juga seperti yang dituliskan oleh Syekh Imam Abu Muhammad dalam kitab Qurratul Uyun yang diantaranya adalah larangan berhubungan badan pada hari Sabtu. Ketika sahabat bertanya  tentang hari Sabtu, Rasulullah menjawab, “Hari Sabtu adalah hari penipuan”.

Maksudnya, pada hari inilah peristiwa Darun Nadwah terjadi. Sebuah peristiwa yang berlangsung sekitar tahun ke 14 kenabian di mana diputuskan sebuah upaya pembunuhan terhadap Nabi SAW. dalam rapat yang dihadiri oleh Abu Jahal dan iblis dari Najd. Namun penting untuk dicatat, kitab terakhir yang kita sebutkan dinilai oleh beberapa kalangan banyak memuat hadits palsu.  

Di luar larangan berhubungan badan dalam waktu singkat tersebut terdapat pula satu larangan menikah ketika sedang ihram yang bersumber dari hadits shahih: “Orang yang sedang ihram tidak boleh menikah atau melamar” (HR. Muslim, Tirmidzi dan Nasai dari Utsman Bin Affan). Akan tetapi keharaman melaksanakan akad nikah dalam hadits ini tidak menyangkut hari melainkan keadaan berihram itu sendiri. Sehingga selama tidak melaksanakan ihram, baik dalam ibadah haji maupun umrah, seseorang tidak terlarang untuk menikah meskipun pada hari tasyri, hari raya dan lain sebagainya.

Semua hari dipandang baik dalam Islam. Imam Malik mengatakan, “janganlah kalian menjauhi sebagian hari di dunia ini. Tatkala hendak melakukan sebagian pekerjaan, kerjakanlah pekerjaan-pekerjaan itu pada hari sesukamu. Sebab sebenarnya hari-hari itu semuanya milik Allah, tidak akan menimbulkan malapetaka dan tidak pula bisa membawa manfaat apapun”.

Hari-hari dalam bulan apit adalah hari-hari yang baik. Menikah pada bulan apit tidak akan membuat rezeki seret. Justru pernikahan adalah media untuk beroleh rezeki (QS an-Nur: 31). Dan, kadar rezeki ditentukan oleh Allah (QS asy-Syuura: 27), setelah manusia dengan etos sempurna berusaha memperolehnya.

Tidak tepat pula alasan bahwa jika pernikahan dilangsungkan pada bulan apit akan berujung pada perceraian. Perceraian lebih sering terjadi karena masing-masing pihak, suami/istri, alpa atau lalai terhadap kewajibannya. Sepanjang pasangan suami/istri menjalankan kewajibannya dan fokus kepada tujuan perkawinan, hampir-hampir sebuah keniscayaan, perceraian tidak akan menerpa sebuah institusi perkawinan manapun.

Tidak tepat pula alasan larangan menikah pada bulan apit sebagai bentuk penghormatan terhadap orang yang berangkat menunaikan ibadah haji pada bulan itu. Melaksanakan haji adalah ibadah. Menikah juga ibadah (pasal 2 KHI). Tidak ada satu ibadahpun yang lebih penting dari ibadah lain sehingga ketika salah satu ditunaikan oleh seseorang maka orang lain harus menghentikan yang lainnya.

Agaknya, alasan yang lebih terterima akal adalah soal konsumerisme dan pencitraan. Masyarakat kita cukup konsumtif dalam kesehariannya, terlebih lagi dalam menyikapi dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha). Pada dua hari raya ini mereka jadi pembelanja nomor wahid. Rupiah dihamburkan melebihi kebutuhan hingga menjadi minus pada bulan apit.  Sehingga, manakala akad nikah digelar pada bulan ini besar kemungkinan resepsinya akan berlangsung sederhana atau apa adanya. Jika begini, citra sebagai orang berada akan luntur, nama besar keluarga besar akan cemar. Ya, pernikahan dalam kebudayaan mutakhir kita telah menjelma semacam emblem sosial yang menentukan peringkat gengsi.

Di ranah kebudayaan konsumerisme merupakan gaya hidup, ia memperoleh pembenaran paling tidak berdasarkan tesis John Naisbitt dalam Megatrends Asia. Namun di ranah agama ia jelas-jelas tertolak. Bukankah pemboros itu saudara para setan (QS al-Isra: 27).***
Editor: dedypurwadi
Sumber: bangkapos.com
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas