A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Disfungsi Peran Humas di Sekolah - Bangka Pos
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 20 April 2014
Bangka Pos
Home » Kolom » Opini

Disfungsi Peran Humas di Sekolah

Jumat, 16 Desember 2011 09:05 WIB
Oleh  Bismi M Pd
Guru SMA Negeri 1 Manggar

PERAN ideal hubungan masyarakat (humas)  di sekolah dalam kenyataan sehari-hari sering  mengalami disfungsional atau tidak sesuai dengan fungsinya. Banyak faktor yang membuat peran humas di sekolah kurang maksimal atau boleh dikatakan tidak berdaya guna.  Berdasarkan pengalaman penulis menjadi wakasek humas, peran humas di sekolah hanya terbatas pada kerja-kerja yang bersifat teknis administratif, misalnya menjadi moderator atau notulen rapat sekolah. Tugas lainnya paling mengedarkan undangan rapat atau acara arisan sekolah dan daftar hadir ketika upacara. Sesekali, menggantikan kepala sekolah memenuhi undangan untuk mengikuti rapat-rapat atau pertemuan dengan dinas/instansi kalau kepala sekolah berhalangan Sehingga peran wakasek humas terkesan ‘kurang’ greget. Bahkan dengan setengah bercanda, banyak rekan guru sering bercanda mengatakan  wakasek humas sebagai wakasek yang ‘aman’, karena kerjanya tidak terlalu banyak, tetapi menerima tunjangan sama dengan wakasek-wakasek lainnya.  

Secara umum ada beberapa faktor yang mempengaruhi ketidakberdayaan humas di sekolah dalam menjalankan tugasnya, diantaranya tidak tahu tugas dan fungsinya, yang bersangkutan tidak memiliki kompetensi (keahlian), kewenangannya dibatasi atau tumpang tindih, tidak memiliki anggaran dan terbatasnya tenaga humas. Tidak sedikit sekolah yang memiliki wakasek bidang humas tidak memahami tugas pokoknya. Wilayah tugas Humas lebih kepada tugas-tugas administratif. Ada juga wakasek humas mengerti tupoksinya tetapi dia tidak memiliki kompetensi di bidangnya. Karena dia ditempatkan sebagai humas sebagai pelengkap, yang penting ada orangnya. Akibatnya humas tidak memiliki program kerja yang jelas atau ada program kerja tetapi tidak dapat dilaksanakan. Mau melakukan tugas dan fungsinya namun dirinya berat untuk melaksanakannya.

Disamping pelaksanaan tugas humas tanpa disadari kurang diberi kewenangan. Banyak tamu berkunjung ke sekolah baik untuk keperluan promo produk atau konfirmasi informasi sekolah kerap langsung ke kepala sekolah. Begitupun jika ada acara-acara sosialisasi perguruan tinggi di sekolah selalu ditangani oleh wakasek kesiswaan atau kurikulum sehingga terkesan tumpah tindih. Terlebih humas tidak memiliki anggaran mandiri sehingga sulit untuk membiayai program public relationship. Padahal untuk mendukung tugas Humas harus ada pengadaan barang seperti kamera, handycame, alat tulis kantor, komputer, internet dan lainnya termasuk tenaga staf yang membantu dokumentasi dan distribusi informasi. 

Humas Berfungsi Internal dan Eksternal

Peran humas (hubungan masyarakat) di sekolah sebenarnya bisa membantu menetralisir persoalan sekolah. Sesuai tugasnya, humas memiliki peran ganda dalam kinerjanya yaitu fungsi internal dan eksternal. Menurut M. Linggar Anggoro dalam bukunya Teori dan Profesi Kehumasan (2001), kegiatan Humas internal lebih kepada membangun komunikasi dan distribusi informasi ke dalam personal di lembaganya. Sementara fungsi eksternal humas lebih bersentuhan dengan pihak luar, khususnya yang berkompeten. Departemen Pendidikan Nasional pernah mengeluarkan job description humas di sekolah. Tugas humas eksternal seperti membina, mengatur dan mengembangkan hubungan dengan komite sekolah, membina pengembangan antara sekolah dengan lembaga pemerintahan, dunia usaha dan lembaga sosial lainnya. Selain itu Humas untuk menjalin komunikasi dengan pihak eksternal sekolah.

Tugas humas sebagai alat komunikasi internal lebih kepada membangun komunikasi dan distribusi informasi ke dalampersonal di lembaganya. Diantaranya, mengkomunikasikan dan memfasilitasi disposisi Kepala Sekolah yang berhubungan dengan manajemen sekolah, mengkomunikasikan setiap aspirasi dari para guru, karyawan, maupun
siswa kepada pihak manajemen sekolah, menginformasikan kebijakan yang ditetapkan oleh manajemen sekolah, menginventarisir potensi sumber daya manusia yang ada sesuai dengan kompetensi profesi dan kompetensi umum untuk mengikuti seminar atau pelatihan dalam rangka peningkatan kualitas,menyelenggarakan rekreasi guru dan karyawan yang bertujuan untuk refreshing, agar terhindar dari jebakan kejenuhan rutinitas kerja.
Sementara tugas internal humas lebih kepada tugas teknis, seperti , memfasilitasi kegiatan komite  sekolah, menjalin komunikasi dengan para orang tua siswa, menjalin hubungan dengan sekolah-sekolah yang lain, memperluas hubungan dengan sekolah-sekolah dalam rangka mempererat kerja sama antar sekolah, Menjalin kerjasama dengan instansi/lembaga lain yang terkait dengan pendidikan, mengembangkan hubungan yang harmonis dengan dinas-dinas terkait terutama lembaga struktural dinas pendidikan, baik tingkat kabupaten/kota maupun propinsi, melakukan komunikasi secara berkala dengan lembaga-lembaga media, wartawan, dalam skala danasional. Baik ke dalam maupun ke luar, humas memiliki fungsi yang sama; bagaimana membangun komunikasi dan persepsi positif kepada stakeholders pendidikan dari negatif menjadi positif. Semula dari sikap antipati menjadi simpati, sikap kecurigaan berubah penerimaan, dari masa bodoh bergeser pada minat dan dari sikap lalai menjadi pengertian. Tentu saja bentuk proses transfer sikap tersebut bukan pilihan utama. Artinya Humas akan bekerja ketika persoalan sudah berkembang. Bukankah mencegah itu lebih baik daripada mengobati?.


Tugas yang paling berat dihadapi humas sekolah adalah fungsi kerja eksternalnya. Disini kerja humas tidak bisa dibatasi oleh ruang dan waktu. Kapan pun dan dimanapun jika ada yang perlu dijelaskan, diklarifikasi hingga dikonfrontir seputar sekolah, Humas harus siap sedia. Kerja eksternal ini Humas akan bersentuhan banyak orang, tidak hanya orangtua siswa atau instansi pemerintahan terkait dan perusahaan swasta tetapi juga masyakarat luas, entah sebagai LSM, politisi atau wartawan yang mengaku peduli dengan kemajuan dunia pendidikan.

Persoalan sekolah selalu menarik perhatian banyak orang sepanjang hayat. Ini mengingat sekolah merupakan "pabrik manusia" yang akan menentukan arah peradaban manusia di masa mendatang. Maju mundurnya, baik buruknya sebuah bangsa dipengaruhi juga oleh manusia hasil produk sekolah. Maka ketika banyak persoalan yang mendera lembaga ini banyak pihak, mulai pemerintah, masyarakat, organisasi sosial, partai politik dan wartawan, lebih-lebih orang tua siswa. Sisi suram sekolah tersebut sungguh memperburuk wajah dunia pendidikan kita. Seiring dengan peningkatan anggaran pendidikan pemerintah. Tentu para insan pendidikan negeri ini sepakat, sekolah masih dijadikan simbol lembaga yang mulia dalam mencerdaskan anak bangsa, melahirkan generasi penerus pembangunan. Kendati beragam informasi negatif yang mencuat tidak bisa divonis salah dan benar oleh satu pihak tanpa melihat substansi persoalan yang terjadi.

Masalah sekolah menjadi buah bibir masyarakat, disorot media massa, diperdebatkan di berbagai forum hingga diprotes langsung oleh orangtua siswa, politisi dan LSM. Kasus yang hangat terjadi di dunia pendidikan Bangka Belitung yakni beredarnya video mesum pelajar . Belum lagi kekerasan yang melibatkan guru dan siswa, termasuk kasus pelecehan seksual, rokok, narkoba dan miras yang pasang surut meramaikan peredaran berita di media massa. Keluhan rutin dari orangtua adalah masih ada pungutan dana di sekolah-sekolah, apalagi hampir semua sekolah di Bangka Belitung menerapkan pendidikan gratis . Terkadang ada pihak-pihak yang memanfaatkan situasi ini misalnya dengan mengirim SMS pedulu melalui media massa atau SMS langsung ke kepala daerah (bupati, walikota atau gubernur) yang mengatasnamakan orang tua siswa. 

Inilah yang menjadi tantangan serius bagi sekolah dalam menjaga citranya sebagai lembaga pendidikan yang membawa misi kenabian: menyeru, mengajarkan dan mengajak manusia ke jalan yang benar. Sayangnya tidak sedikit sekolah yang kurang peduli dengan pentingnya membangun citra positif lembaganya, terlebih bagi sekolah negeri. Toh kendati citranya kurang baik siswa baru tetap mendatangi sekolahnya, pikir mereka. Sekalipun ada upaya biasanya ketika persoalan itu sudah mencuat ke permukaan.

Potret Humas sekolah yang kurang greget tersebut semoga ke depan mulai memudar. Peran humas dari waktu ke waktu akan semakin penting, seiring kesadaran masyarakat akan hak-haknya, termasuk hak kebebasan berpendapat dan hak memperoleh informasi. Lebih-lebih semakin meningkatnya anggaran pendidikan yang melahirkan kebijakan sekolah gratis membuat kontrol masyarakat semakin tajam. Jika tidak disikapi dengan serius maka sekolah akan menjadi bulan-bulanan pihak yang tidak bertanggung jawab. 
Penulis: wahyu
Editor: emil
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
86021 articles 12 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
© 2014 TRIBUNnews.com All Right Reserved About Us Privacy Policy Help Terms of Use Redaksi Info iklan Contact Us Lowongan
Atas