Pembangunan PLTN Ditunda
Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama di Indonesia diisyaratkan ditunda. Penundaan dilakukan karena Indonesia
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pembangunan
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama di Indonesia
diisyaratkan ditunda. Penundaan dilakukan karena Indonesia harus
memanfaatkan energi terbarukan lainnya sebelum menggunakan PLTN sebagai
opsi terakhir pilihan.
Team Leader kampanye iklim dan energi Greenpeace
Arif Fiyanto menyatakan, Indonesia telah memilih kalau PLTN akan ditunda. Lagkah itu
menurutnya keputusan bijak, karena penundaan PLTN adalah keputusan
tepat.
"Kita akan merayakan keputusan pemerintah menunda
pembangunan PLTN pertama di Indonesia. Kita akan lakukan syukuran dalam
bentuk kampanye Greenpeace bersama Walhi dengan masyarakat Bangka," kata
Arif dihubungi bangkapos.com, Jumat (11/11).
Perayaan penundaaan pembangunan PLTN Bangka itu akan dilakukan di
Taman Merdeka Pangkalpinang, Minggu (13/10/2011), Pelaksanaan akan
dilakukan mulau Pukul sembilan pagi.
"Kita akan memberiakn
informasi secara utuh kepada masyarakat tentang PLTN. Kalau selama ini
pemerintah dengan jelas telah memutuskan untuk menunda PLTN dan harus
memberdayakan sumber energi terbarukan," katanya.
Pemerintah Indonesia melalui Menteri Riset dan Tekhnologi Gusti
Muhamad Hatta dan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
Widjajono Partowidagdo mengisyaratkan penundaan tersebut. "Bahkan
presiden Susilo Bambang Yudhoyono Juni lalu setelah berkunjung ke
Fukushima mengatakan kalau PLTN menjadi opsi terakhir," kata Arif.
Dilansir green radio (20/10) Menteri Riset dan Teknologi Gusti
Muhamad Hatta menegaskan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) hanya
akan menjadi pilihan terakhir untuk pemenuhan energi di Indonesia.
Gusti
mengatakan, meski ada beberapa daerah yang menawarkan diri untuk
penempatan PLTN, namun perlu dikaji mengenai dampak yang dapat
ditimbulkan. Selain itu, masih banyak pilihan yang lebih baik untuk
memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai Indonesia
belum memungkinkan mengembangkan energi nuklir untuk kebutuhan listrik
masyarakat. Kurangnya fungsi pengawasan bisa menimbulkan kebocoran
nuklir.
Demikian disampaikan Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo saat ditemui di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (11/11/2011) dilansir detik finance.
Katanya, Indonesia bisa
mengembangkan nuklir jika bekerjasama dengan Singapura. Sehingga
pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir bisa dilakukan di pulau
Indonesia yang dekat dengan Singapura.
dirinya menekankan agar Indonesia lebih baik mengembangkan
penggunaan energi yang sudah ada terlbih dahulu. Seperti penggunaan
energi panas bumi, gas, CBM (Coal Bed Methane/Gas Batubara), angin, air,
dan sebagainya.
"Kita pakai energi yang ada dulu saja, ngapain pakai energi yang
nggak ada. Nuklir itu mahal, jangan dipikir murah. Itu lebih mahal dari
batubara, panas bumi, dan gas. Jadi pakai yang ada dulu saja. Siapa tahu
energi matahari dan angin lebih murah dari batubara, jadi ngapain
mikirin nuklir lagi kalau seperti itu," tukas Widjajono.
Dirinya mengakui, emisi dari pembangkit listrik tenaga nuklir memang
terbilang rendah dibandingkan sumber energi lain. Namun jika mengalami
kerusakan, risikonya sangat besar. "Kalau radiasinya 'njeblok' ya sudah
bukan main," tanggapnya.
