Selasa, 21 April 2026

Pembangunan PLTN Ditunda

Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama di Indonesia diisyaratkan ditunda. Penundaan dilakukan karena Indonesia

Laporan Wartawan Bangka Pos, Teddy Malaka

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama di Indonesia diisyaratkan ditunda. Penundaan dilakukan karena Indonesia harus memanfaatkan energi terbarukan lainnya sebelum menggunakan PLTN sebagai opsi terakhir pilihan.

Team Leader kampanye iklim dan energi Greenpeace Arif Fiyanto menyatakan, Indonesia telah memilih kalau PLTN akan ditunda. Lagkah itu menurutnya keputusan bijak, karena penundaan PLTN adalah keputusan tepat.

"Kita akan merayakan keputusan pemerintah menunda pembangunan PLTN pertama di Indonesia. Kita akan lakukan syukuran dalam bentuk kampanye Greenpeace bersama Walhi dengan masyarakat Bangka," kata Arif dihubungi bangkapos.com, Jumat (11/11).

Perayaan penundaaan pembangunan PLTN Bangka itu akan dilakukan di Taman Merdeka Pangkalpinang, Minggu (13/10/2011), Pelaksanaan akan dilakukan mulau Pukul sembilan pagi.

"Kita akan memberiakn informasi secara utuh kepada masyarakat tentang PLTN. Kalau selama ini pemerintah dengan jelas telah memutuskan untuk menunda PLTN dan harus memberdayakan sumber energi terbarukan," katanya.

Pemerintah Indonesia melalui Menteri Riset dan Tekhnologi Gusti Muhamad Hatta dan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Widjajono Partowidagdo mengisyaratkan penundaan tersebut. "Bahkan presiden Susilo Bambang Yudhoyono Juni lalu setelah berkunjung ke Fukushima mengatakan kalau PLTN menjadi opsi terakhir," kata Arif.

Dilansir green radio (20/10) Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhamad Hatta menegaskan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)  hanya akan menjadi pilihan terakhir untuk pemenuhan energi di Indonesia.

Gusti mengatakan, meski ada beberapa daerah yang menawarkan diri untuk penempatan PLTN, namun perlu dikaji mengenai dampak yang dapat ditimbulkan. Selain itu, masih banyak pilihan yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai Indonesia belum memungkinkan mengembangkan energi nuklir untuk kebutuhan listrik masyarakat. Kurangnya fungsi pengawasan bisa menimbulkan kebocoran nuklir.

Demikian disampaikan Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo saat ditemui di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (11/11/2011) dilansir detik finance.

Katanya, Indonesia bisa mengembangkan nuklir jika bekerjasama dengan Singapura. Sehingga pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir bisa dilakukan di pulau Indonesia yang dekat dengan Singapura.

dirinya menekankan agar Indonesia lebih baik mengembangkan penggunaan energi yang sudah ada terlbih dahulu. Seperti penggunaan energi panas bumi, gas, CBM (Coal Bed Methane/Gas Batubara), angin, air, dan sebagainya.

"Kita pakai energi yang ada dulu saja, ngapain pakai energi yang nggak ada. Nuklir itu mahal, jangan dipikir murah. Itu lebih mahal dari batubara, panas bumi, dan gas. Jadi pakai yang ada dulu saja. Siapa tahu energi matahari dan angin lebih murah dari batubara, jadi ngapain mikirin nuklir lagi kalau seperti itu," tukas Widjajono.

Dirinya mengakui, emisi dari pembangkit listrik tenaga nuklir memang terbilang rendah dibandingkan sumber energi lain. Namun jika mengalami kerusakan, risikonya sangat besar. "Kalau radiasinya 'njeblok' ya sudah bukan main," tanggapnya.

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved