• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 25 Oktober 2014
Bangka Pos

Sultan Berikan Wejangan Pengantin di Hadapan Besan

Rabu, 19 Oktober 2011 19:09 WIB
Sultan Berikan Wejangan Pengantin di Hadapan Besan
tribunjogja/hasan sakri ghozali
GKR Bendoro dan KPH Yudanegara mengikuti prosesi panggih di Keraton Yogyakarta, DI Yogyakarta, Selasa (18/10/2011). Seusai melaksanakan ijab kabul, KPH Yudanegara yang menikahi putri Sri Sultan Hamengku Buwono X, GKR Bendoro, melaksanakan prosesi panggih di Bangsal Kencono.

BANGKAPOS.COM, YOGYA  -- Setelah seluruh keluarga berkumpul di dalam Gedhong Jene, Rabu (19/10/2011), Sri Sultan Hamengku Buwono X mulai memberikan wejangan kepada mempelai. Dari keluarga besan di hadiri oleh ibunda Ubai, Nurbaiti Helmi dan juga kakak-kakak dan paman.

Dalam kesempatan itu ngarso dalem sangat berbahagia karena perkawinan  bisa terselenggara dengan baik dan lancar.

Sultan mengatakan pamitan sebagai prosesi terakhir dalam pernikahan itu bermakna bahwa nikah bukan saja untuk keperluan kedua pengantin, melainkan juga untuk membangun silaturahmi antara keluarga pria dan wanita, yakni bagaimana membangun martabat, melakukan hal-hal yang baik tanpa saling merendahkan atau menguasai. Ini tak lain dimaksudkan demi kebahagiaan pasangan pengantin baru.

"Menikah tidak untuk diri sendiri, tapi juga untuk membangun silaturahmi antarkeluarga laki-laki dan wanita," tutur Sultan yang didampingi permaisurinya, GKR Hemas.

Dalam  mengarungi hidup berkeluarga ngarso dalem berharap agar pengantin bisa memiliki kebahagiaan lahir batin.  Bukan hanya membangun cinta kasih. Tapi juga membangun keluarga besar, KPH Yudanegara diharapkan bisa menjadi suami yang baik bagi GKR Bendara. Dan juga sebaliknya, GKR Bendara juga bisa membangun dinamika keluarga besar sehingga harus sadar  dan bisa membangun kehidupan keluarga yang harmonis.

"Kalian harus bisa membangun dialog, komunikasi dan kehidupan. Berbeda pandangan adalah hal yang wajar, maka  dialogkan berdua dengan jujur dan iklas, jangan sampai menyimpan rahasia yang menimbulkan pertengkaran," pesannya.

Sultan mengatakan emosi harus bisa ditekan. Marah dalam suatu kehidupan adalah suatu hal yang lumrah bukan perbedaan yang dijadikan dasar perbedaan.

"Sebab dengan emosi kita sendiri akan bisa menghancurkan segalanya, manusia bisa lupa diri," katanya.

Apabila ada hal yang mengganjal di hati lebih baik di dialogkan dengan  kejujuran  dan dengan rasa nyaman dan aman. Jangan sampai ketika berdampingan ada rasa panas karena ada ketidakjujuran. Tapi landasan rasa aman dan nyaman itu untuk landasan hidup bahagia.kebahagiaan hidup.

Sebagai orangtua, menurut Sultan, ia hanya bisa mengantarkan putri bungsunya ini sampai ke jenjang pernikahan. "Saya tidak ikut campur lagi karena mereka sudah dewasa. Kalau soal pasangan, itu pilihan mereka sendiri, bukan pilihan orangtua atau dijodohkan," katanya.

Dari pihak besan, Tursandi Alwi, juga mengucapkan terima kasih. Dan apabila ada kesalahan atas nama keluarga ia mengucapkan minta maaf.

"Kami belum terbiasa dengan tata cara kraton, jadi kalau ada keliru mohon dimaklumi karena kami dari  orang sebrang," ucapnya selaku paman pengantin  pria.

Keluarga besan juga mohon pamit kepada kelurga pengantin putri. Dan akan kembali ke Jakarta dan ke Lampung. "Mudah-mudahan pengantin berdua akan mendapat barokah dari Allah," ucapnya.
Editor: didit
Sumber: Tribun Jogja
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
78693 articles 12 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas