Timah ICDX Lebih Mahal Daripada LME
Indonesia mulai berperan menentukan harga timah internasional. Setelah berkali-kali tertunda
Penulis: M Ismunadi |
Laporan Wartawan Bangka Pos, M Ismunadi
BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Indonesia mulai berperan menentukan harga timah internasional. Setelah berkali-kali tertunda, transaksi perdana perdagangan timah berkode INATIN akhirnya dilakukan secara fisik di Bursa Komoditi Derivatif Indonesia atau Indonesia Commodity Derivative Exchange (BKDI/ICDX) Jakarta, Rabu (1/2/2012).
Perdagangan perdana INATIN oleh ICDX bersama Komite Timah (INATIN) ini mencatat hasil yang positif. Dibuka dengan harga sebesar USD 24.640 per metrik ton, akhirnya ditutup dengan harga USD 24.500/MT dengan traksaksi perdagangan yang terjadi sebanyak dua lot.
Harga penutupan di ICDX ini sedikit lebih tinggi dibanding harga bursa timah di London Metal Exchange (LME) pada saat penutupan hari Selasa (31/1/2012) sebesar USD 24.290/MT.
Tercatat sembilan perusahaan menjadi anggota atau peserta transaksi yaitu PT Timah Tbk, 3H CO Ltd, Gold Matrix Resources Pte Ltd, Purple Products Pvt Ltd, PT Tambang Timah, PT Mitra Stania Prima, PT Comexindo International, PT Timah Industri dan PT Refined Banka Tin.
"Harga penutupan ini menjadi awal yang baik bagi INATIN dan Industri Timah Indonesia," kata Sekretaris Perusahaan PT Timah Tbk Abrun Abubakar dalam siaran pers yang diterima bangkapos.com, Selasa (1/2/2012).
Penutupan harga timah di perdagangan perdana INATIN yang sedikit lebih tinggi dari LME ini mengindikasikan bahwa bursa timah di BKDI mampu mendongkrak harga timah dunia. Perdagangan timah di BKDI ini merupakan wujud kedaulatan Indonesia, yang mengubah posisinya dari price taker seperti yang terjadi selama ini menjadi price maker.
"Kita harapkan
seluruh pelaku usaha timah di Indonesia dapat mengacu ke BKDI. Jika
semua pihak bersatu dengan tata
kelola pertambangan dan tata niaga timah yang baik, dapat dipastikan
harga timah tidak lagi terpuruk seperti yang terjadi beberapa waktu yang
lalu," pungkas Abrun.