Flournoy: Kami tak Memandang China Sebagai Musuh.
Bangkapos.com - Jumat, 9 Desember 2011 00:50 WIB
Shutterstock
Ilustrasi
Berita Terkait
BANGKAPOS.COM, BEIJING - AS berusaha meyakinkan China bahwa peningkatan kerja sama militer antara AS dan Australia, termasuk penempatan 2.500 prajurit Marinir AS di Darwin, Australia, tidak bertujuan untuk membatasi ruang gerak China.
"Kami meyakinkan Jenderal Ma dan delegasinya bahwa AS tidak bertujuan membatasi China. Kami tidak memandang China sebagai musuh. Bahwa perubahan sikap ini terutama adalah dalam rangka memperkuat aliansi kami dengan Australia," tutur Asisten Menteri Pertahanan AS bidang Kebijakan, Michele Flournoy di Kedutaan Besar AS di Beijing, Kamis (8/12/2011), sehari setelah ia memimpin delegasi AS dalam pembicaraan kerja sama pertahanan dengan Deputi Panglima Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China, Jenderal Ma Xiaotian.
Dalam kunjungan ke Asia Pasifik bulan lalu, Presiden AS Barack Obama menekankan bahwa kekuatan AS akan terus berada di kawasan tersebut dan mengumumkan kesepakatan penempatan pasukan marinir, kapal perang, dan pesawat tempur AS di pangkalan militer Australia di Darwin.
Kementerian Pertahanan China pekan lalu mengomentari keputusan AS itu, sebagai bukti masih adanya "mentalitas Perang Dingin" di pihak AS dan sekutu-sekutunya, yang bisa menggerus rasa saling percaya antar negara-negara di kawasan Asia Pasifik.
Banyak pihak memandang keputusan AS itu berkaitan dengan pertumbuhan kekuatan militer China yang makin besar beberapa tahun belakangan. Pertumbuhan militer dan sikap China yang makin agresif dalam beberapa perselisihan teritorial dengan tetangga-tetangganya, membuat negara-negara, seperti Jepang dan Korea Selatan, meminta jaminan AS untuk tetap menjadi penyeimbang kekuatan di kawasan ini.
Flournoy membantah hal itu, dan mengatakan, rencana Darwin itu benar-benar tidak ada kaitannya dengan China. "Ini benar-benar bukan soal China. Ini tentang Australia dan dalam rangka menjamin kami tetap ada di kawasan ini dengan cara yang relevan dalam menghadapi berbagai tantangan non-tradisional," tandas dia.
Flournoy menambahkan, dalam pembicaraan dengan delegasi PLA yang berlangsung "positif" dan "sangat konstruktif", AS juga meyakinkan China bahwa misi penerbangan pesawat pengintai di dekat wilayah pantai China adalah hal yang "rutin".
"Saya meyakinkan pihak China bahwa kami menjalankan operasi (pengintaian) ini secara global, benar-benar di seluruh wilayah di dunia, termasuk di dekat garis pantai (wilayah) negara-negara sahabat dan sekutu AS," ujar Flournoy.
Juli lalu, China menuntut AS menghentikan penerbangan pesawat mata-matanya di dekat wilayah China. China bahkan sempat menerbangkan dua pesawat tempur Sukhoi Su-27 untuk mencegat pesawat U-2 milik AS yang terbang di dekat wilayah mereka, akhir Juni.
Menurut dia, AS dan China berharap bisa meneruskan kembali pertukaran staf militer dan latihan militer bersama untuk melawan bajak laut di Teluk Aden pada 2012. Kerja sama militer ini terhenti setelah AS menyetujui penjualan senjata kepada Taiwan tahun lalu.
"Kami meyakinkan Jenderal Ma dan delegasinya bahwa AS tidak bertujuan membatasi China. Kami tidak memandang China sebagai musuh. Bahwa perubahan sikap ini terutama adalah dalam rangka memperkuat aliansi kami dengan Australia," tutur Asisten Menteri Pertahanan AS bidang Kebijakan, Michele Flournoy di Kedutaan Besar AS di Beijing, Kamis (8/12/2011), sehari setelah ia memimpin delegasi AS dalam pembicaraan kerja sama pertahanan dengan Deputi Panglima Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China, Jenderal Ma Xiaotian.
Dalam kunjungan ke Asia Pasifik bulan lalu, Presiden AS Barack Obama menekankan bahwa kekuatan AS akan terus berada di kawasan tersebut dan mengumumkan kesepakatan penempatan pasukan marinir, kapal perang, dan pesawat tempur AS di pangkalan militer Australia di Darwin.
Kementerian Pertahanan China pekan lalu mengomentari keputusan AS itu, sebagai bukti masih adanya "mentalitas Perang Dingin" di pihak AS dan sekutu-sekutunya, yang bisa menggerus rasa saling percaya antar negara-negara di kawasan Asia Pasifik.
Banyak pihak memandang keputusan AS itu berkaitan dengan pertumbuhan kekuatan militer China yang makin besar beberapa tahun belakangan. Pertumbuhan militer dan sikap China yang makin agresif dalam beberapa perselisihan teritorial dengan tetangga-tetangganya, membuat negara-negara, seperti Jepang dan Korea Selatan, meminta jaminan AS untuk tetap menjadi penyeimbang kekuatan di kawasan ini.
Flournoy membantah hal itu, dan mengatakan, rencana Darwin itu benar-benar tidak ada kaitannya dengan China. "Ini benar-benar bukan soal China. Ini tentang Australia dan dalam rangka menjamin kami tetap ada di kawasan ini dengan cara yang relevan dalam menghadapi berbagai tantangan non-tradisional," tandas dia.
Flournoy menambahkan, dalam pembicaraan dengan delegasi PLA yang berlangsung "positif" dan "sangat konstruktif", AS juga meyakinkan China bahwa misi penerbangan pesawat pengintai di dekat wilayah pantai China adalah hal yang "rutin".
"Saya meyakinkan pihak China bahwa kami menjalankan operasi (pengintaian) ini secara global, benar-benar di seluruh wilayah di dunia, termasuk di dekat garis pantai (wilayah) negara-negara sahabat dan sekutu AS," ujar Flournoy.
Juli lalu, China menuntut AS menghentikan penerbangan pesawat mata-matanya di dekat wilayah China. China bahkan sempat menerbangkan dua pesawat tempur Sukhoi Su-27 untuk mencegat pesawat U-2 milik AS yang terbang di dekat wilayah mereka, akhir Juni.
Menurut dia, AS dan China berharap bisa meneruskan kembali pertukaran staf militer dan latihan militer bersama untuk melawan bajak laut di Teluk Aden pada 2012. Kerja sama militer ini terhenti setelah AS menyetujui penjualan senjata kepada Taiwan tahun lalu.
Editor : asmadi
Sumber : Kompas.com
Rekomendasi Facebook
