Kamis, 5 Maret 2015
Home » Kolom » Opini

Menemukan Esensi Kurban

Jumat, 4 November 2011 09:39 WIB

QURBAN secara etimologis berarti dekat. Prosesi ibadah qurban dilakukan umat islam dengan melaksanakan  penyembelihan  hewan kurban (udlhiyah) pada saat hari raya Idul Adha dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan demikian qurban dapat dipahami sebagai media untuk mengantarkan seorang hamba agar lebih dekat kepada Tuhannya.

Menarik untuk ditemukan jawaban, apa relevansi  mendekatkan  diri kepada Tuhan dengan penyembelihan hewan kurban? Apakah dengan melaksanakan kurban seorang hamba telah benar-benar dekat dengan Tuhannya? Untuk menjawab pertanyaan diatas, kita perlu menelusuri sejarah disyariatkannya ibadah kurban.

Perintah untuk berkurban bahkan telah dimulai sejak awal peradaban manusia. Dua putra Adam yakni Qobil dan Habil diperintahkan untuk mempersembahkan hasil pertanian dan peternakan mereka  sebagai bentuk pengabdian dan rasa syukur. Namun perintah itu disikapi berbeda, Habil mempersembahkan yang terbaik dari hewan ternaknya sementara Qobil memberikan hasil pertaniannya yang sudah rusak dan jelek. Maka Allah pun hanya menerima persembahan Habil dan menolak persembahan dari yang lainnya. (QS. Al-Maidah : 27)

Sejarah kurban menjadi fenomenal ketika Nabi Ibrahim as mendapat perintah dari Tuhan untuk menyembelih putranya Ismail. Perintah yang tak lazim ini sempat membuat ia bimbang apakah benar datang dari Tuhan atau hanya sekedar bunga mimpi belaka. Perintah inipun akhirnya dilaksanakan setelah mendapat kepastian kebenarannya dari Allah SWT. Karena kesungguhan dan keikhlasan  keduanya melaksanakan perintah, lalu Allah mengganti sembelihan itu dengan seekor domba besar (QS. As shaffaat : 102-107).

Pada masa Islam, Kurban ditetapkan menjadi ibadah tersendiri dengan menyembelih hewan kurban untuk kemudian mendistribusikan sembelihan tersebut kepada fakir miskin dan orang- orang yang membutuhkan.

Esensi Kurban
Hewan kurban merupakan simbol harta kekayaan yang dicintai. Oleh  sebab itu di balik perintah berkurban tersimpan makna bahwa untuk dekat dengan  Allah SWT seseorang harus rela berkorban dengan menghadirkan yang terbaik dari apa yang dimilikinya.  Hal inilah yang  telah ditunjukkan oleh Habil sehingga persembahan kurbannya dapat diterima. Demikikan juga terhadap Ibrahim, demi menjalankan perintah, anak semata wayang yang paling disayangi ia relakan untuk disembelih. Padahal untuk kelahiran putra satu satunya itu Ibrahim telah sangat lama  menunggu dan merindukan kehadirannya.

Ismail lahir setelah Ibrahim berumur seratus dua puluh tahun sementara istrinya Siti Hajar  berusia sembilan puluh sembilan tahun. Kelahiran Ismail pun sempat membuat keduanya merasa kaget dan heran, setengah tak percaya apa mungkin mereka akan mendapatkan keturunan (QS. Hud:72). Ismail sendiri berasal dari bahasa Ibrani yang seakar dengan bahasa arab dari kata sami’a yang berarti mendengar. Yakni anak yang dilahirkan setelah Tuhan mendengar doa panjang yang dipanjatkan Ibrahim.

Halaman123
Editor: dedypurwadi
Sumber: bangkapos.com
KOMENTAR ANDA

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas