Abhisit Temui Aung San Suu Kyi
Bangkapos.com - Minggu, 19 Februari 2012 00:35 WIB

AFP/SOE THAN WIN
Mantan Perdana Menteri Thailand, Abhisit Vejjajiva (2 dari kiri), bertemu tokoh pro-demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi.
Berita Terkait
- The Sukarno Prize Untuk Aung San Suu Kyi
- Suu Kyi: Rayakan Kemenangan dengan Martabat
- Partai Suu Kyi Memimpin Sementara di Beberapa TPS
- Hotel dan Kartu GSM Laris Manis di Myanmar
- Merasa Lemah, Aung San Suu Kyi Tinggalkan Kampanye
- Nasib Indonesia di Tangan Laos
- Pemimpin Oposisi Myanmar Calonkan Diri di Parlemen
- Anggota Dewan Buru Gajah Liar
- Myanmar Kini Punya 7 Ekor Gajah Putih
BANGKAPOS.COM, BANGKOK - Pemimpin oposisi dan Partai Demokrat Thailand, Abhisit Vejjajiva, Sabtu (18/2/12) terbang ke Myanmar untuk bertemu dengan tokoh pro-demokrasi Aung San Suu Kyi. Abhisit mengatakan sebelum berangkat ke negara tetangga itu bahwa pertemuan tersebut diatur sejak masa jabatannya sebagai perdana menteri Thailand.
Pertemuan ini bertujuan untuk meningkatkan rekonsiliasi nasional dan pembangunan demokrasi di Myanmar, kata pemimpin Demokrat itu. Dia menambahkan bahwa dirinya akan bertukar pikiran dengan pemenang Hadiah Nobel Perdamaian tersebut meliputi arah perubahan di Myanmar.
Abhisit mencatat bahwa tetangga Thailand itu telah berubah dengan cepat dan fenomena tersebut berdampak pada seluruh wilayah Asia Tenggara. Mantan perdana menteri itu menambahkan bahwa ia berencana untuk menindaklanjuti perkembangan proses demokrasi di Myanmar, serta membantu menempa kerja sama antara kedua negara dan lebih memperkuat Perhimpunan Bangsa Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) di mana Thailand dan Myanmar adalah negara-negara sesama anggota.
Kunjungan pemimpin oposisi itu terjadi setelah Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra bertemu dengan Ketua Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) Aung San Suu Kyi Desember lalu, dan mengatakan dia mendukung proses demokrasi negara tetangga itu. Yingluck memuji semangat dan tekad Suu Kyi yang kuat untuk meningkatkan perkembangan demokrasi di Myanmar secara konstruktif.
Dia mengatakan, Thailand adalah sekutu dan teman dekat Myanmar dan ingin melihat tetangganya itu melanjutkan pembangunan di segala bidang.
Komisaris Uni Eropa untuk Pembangunan Andris Piebalgs Selasa juga menyuarakan dukungan dan dorongan untuk perubahan dan reformasi Myanmar saat ini, dan mengatakan bahwa tindakan tersebut dapat berdampak mengurangi sanksi-sanksi terhadap negara itu.
Ia mengatakan kepada pers sebelum mengakhiri tiga hari kunjungannya ke Myanmar di Yangon, Piebalgs: "tindakan-tindakan akan sepenuhnya ditinjau kembali pada April. Pelaksanaan pemilu sela pada 1 April dan pembebasan para tahanan politik akan mempengaruhi hasilnya."
Dalam pembicaraan konstruktif dengan Presiden U Thein Sein dan perbincangan dengan Ketua DPR U Shwe Mann, Piebalgs mengumumkan paket bantuan baru sebesar 150 juta euro (200 juta dollar AS) untuk dua tahun ke depan, yang katanya hampir dua kali lipat dari bantuan Uni Eropa sejak tahun 1996.
Dana, yang akan menambah dukungan saat ini tersebut, diberikan melalui PBB dan organisasi non-pemerintah sejak tahun 1996, digunakan untuk membiayai proyek-proyek di bidang kesehatan, pendidikan dan mata pencaharian, katanya.
Dia mengungkapkan bahwa bantuan sejak tahun 1996 telah mampu membantu hampir 90.000 orang dalam mengolah tanah dan memiliki akses kepada pangan, membawa enam juta anak-anak ke sekolah atau pelatihan serta mengobati dua juta orang dari penyakit malaria serta 600.000 korban HIV/Aids. Dia juga menyatakan siap meningkatkan bantuan untuk mendorong pembangunan Myanmar dalam beberapa tahun mendatang ketika akses pasar dipulihkan.
Pertemuan ini bertujuan untuk meningkatkan rekonsiliasi nasional dan pembangunan demokrasi di Myanmar, kata pemimpin Demokrat itu. Dia menambahkan bahwa dirinya akan bertukar pikiran dengan pemenang Hadiah Nobel Perdamaian tersebut meliputi arah perubahan di Myanmar.
Abhisit mencatat bahwa tetangga Thailand itu telah berubah dengan cepat dan fenomena tersebut berdampak pada seluruh wilayah Asia Tenggara. Mantan perdana menteri itu menambahkan bahwa ia berencana untuk menindaklanjuti perkembangan proses demokrasi di Myanmar, serta membantu menempa kerja sama antara kedua negara dan lebih memperkuat Perhimpunan Bangsa Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) di mana Thailand dan Myanmar adalah negara-negara sesama anggota.
Kunjungan pemimpin oposisi itu terjadi setelah Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra bertemu dengan Ketua Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) Aung San Suu Kyi Desember lalu, dan mengatakan dia mendukung proses demokrasi negara tetangga itu. Yingluck memuji semangat dan tekad Suu Kyi yang kuat untuk meningkatkan perkembangan demokrasi di Myanmar secara konstruktif.
Dia mengatakan, Thailand adalah sekutu dan teman dekat Myanmar dan ingin melihat tetangganya itu melanjutkan pembangunan di segala bidang.
Komisaris Uni Eropa untuk Pembangunan Andris Piebalgs Selasa juga menyuarakan dukungan dan dorongan untuk perubahan dan reformasi Myanmar saat ini, dan mengatakan bahwa tindakan tersebut dapat berdampak mengurangi sanksi-sanksi terhadap negara itu.
Ia mengatakan kepada pers sebelum mengakhiri tiga hari kunjungannya ke Myanmar di Yangon, Piebalgs: "tindakan-tindakan akan sepenuhnya ditinjau kembali pada April. Pelaksanaan pemilu sela pada 1 April dan pembebasan para tahanan politik akan mempengaruhi hasilnya."
Dalam pembicaraan konstruktif dengan Presiden U Thein Sein dan perbincangan dengan Ketua DPR U Shwe Mann, Piebalgs mengumumkan paket bantuan baru sebesar 150 juta euro (200 juta dollar AS) untuk dua tahun ke depan, yang katanya hampir dua kali lipat dari bantuan Uni Eropa sejak tahun 1996.
Dana, yang akan menambah dukungan saat ini tersebut, diberikan melalui PBB dan organisasi non-pemerintah sejak tahun 1996, digunakan untuk membiayai proyek-proyek di bidang kesehatan, pendidikan dan mata pencaharian, katanya.
Dia mengungkapkan bahwa bantuan sejak tahun 1996 telah mampu membantu hampir 90.000 orang dalam mengolah tanah dan memiliki akses kepada pangan, membawa enam juta anak-anak ke sekolah atau pelatihan serta mengobati dua juta orang dari penyakit malaria serta 600.000 korban HIV/Aids. Dia juga menyatakan siap meningkatkan bantuan untuk mendorong pembangunan Myanmar dalam beberapa tahun mendatang ketika akses pasar dipulihkan.
Editor : asmadi
Sumber : Kompas.com
Rekomendasi Facebook
