Jumat, 6 Maret 2015
Home » Kolom » Opini

Disfungsi Peran Humas di Sekolah

Senin, 19 Desember 2011 08:40 WIB

"humas memiliki fungsi yang sama; bagaimana membangun komunikasi dan persepsi positif kepada stakeholders pendidikan dari negatif menjadi positif"

PERAN ideal hubungan masyarakat (humas)  di sekolah dalam kenyataan sehari-hari sering  mengalami disfungsi atau tidak sesuai dengan fungsinya. Banyak faktor yang membuat peran humas di sekolah kurang maksimal atau boleh dikatakan tidak berdaya guna. 

Berdasarkan pengalaman penulis menjadi wakasek humas, peran humas di sekolah hanya terbatas pada kerja-kerja yang bersifat teknis administratif, misalnya menjadi moderator atau notulen rapat sekolah. Tugas lainnya paling mengedarkan undangan rapat atau acara arisan sekolah dan daftar hadir ketika upacara. Sesekali, menggantikan kepala sekolah memenuhi undangan untuk mengikuti rapat-rapat atau pertemuan dengan dinas/instansi kalau kepala sekolah berhalangan, sehingga peran wakasek humas terkesan kurang greget. Bahkan dengan setengah bercanda, banyak rekan guru sering bercanda mengatakan  wakasek humas sebagai wakasek yang aman, karena kerjanya tidak terlalu banyak, tetapi menerima tunjangan sama dengan wakasek-wakasek lainnya.  
Secara umum ada beberapa faktor yang mempengaruhi ketidakberdayaan humas di sekolah dalam menjalankan tugasnya, diantaranya tidak tahu tugas dan fungsinya, yang bersangkutan tidak memiliki kompetensi (keahlian), kewenangannya dibatasi atau tumpang tindih, tidak memiliki anggaran dan terbatasnya tenaga humas. Tidak sedikit sekolah yang memiliki wakasek bidang humas tidak memahami tugas pokoknya.

Wilayah tugas Humas lebih kepada tugas-tugas administratif. Ada juga wakasek humas mengerti tupoksinya tetapi dia tidak memiliki kompetensi di bidangnya. Karena dia ditempatkan sebagai humas sebagai pelengkap, yang penting ada orangnya. Akibatnya humas tidak memiliki program kerja yang jelas atau ada program kerja tetapi tidak dapat dilaksanakan. Mau melakukan tugas dan fungsinya namun dirinya berat untuk melaksanakannya.

Disamping pelaksanaan tugas humas tanpa disadari kurang diberi kewenangan. Banyak tamu berkunjung ke sekolah baik untuk keperluan promo produk atau konfirmasi informasi sekolah kerap langsung ke kepala sekolah. Begitupun jika ada acara-acara sosialisasi perguruan tinggi di sekolah selalu ditangani oleh wakasek kesiswaan atau kurikulum sehingga terkesan tumpang tindih. Terlebih humas tidak memiliki anggaran mandiri sehingga sulit untuk membiayai program public relationship. Padahal untuk mendukung tugas Humas harus ada pengadaan barang seperti kamera, handycame, alat tulis kantor, komputer, internet dan lainnya termasuk tenaga staf yang membantu dokumentasi dan distribusi informasi.

Humas Berfungsi Internal dan Eksternal
Peran humas di sekolah sebenarnya bisa membantu menetralisir persoalan sekolah. Sesuai tugasnya, humas memiliki peran ganda dalam kinerjanya yaitu fungsi internal dan eksternal. Menurut M. Linggar Anggoro dalam bukunya Teori dan Profesi Kehumasan (2001), kegiatan Humas internal lebih kepada membangun komunikasi dan distribusi informasi ke dalam personal di lembaganya.

Sementara fungsi eksternal humas lebih bersentuhan dengan pihak luar, khususnya yang berkompeten. Departemen Pendidikan Nasional pernah mengeluarkan job description humas di sekolah. Tugas humas eksternal seperti membina, mengatur dan mengembangkan hubungan dengan komite sekolah, membina pengembangan antara sekolah dengan lembaga pemerintahan, dunia usaha dan lembaga sosial lainnya. Selain itu Humas untuk menjalin komunikasi dengan pihak eksternal sekolah.

Halaman12
Editor: dedypurwadi
Sumber: bangkapos.com
KOMENTAR

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas