Selasa, 27 Januari 2015
Home » Kolom » Opini

Depati Amir Pahlawan Pulau Bangka

Jumat, 11 November 2011 14:46 WIB

Sepuluh menit sebelum mendarat, saya terkejut mendengar akan mendarat di Bandara Depati Amir, Pangkalpinang. Perasaan bangga dan sedih menyelimuti hati, begitu besarnya penghargaan atas nama Bandara Depati Amir. Padahal tulang belulangnya kini terbaring di Kuburan Kota Kupang.

Perjuangan Depati Amir

Amir, sebagai putera sulung Depati Bahren, diangkat Belanda menjadi Depati pada tahun 1830. Kurang dari setahun menjabat, Depati Amir meletakkan jabatannya, walau pun tetap dianggap dan seterusnya disebut Depati oleh masyarakat Bangka. Sepeninggal Depati Bahren pada tahun 1848, Amir menuntut agar tunjangan yang diberikan Belanda dilanjutkan kepadanya.

Keengganan Belanda memenuhi permintaan tersebut menyulut pemberontakan Amir, karena itu Belanda berupaya menangkapnya. Pada bulan Desember 1848 Amir berhasil lolos, tetapi puteranya Baidin, ibunya Dakim, saudara perempuannya Ipah dan empat pengikutnya berhasil ditangkap keesokan harinya. Sejak itu, Amir masuk hutan dan melakukan perlawanan terhadap Belanda yang menimbulkan ketegangan di Pulau Bangka. Sebagian besar rakyat Bangka memihak kepada Depati Amir, termasuk bantuan dari beberapa orang Cina yang membeli senjata dari Singapura. Dalam melancarkan serangan, Depati Amir bermarkas di kaki gunung Maras dengan siasat perang gerilya.

Menghadapi pemberontakan ini, pada bulan April 1850 didatangkan dari Palembang Kompi ke-4, Batalion ke-1, dengan kekuatan 4 perwira dan 143 bintara dipimpin Kapten J.H. Doorschoot. Karena makin memburuknya keamanan selama pertengahan tahun 1850 maka dikirim komisaris H.J.

Severijn Haesebroek untuk berunding dengan Amir. Namun perundingan gagal karena tidak dipenuhi persyaratan agar membawa anak, Ibu, saudara perempuan dan pengikut Amir yang ditawan. Bantuan kedua, didatangkan dalam bulan September 1850 dengan kapal uap Bromo dan Tjipanas dipimpin Kapten Buys. Bantuan ketiga yang dipimpin Kapten Blommenstein didatangkan lagi dan ditempatkan di sekitar Sungailiat, Pangkalpinang dan Belinyu, terutama untuk melindungi parit-parit timah.

Depati Amir berhasil memenangi beberapa pertempuran dengan Belanda. Dalam suatu peristiwa, tentara Belanda dijebak saat berada di atas titian kayu yang menghubungi dua tepi jurang antara kampung Nibung dan Gambul. Juga tercatat serangan ke kampung Ampang yang dipimpin oleh Ake Tjing, adik Amir, dibantu oleh Mandadi, menantu Demang Suramenggala.

Penangkapan Depati Amir

Setelah dua tahun berjuang, kekuatan Depati Amir berkurang karena pengikutnya terdiri dari rakyat biasa yang secara bertahap pulang ke kampungnya untuk berladang. Suplai senjata dan amunisi pun makin berkurang akibat daerah sekitar pantai dijaga ketat tentara Belanda. Keadaan ini membatasi gerakan Amir hanya di sekitar wilayah yang masih ada pangan, sehingga beberapa kali Amir nyaris tertangkap.

Akhirnya, dalam kondisi sakit, Depati Amir ditangkap pada awal Januari 1851 dan dibawa ke markas militer Belanda di Bakam pada tanggal 7 Januari. Pada tanggal 16 Januari 1851 ia dan saudaranya Ake Tjing dibawa ke Belinyu kemudian ke Mentok dengan kapal Onrust. Pada tanggal 28 Februari 1851 Depati Amir dan Ake Tjing diberangkatkan ke Kupang - Pulau Timor. Bersamanya, ikut berangkat Ibunya Dakim, isterinya Janur, anaknya Baudin, saudaranya yang lain (Djidah, Ipah dan Senah), ibu tirinya Lindan, saudara tirinya Kapidin, iparnya Dandip dan pembantunya Mia.

Antara Pulau Bangka dan Kupang
Sejak diasingkan ke Kupang, terputuslah hubungan dengan Pulau Bangka sampai meninggalnya Depati Amir tahun 1885 dan saudaranya Ake Tjing tahun 1890. Tidak banyak catatan mengenai aktifitas Depati Amir di Pulau Timor, kecuali beliau pernah turut membantu program vaksinasi massal yang diadakan Belanda untuk masyarakat Kota Kupang. Saat ini terdapat turunan generasi ke-6 dan 7, menjadi mayoritas penduduk muslim di Kota Kupang.

Halaman12
Editor: dedypurwadi
Sumber: bangkapos.com
KOMENTAR ANDA

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas