Pemerintah Masih Abaikan Perempuan Korban Seksual
Bangkapos.com - Minggu, 4 Maret 2012 13:32 WIB
Berita Terkait
- Siswa SMP Bogor Ciptakan Sepatu Antiperkosaan
- Oknum Buruh Sambilan Jualan Sabu
- TKI Keluar Negeri Kurangi Pengangguran
- TKI Formal di Luar Negeri Raih Keuntungan
- Hasil Survei: 70 Persen TKI Lulusan SD
- Menakertrans: Hukum Berat Pelaku dan Beking Perbudakan
- 34 Buruh Pabrik Kuali "Mengusik" SBY
- Bos Janji Bayar Upah Buruh Pabrik Kuali
- Suasana di dalam Pabrik Kuali Tangerang Mengenaskan
- Lihat Polisi lalu Buruh Teriak Minta Tolong
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Edwin Firdaus
BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Kekerasan seksual terhadap perempuan masih banyak terjadi. Tidak hanya di tempat sepi, bahkan di tempat-tempat umum di ibu kota pun kerap terjadi hingga saat ini.
Menurut data yang dihimpun Polda Metro Jaya Jakarta, terjadi peningkatan kasus perkosaan di angkutan umum kota sebesar 13,33 persen.
Jika pada tahun 2010 terjadi sekitar 60 kasus, di tahun 2011 meningkat mencapai 68 kasus.
Dian Novita, Humas Komite Nasional Perempuan Mardhika juga mencotohkan, bahwa di Kawasan Berikat Nusantar (KBN) Cakung Jakarta Utara misalnya, yang mayoritas pekerjanya perempuan tak jarang mendapat tindak pelecehan seksual ketika jalan ke tempat kerja maupun pulang kerjanya.
Bahkan, sambungnya, tak jarang perempuan harus mendapat pelecehan seksual terlebih dulu jika ingin mendapat pekerjaan maupun posisi yang bagus di kantornya.
"Hal ini hanya sedikit contoh dari situasi kerja negatif yang dialami banyak perempuan di Indonesia," ujarnya.
Sebelumnya, lanjut Dian, pemerintah juga belum menyelesaikan kasus-kasus tersebut, yang banyak terjadi saat berbagai wilayah Indonesia sedang konflik. Banyak korban perempuan yang tak terjamah kebijakan pemerintah dalam hal rehabilitasinya.
"Contohnya tahun 1965 dan 1998. Masih banyak korban perkosaan massal pada tahun itu," cetusnya.
Ironisnya, imbuh Dian, peremintah hingga saat ini, tidak menjadikan isu perempuan menjadi target nasional.
"Mereka (pemerintah dan DPR) justru mengabaikan segala tindak kekerasan yang terjadi selama ini," sergahnya.
BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Kekerasan seksual terhadap perempuan masih banyak terjadi. Tidak hanya di tempat sepi, bahkan di tempat-tempat umum di ibu kota pun kerap terjadi hingga saat ini.
Menurut data yang dihimpun Polda Metro Jaya Jakarta, terjadi peningkatan kasus perkosaan di angkutan umum kota sebesar 13,33 persen.
Jika pada tahun 2010 terjadi sekitar 60 kasus, di tahun 2011 meningkat mencapai 68 kasus.
Dian Novita, Humas Komite Nasional Perempuan Mardhika juga mencotohkan, bahwa di Kawasan Berikat Nusantar (KBN) Cakung Jakarta Utara misalnya, yang mayoritas pekerjanya perempuan tak jarang mendapat tindak pelecehan seksual ketika jalan ke tempat kerja maupun pulang kerjanya.
Bahkan, sambungnya, tak jarang perempuan harus mendapat pelecehan seksual terlebih dulu jika ingin mendapat pekerjaan maupun posisi yang bagus di kantornya.
"Hal ini hanya sedikit contoh dari situasi kerja negatif yang dialami banyak perempuan di Indonesia," ujarnya.
Sebelumnya, lanjut Dian, pemerintah juga belum menyelesaikan kasus-kasus tersebut, yang banyak terjadi saat berbagai wilayah Indonesia sedang konflik. Banyak korban perempuan yang tak terjamah kebijakan pemerintah dalam hal rehabilitasinya.
"Contohnya tahun 1965 dan 1998. Masih banyak korban perkosaan massal pada tahun itu," cetusnya.
Ironisnya, imbuh Dian, peremintah hingga saat ini, tidak menjadikan isu perempuan menjadi target nasional.
"Mereka (pemerintah dan DPR) justru mengabaikan segala tindak kekerasan yang terjadi selama ini," sergahnya.
Editor : asmadi
Sumber : Tribunnews
Rekomendasi Facebook
