90 Persen Garam Lampung Tak Layak Konsumsi
Bangkapos.com - Rabu, 22 Februari 2012 23:37 WIB

google
ilustrasi
Berita Terkait
- Data Garam Simpang Siur
- Buncis Lada Garam Gugah Selera Anak
- Kurangi Garam Tak Lantas Bikin Sehat?
- Rumput Laut Bisa Menggantikan Garam?
- Kurangi Efek Garam dengan Berolahraga
- Curah Hujan Masih Tinggi, Produksi Garam Bisa Terpangkas…
- Kiat Mengurangi Garam
- Kiat Mengurangi Garam
- Banyak Ortu yang Masih Abaikan Pentingnya Garam Beryodium
- Garam Saja Impor
BANGKAPOS.COM, BANDAR LAMPUNG - Garam kasar yang dikonsumsi masyarakat Lampung jauh dari kriteria sehat, bukan hanya kurang dari takaran yodium semestinya, tapi juga karung untuk wadah angkut bahan baku garam yang merupakan karung-karung bekas tak layak pakai.
Kenyataan ini diperoleh dari penelusuran Tim Perdagangan Dalam Negeri (PDN) dimotori Kabid PDN, Syamsurizal, ke sejumlah perusahaan pengolah garam yang berada di Bandar Lampung.
Penelusuran sendiri dilakukan sejak 13-21 Februari bermula dari pantauan di lapangan diawali dari penglihatan secara kasat mata bahwa bungkus dan bentuk fisik garam kasar tidak bersih dan cenderung kotor.
"Setelah kita lakukan tes, ternyata memang kadar yodium kurang dari 30 persen sesuai persyaratan edar," ujar Rizal saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (22/2/2012).
Diungkapkan Rizal dari sebagian besar garam yang beredar dan diperjualbelikan di Lampung merupakan hasil olahan yang tidak steril. (*)
Kenyataan ini diperoleh dari penelusuran Tim Perdagangan Dalam Negeri (PDN) dimotori Kabid PDN, Syamsurizal, ke sejumlah perusahaan pengolah garam yang berada di Bandar Lampung.
Penelusuran sendiri dilakukan sejak 13-21 Februari bermula dari pantauan di lapangan diawali dari penglihatan secara kasat mata bahwa bungkus dan bentuk fisik garam kasar tidak bersih dan cenderung kotor.
"Setelah kita lakukan tes, ternyata memang kadar yodium kurang dari 30 persen sesuai persyaratan edar," ujar Rizal saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (22/2/2012).
Diungkapkan Rizal dari sebagian besar garam yang beredar dan diperjualbelikan di Lampung merupakan hasil olahan yang tidak steril. (*)
Editor : suhendri
Sumber : Tribunnews
Rekomendasi Facebook