Kapal Pinisi Terbesar se Harga Rp 4 Miliar Diluncurkan

Sebuah kapal pinisi dari Ara dan Tanjung Bira, Bulukumba, Sulawesi Selatan, telah melakukan peluncuran melalui

Kapal Pinisi Terbesar se Harga Rp 4 Miliar Diluncurkan
Indonesia.travel/ANGKE-HIM
kapal phinisi di tanjung bira

Masyarakat Tanjung Bira di Bulukumba sendiri memiliki tradisi pembuatan perahu dan kapal laut sejak ratusan tahun lalu. Kapal pinisi bukannya tak terkenal karena seluruh penjuru negeri, bahkan dunia, telah mengetahui bahtera ciri khas Nusantara tersebut.

Jenis perahu tradisional dari Bulukumba telah menjadi trademark tradisi bahari nenek moyang Indonesia. Oleh karena itu, sebuah upaya mempertahankan identitas masyarakat bahari yang kreatif dan ulet.

Prosesi penggeseran kapal pinisi dikerjakan 100 orang dan dihadiri Wakil Bupati Bulukumba Samsuddin, pejabat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta para stafnya. Selain itu, seluruh tenaga pekerja pembuat kapal yang berbahan kayu besi itu hadir untuk prosesi adat.

Dari fase penggeseran badan kapal sejak malamnya, perlu sekitar 3 minggu lagi hingga seluruh badan kapal memasuki air dan akan ditarik feri hingga Semarang. Pembuatan badan kapal pinisi tersebut telah memakan waktu 9 bulan.

Setelah selesainya badan kapal, proses finishing dan interiornya akan dilakukan di Semarang. Kapal pinisi tersebut memakan biaya pembuatan Rp 4 miliar untuk badannya saja yang memiliki panjang 50 meter dan bagian terlebar hampir 10 meter.

Finishing di Semarang memakan biaya tiga kali lipat biaya untuk pembuatan badannya. Niat Pemerintah Kabupaten Bulukumba melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yaitu ingin mempertahankan Tanjung Bira, Bulukumba, ini sebagai tempat pembuatan pinisi.

"Ini sebuah momen penting karena kapal pinisi pesanan Polandia ini merupakan yang terbesar yang pernah dibuat dalam sejarah Bulukumba," jelas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nazaruddin.

Kapal ini dibuat di Tanjung Bira sebagai tahap awal dari keseluruhan proses pembuatan. Di sinilah konstruksi badan kapal disiapkan karena memang ada ahlinya, yaitu Haji Muslim Baso (66), dari Desa Ara, Bonto Bahari.

"Ancaman yang memprihatinkan bagi kami ialah para pembuat pinisi ini berpindah tempat ke provinsi lain karena bahan baku yang lebih mudah. Jadi ini persoalan nasional dan harus dibicarakan," ungkap Nazaruddin, selagi menerangkan keindahan Pantai Pasir Putih, Tanjung Bira.

Bila hal ini dibiarkan maka Tanjung Bira bisa terancam hilang dari peta wisata sejarah dan budaya Indonesia. Haji M Baso sudah membangun sekitar 200 kapal dan perahu dari berbagai ukuran dan jenis.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: asmadi
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help