Merokok Sebabkan Kualitas Sperma Jelek
Bangkapos.com - Rabu, 22 Februari 2012 17:59 WIB

IST
ilustrasi
Berita Terkait
- Hadi Ilham Belum Lepas dari Ketergantungan Nikotin
- Syahrudin Setuju Kantor Jadi No Smoking Area
- MK: Tempat Khusus Merokok Wajib Disediakan
- Perokok Mentol Lebih Mudah Kena Stroke
- Merokok Bisa Menurunkan Kekebalan Tubuh
- Merokok di Rumah Sakit Denda Rp 100.000
- Aksan Dukung Pembentukan Perlu Perda Rokok
- Guru Jangan Merokok di Dalam Kelas
- Melarang Siswa Merokok bukan Perkara Mudah
- Meledak di Mulut, Perokok Dilarikan ke RS
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Eko Sutriyanto
BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Kebiasaan merokok, minum alkohol, suka berendam di air panas, sauna, memangku laptop saat bekerja, sering memakai celana dalam yang ketat dapat menyebabkan peningkatan suhu testis.
Pembentukan spermatozoa di testis terjadi pada suhu 2-4 derajat Celcius lebih rendah dari suhu tubuh, sehingga peningkatan suhu dapat mengganggu pembentukan spermatozoa. Untuk itu gaya hidup yang kurang baik tersebut harus dihilangkan.
"Pria yang menggunakan hormon testosteron biasanya adalah mereka yang ingin membesarkan otot-ototnya atau kadar testosteronnya rendah dapat mengalami azoospermia," ungkap Prof. Dr. dr. Akmal Taher, SpU(K) di Jakarta, Selasa (22/2/2012).
Dikatakannya, spermatogenesis (pembentukan spermatozoa) sangat bergantung pada produksi testosteron oleh testis. Jika testosteron diberikan dari luar tubuh maka testis akan berhenti menghasilkan testosteron alami tubuh.
Kadar testosteron yang tinggi karena pemberian dalam bentuk obat minum atau suntikan akan merangsang mekanisme umpan balik yang menyebabkan kadar FSH (hormon yang memberi instruksi testis untuk membuat spermatozoa) akan menurun, hal ini akan menghentikan produksi spermatozoa baik itu secara bertahap hingga total.
Efek samping ini dapat berlangsung untuk sementara atau bahkan permanen. Pria muda yang masih berencana untuk membentuk keluarga sebaiknya mempertimbangkan efek samping ini"
Prof Akmal menyarankan sebelum melakukan terapi, dokter biasanya melakukan wawancara untuk mencari faktor-faktor yang menyebabkan infertilitas, seperti gaya hidup yang kurang sehat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan fisik untuk mencari penyebab lainnya.
"Pada keadaan tertentu, terdapat testis yang ukurannya lebih kecil dibandingkan yang normal atau bahkan tidak ditemukan testis sama sekali dalam kantung testis (skrotum). Perlu dicari juga tanda-tanda seks sekunder yang menggambarkan secara kasar keadaan hormon seks sekunder," ungkapnya.
Yang juga penting adalah diperiksa ada atau tidaknya varikokel. Pembuluh darah vena yang melebar di kaki (terutama sering ditemukan pada ibu-ibu) disebut varises, sedangkan bila pembuluh darah vena yang melebar di kantung testis disebut varikokel. Saluran spermatozoa (vas deferens) juga perlu diperiksa, pada kelainan bawaan tertentu, saluran ini tidak terbentuk.
"Beberapa pemeriksaan tambahan yang seringkali diperlukan adalah pemeriksaan hormon dan USG skrotum. Tujuannya adalah untuk mengetahui adanya kelainan hormon yang berperan dalam pembentukan spermatozoa," paparnya.
USG skrotum dilakukan untuk memastikan ukuran testis, ada atau tidaknya varikokel dan mencari beberapa kelainan lainnya. Pemeriksaan lainnya yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan kromosom seks.
"Pada keadaan tertentu terdapat kelainan kromosom yang menyebabkan gangguan pembentukan spermatozoa. Namun pemeriksaan ini belum dijadikan standar karena belum ada terapi gen pada saat ini" tambahnya.
BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Kebiasaan merokok, minum alkohol, suka berendam di air panas, sauna, memangku laptop saat bekerja, sering memakai celana dalam yang ketat dapat menyebabkan peningkatan suhu testis.
Pembentukan spermatozoa di testis terjadi pada suhu 2-4 derajat Celcius lebih rendah dari suhu tubuh, sehingga peningkatan suhu dapat mengganggu pembentukan spermatozoa. Untuk itu gaya hidup yang kurang baik tersebut harus dihilangkan.
"Pria yang menggunakan hormon testosteron biasanya adalah mereka yang ingin membesarkan otot-ototnya atau kadar testosteronnya rendah dapat mengalami azoospermia," ungkap Prof. Dr. dr. Akmal Taher, SpU(K) di Jakarta, Selasa (22/2/2012).
Dikatakannya, spermatogenesis (pembentukan spermatozoa) sangat bergantung pada produksi testosteron oleh testis. Jika testosteron diberikan dari luar tubuh maka testis akan berhenti menghasilkan testosteron alami tubuh.
Kadar testosteron yang tinggi karena pemberian dalam bentuk obat minum atau suntikan akan merangsang mekanisme umpan balik yang menyebabkan kadar FSH (hormon yang memberi instruksi testis untuk membuat spermatozoa) akan menurun, hal ini akan menghentikan produksi spermatozoa baik itu secara bertahap hingga total.
Efek samping ini dapat berlangsung untuk sementara atau bahkan permanen. Pria muda yang masih berencana untuk membentuk keluarga sebaiknya mempertimbangkan efek samping ini"
Prof Akmal menyarankan sebelum melakukan terapi, dokter biasanya melakukan wawancara untuk mencari faktor-faktor yang menyebabkan infertilitas, seperti gaya hidup yang kurang sehat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan fisik untuk mencari penyebab lainnya.
"Pada keadaan tertentu, terdapat testis yang ukurannya lebih kecil dibandingkan yang normal atau bahkan tidak ditemukan testis sama sekali dalam kantung testis (skrotum). Perlu dicari juga tanda-tanda seks sekunder yang menggambarkan secara kasar keadaan hormon seks sekunder," ungkapnya.
Yang juga penting adalah diperiksa ada atau tidaknya varikokel. Pembuluh darah vena yang melebar di kaki (terutama sering ditemukan pada ibu-ibu) disebut varises, sedangkan bila pembuluh darah vena yang melebar di kantung testis disebut varikokel. Saluran spermatozoa (vas deferens) juga perlu diperiksa, pada kelainan bawaan tertentu, saluran ini tidak terbentuk.
"Beberapa pemeriksaan tambahan yang seringkali diperlukan adalah pemeriksaan hormon dan USG skrotum. Tujuannya adalah untuk mengetahui adanya kelainan hormon yang berperan dalam pembentukan spermatozoa," paparnya.
USG skrotum dilakukan untuk memastikan ukuran testis, ada atau tidaknya varikokel dan mencari beberapa kelainan lainnya. Pemeriksaan lainnya yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan kromosom seks.
"Pada keadaan tertentu terdapat kelainan kromosom yang menyebabkan gangguan pembentukan spermatozoa. Namun pemeriksaan ini belum dijadikan standar karena belum ada terapi gen pada saat ini" tambahnya.
Editor : suhendri
Sumber : Tribunnews
Rekomendasi Facebook
