Anak Buah John Kei Bikin Jengkel
"Mereka reseh kalau sudah mabuk." Keluhan itu disampaikan Effendi, warga kawasan Kampung Rawabambu,
Effendi mengeluhkan sikap anak buah John Kei yang tinggal di kawasan perumahan Tytyan Indah. Kampung Rawabambu bersebelahan dengan kompleks perumahan Tytyan. Dua tempat itu hanya dipisahkan oleh sungai dan jalan umum.
John Kei dikenal sebagai pimpinan gang yang berprofesi sebagai debt collector alias penagih utang. John Kei saat ini berada di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Polda Metro Jaya karena dituduh terlibat dalam kasus pembunuhan Tan Harry Tantono, bos pabrik baja Sanex Steel Indonesia.
Warga Kampung Rawabambu terlibat bentrok berkepanjangan dengan anak buah John Kei, mulai Minggu (18/3/2012) hingga Selasa pagi, mengakibatkan dua orang tewas. Korban tewas ternyata tak terkait dengan dua kelompok bertikai alias korban salah sasaran.
Dari perumahan Tytyan Indah ke Rawabambu bisa dicapai dengan dua cara. Pertama melalui Jalan Kalibaru Timur. Kedua melalui Jalan Mawar langsung tembus di depan jembatan gapura perumahan Tytyan Indah.
Kampung Rawabambu penduduknya beragam. Begitu pula di perumahan Tytyan Indah. Effendi, rumahnya di belakang warung Jamu Sidomuncul, menceritakan anak buah John Kei memiliki kebiasaan membuat onar. Menurutnya, bentrok itu dipicu kejadian pertama, yaitu ketika pada pukul 05.30 WIB tiga orang yang mengendarai dua sepeda motor membuat keributan di Jalan Mawar, depan sebuah masjid. Pengendara motor itu menempeleng warga tanpa sebab.
Seminggu kemudian, pukul 23.00, dua orang tersebut membeli ginseng di toko jamu tak jauh dari lokasi kejadian sebelumnya. Naas bagi mereka, warga mengenali dua orang tersebut sebagai sang pembuat onar. Mereka kabur ke arah perumahan Tytyan Indah.
Sejam kemudian tiba-tiba muncul 30 orang dari perumahan Tytyan Indah, mengendarai sepeda motor dan memarkirnya di dekat warung jamu itu. Mereka bersenjata katana (pedang panjang ala Jepang yang sering dipakai para samurai) dan panah.
Delapan orang dengan pedang terhunus merangsek ke arah warung jamu. Kaca-kaca gerobak pedagang dan lampu-lampu di sekitar warung jamu tersebut mereka hancurkan.
Warga kocar-kacir.
Perkelahian kelompok yang tidak seimbang itu berakhir setelah warga kampung memilih mundur dan bersembunyi. Tidak sampai sejam, polisi datang. Menurut pengakuan warga, polisi juga tidak bisa berbuat banyak. Massa yang dikenali sebagai anak buah John Kei itu bertindak beringas.
Serbu mobil
Perkelahian malam tersebut mengakibatkan hilangnya satu nyawa warga. Sementara yang lain menderita luka sabetan pedang dan kena anak panah. Keesokan harinya, warga melakukan sweeping terhadap kendaraan yang lalu lalang di Jalan Mawar. Sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Warga menghadang.
Warga akhirnya menyerbu mobil tersebut karena yakin yang di dalam mobil adalah musuh mereka. Tiga orang dalam mobil berhasil melarikan diri. Sedang sopirnya tewas dibakar massa.
Ternyata sang sopir tak terkait masalah itu. Polisi menemukan KTP dalam dompetnya.
Menurut Fuad, seorang warga yang pernah kena pukul anak buah John Kei, mengaku sempat mendengar bakal ada aksi balas dendam dari kelompok John Kei.
Beruntung keributan tidak pecah karena kepolisian segera menurunkan petugas Brimob dari Polda Jabar. Mereka akhirnya menandatangani kesepakatan damai. Sampai hari ini, warung jamu tersebut masih tutup. Tidak seorang pun mengetahui keberadaan orang yang mengontrak warung tersebut. (Eri Komar Sinaga)