• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 25 Oktober 2014
Bangka Pos
Home » Kolom » Opini

Penggunaan L1 dalam Pembelajaran Bahasa Inggris di Kelas

Selasa, 6 Maret 2012 07:56 WIB
BAHASA Inggris sebagai salah satu bahasa internasional paling populer telah menjadi bahasa yang dipakai secara komunikatif dan masif hampir di seluruh belahan penjuru dunia, baik dalam bisnis, teknologi, maupun pendidikan. Khusus dalam bidang pendidikan, menjamurnya lembaga-lembaga pendidikan bahasa Ingggris  menjadi indikator dari begitu banyaknya minat masyarakat akan bahasa Jermanik Barat dengan dialek Anglo Frisia ini yang muncul sekitar 1500 tahun lalu.

Di Indonesia, tanpa terkecuali Bangka Belitung sebagai propinsi yang menyimpan harapan untuk menjadi destinasi wisata nasional maupun internasional, kehadiran pembelajaran bahasa Inggris pada lembaga-lembaga formal dan nonformal merupakan sinyalemen baik yang tidak hanya menjadi alat untuk mencapai harapan tersebut, namun lebih dari itu, pembelajaran bahasa Inggris di lembaga-lembaga itu dapat menjadi kunci pembuka ilmu dan pengetahuan lain demi tujuan yang lebih besar yaitu, kemajuan Bangsa dan Negara.

Kehadiran bahasa Inggris di negeri ini, dengan semua gengsi dan kelebihannya, tentu diharapkan tidak menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama (L1) bangsa ini menjadi inferior atau malah tersingkirkan, hanyut terbawa arus superioritas bahasa Inggris yang notabene merupakan bahasa asing di Indonesia. Banyaknya penggunaan istilah,susunan kata dan nama “berbau” bahasa Inggris yang digunakan pada nama mall, supermarket, toko hingga tukang jahit, telah menjadi fenomena umum betapa kuatnya pengaruh bahasa Inggris di Indonesia. Hal ini tak pelak menimbulkan berbagai perdebatan tentang perlunya mengangkat kembali bahasa Indonesia di negeri kelahirannya sendiri.

Dalam ruang lingkup pendidikan, khususnya lembaga formal dan nonformal, munculnya Rintisan Sekolah Berbasis Internasional (RSBI) dan Sekolah Berbasis Internasional (SBI), membuka kembali diskursus mengenai penggunaan bahasa Indonesia (L1) di dalam kelas-kelas berbahasa Inggris, pertanyaan yang sering muncul diantaranya adalah: apakah L1 masih diperlukan dalam pembelajaran bahasa Inggris di kelas ?, atau, apakah sebaiknya menggunakan bahasa Inggris sebagai satu-satunya bahasa pengantar dalam pembelajaran bahasa Inggris di kelas ?.

Selalu ada pandangan kontradiktif mengenai penggunaan L1 dalam pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing atau biasa dikenal dengan EFL (English as Foreign Language). Pendekatan monolingual akan selalu menegaskan pentingnya penggunaan The English Only demi mencapai tujuan pembelajaran bahasa Inggris yang efektif, ini berarti penggunaan L1 dalam pembelajaran EFL harus dilarang sedapat mungkin. Krashen dalam bukunya Second language acquisition and second language learning mendukung pendekatan ini dengan argumentasi bahwa setiap orang yang belajar bahasa asing akan mengikuti pola yang sama sebagaimana ia mempelajari bahasa pertamanya, sehingga penggunaan bahasa pertama harus diminimalkan dalam pembelajaran bahasa asing tersebut.

Para penulis buku pengajaran EFL seperti Haycraft, Hubbard, atau Harmer tidak menganggap penting isu ini, bagi mereka penggunaan bahasa pertama tidak memiliki peran berarti dalam pengajaran EFL. Hal ini dapat dimaklumi karena para penulis tersebut adalah native speakers (penutur asli) bahasa Inggris yang selama ini biasa terlibat dalam kelompok atau kelas dengan siswa multilingual. Faktanya saat ini telah ada gerakan besar yang mulai menjauh dari dogma The English Only yang selama ini telah menjadi bagian dari pendekatan atau metode pengajaran bahasa Inggris, baik British English maupun American English.

Sejumlah penelitian telah dilaksanakan tentang prilaku dan persepsi terhadap penggunaan L1 di kelas bahasa Inggris. Penelitian tersebut terbagi dalam dua kategori besar yaitu: mereka yang meneliti tentang perilaku pebelajar bahasa Inggris, dan lainnya adalah mereka yang meneliti baik pebelajar maupun pengajar bahasa Inggris itu sendiri. Dalam penelitian yang pertama, Prodromou (2002) membagi 300 jumlah siswanya Yunaninya kedalam tiga kelompok tingkatan, yaitu elementary, intermediate, dan advance.

Dia ingin melihat reaksi dan perilaku para siswa dengan tingkat kemampuan yang berbeda, penemuannya menunjukkan bahwa siswa yang berada pada tingkat lebih tinggi memiliki respon negatif terhadap penggunaan L1 di kelasnya, namun para siswa yang berada pada tingkat lebih rendah cenderung lebih menerima penggunaan L1 di kelas mereka. Pada penelitian kedua, Burden (2001) meneliti perilaku 290 siswa dan 73 guru di lima universitas, hasil penemuan menunjukkan bahwa baik guru dan siswa menganggap pentingnya penggunaan L1 dalam pembelajaran bahasa Inggris, terutama untuk menjelaskan kosa kata baru, memberikan instruksi, pembahasan tes, pembahasan grammar, pengecekan pemahaman, dan menenangkan atau menertibkan siswa di kelas.
Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan tersebut, secara umum dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya, ketika digunakan dengan tepat, penggunaan L1 di dalam kelas-kelas bahasa Inggris amatlah bermanfaat.

Douglas Brown seorang guru besar MA-TESOL di Universitas negeri San Fransisco Amerika Serikat, dengan pengalamannya memberikan kuliah bahasa Inggris di seluruh dunia mengatakan, “first language can be a facilitating factor and not just an interfering factor”. Ungkapan ini menunjukkan makna pentingnya L1 sebagai alat untuk memfasilitasi keefektifan pembelajaran bahasa Inggris di dalam kelas. 

Pendekatan keseimbangan yang dikenalkan oleh P.Nation tampaknya lebih bijak untuk diterapkan dalam pembelajaran bahasa Inggris, beliau percaya bahwa para guru harus menunjukkan rasa hormatnya terhadap bahasa pertama para pembelajar, dan menghindari melakukan hal-hal yang dapat dianggap merendahkan bahasa pertama mereka dibanding bahasa Inggris, pada saat yang sama, adalah kewajiban seorang guru untuk mengembangkan kecakapan siswanya dalam belajar bahasa Inggris melalui pendekatan-pendekatan atau metode-metode pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik siswa, serta modalitas yang mereka miliki.

Beberapa pertimbangan yang perlu diambil dalam penerapan dua bahasa (bilingual), sebagai manifestasi dari balanced approachnya Nation diantaranya adalah: 1)Apakah bahasa pertama para siswa. 2)Berapa usia para siswa. 3)Apa tingkatan kecakapan para siswa. 4)Apakah para siswa berada pada kelompok satu kebangsaan atau campuran. 5)Berapa lama para siswa sudah belajar bahasa Inggris. 6)Bagaimana bentuk kebijakan lembaga. 7).Apa tujuan siswa belajar bahasa Inggris.

Dengan memperhatikan berbagai pertimbangan tersebut, maka praktek penggunaan dua bahasa dalam kelas-kelas bahasa Inggris akan menjadi lebih efektif dan efisisen, serta diharapkan terwujudnya tujuan pembelajaran bahasa Inggris yang ingin dicapai oleh suatu lembaga pendidikan.***
Editor: dedypurwadi
Sumber: bangkapos.com
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
98077 articles 12 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas