Wanita Ibunda
Bulan April bagi negeri ini memiliki makna khusus. Ritual bagi “pemujaan” wanita khususnya ...
Thank you for all the things I’m not
Forgive me for the words unsaid
For the times I forgot
Mama remember all my life
You showed me love, you sacrificed
Think of those young and early days
How I’ve changed along the way (along the way)
.....
Mama forgive the times you cried
Forgive me for not making right
All of the storms I may have caused
And I’ve been wrong,
Dry your eyes [dry your eyes]
Cause I know you believed
And I know you had dreams
And I’m sorry it took all this time to see
That I am where I am because of your truth
(Il Divo, Mama)
BULAN April bagi negeri ini memiliki makna khusus. Ritual bagi “pemujaan” wanita khususnya ibunda mendapat tempat istimewa di hati bangsa ini terutama puncaknya pada hari Kartini.
Pada kodrat wanitalah kita bisa merasakan makna cinta kasih yang paling hakiki terutama pada figur ibunda yang setia pada pengorbanan diri untuk anak-anaknya: “sebagaimana cinta memahkotaimu, demikian pula demikian besar pengorbananmu.”
Getar memuliakan ibunda itu terasa pula manakala Keluarga Besar Sriwijaya Air merayakan anugerah atas rahmat Tuhan yang Maha Pengasih yang memberikan usia 80 tahun pada Ny. LIE A LOEN, isteri LO KUI NAM, mama Presiden Komisaris Sriwijaya Air Hendry Lie, Ehry Gunawan, Presiden Direktur Sriwijaya Air Chandra Lie, Yesica, Andy Halim dan ,Fandy Lingga di Grand Ballroom HOTEL MULIA, Jl. Asia Afrika, Senayan - Jakarta.
Anugerah kehidupan 80 tahun bagi kita memang layak dan pantas disyukuri. Usia sepanjang itu adalah rahmat khusus, bonus kehidupan, Da Shou (ulang tahun besar).
Maka perayaan syukur itu sejatinya ungkapan doa atas keberkahan, keberuntungan, hoki karena rahmat kesehatan. berumur panjang. Bagi Ny. LIE A LOEN (80) dan suaminya LO KUI NAM (84) dan bagi siapa saja yang dianugerahi usia sepanjang itu, ia dalah insan Tuhan yang sudah teruji melalui perjalanan hidupnya dan dianggap sudah memperoleh kebijaksanaan.
Mahkota kehidupan bagi mereka yang berusia 80 tahun ke atas adalah “sabda atau perkataannya” pantang untuk dibantah. Itulah aturan tidak tertulis yang dihayati oleh anak, cucu, cicitnya yang lebih yunior.
Dalam kesaksiannya, Chandra Lie mengatakan, “Mama adalah “tuhan” yang kelihatan di dunia ini. Mama adalah sinar, cahaya dan garam bagi anak, cucu, cicit dan sesamanya.”
“Malam bilang..bulan dan bintang-bintang itu indah, siang pun bilang..matahari dan burung-burung di udara itu begitu indah..laut juga bilang ... Ikan-ikan yang melintasi arus lautan itu sangat indah ... Tetapi Tuhan bilang .... Ibunda, Papa dan kita umat manusialah yang paling indah,” ungkap Chandra Lie.
Bagi Andy Halim mama adalah wanita yang sangat tulus merawat kami anak-anaknya. Mama, bagi Yesica adalah pribadi yang tegas, melindungi dan mendampingi bagaikan teman dan kakak. Sedang bagi Fandy Lingga, mama adalah pribadi luar biasa, dalam situasi ekonomi yang waktu itu terbatas, mama tegar dan mampu membesarkan anak-anaknya.
“Mama berlari kencang dan dengan tangan lembutnya memukul anjing yang menggigit saya saat kecil,” kenang Fandy Lingga.
Mama, bagi Hendry Lie adalah wanita perkasa, luar biasa, pekerja keras. Mama berusaha selalu memanjakan anak-anaknya dalam keterbatasannya. “Dengan tulus ia berikan simpanan emas yang mama beli dan kumpulkan sejak masih gadis kepada saya sebagai modal kerja awal saya. Mama senantiasa memberi tanpa meminta..” ungkap Hendri Lie.
Ungkapan itu mengingatkan kita pada filosof dan penyair dari Libanon, Kahlil Gibran yang secara filsafati memuja wanita terutama ibunda :”Ibu adalah segala-galanya. Dialah penghibur kita dalam kesedihan, tumpuan harapan kita dalam penderitaan dan daya kekuatan kita dalam kelemahan. Dialah sumber cinta kasih, belas kasih, murah hati dan ampunan. Ibunda adalah jiwa murni yang memberkati dan menjagai kita siang malam.”
Malam itu penuh puja puji bagi ibunda dari Obbie Mesakh, Hudson hingga Delon. Mama, bagi Delon adalah pribadi tempat bersandar di kala anaknya jatuh dan menyemangati agar bangkit kembali seperti lagu “You raise me up” yang dinyanyikannya.
Putri Chandra Lie, Shella Christivanny Lie membacakan puisi buah permenungan Sherly Christivanny sekaligus bernyanyi buat sang pho pho bersama Sharon Damayanthi Christivanny Lie:
Hari ini ku berdiri di tempat ini
Mengumandangkan Doa dalam cinta
Yang kupersembahkan untuk seorang wanita.
Wanita yang telah berjasa
Merawat hidup anak-anaknya
Kupersembahkan sebuah harmoni kata untukmu,
Sebagai tanda terima kasih ku
Untuk cinta kasih di setiap langkah
Untuk air mata di setiap perjuangan
Untuk Doa di setiap harapan,
Yang engkau lakukan hanya untuk satu tujuan yaitu anakmu
Kini 80 tahun sudah usiamu
Mengarungi hidup,
Mengarungi jalan terjal,
melewati derai air mata dan tawa bahagia membesarkan semua anakmu.
Dengan doa dan kasih sayang,
dengan perjuangan engkau merawat anakmu sampai anakmu menjadi berhasil.
Dan kini mereka menjadi orang tuaku,
Kasih sayang yang sama.
Pengorbanan yang sama.
Kelembutan yang sama.
Yang aku rasakan dari orang tuaku, berbekal kasih sayang mu dulu
di saat membesarkan mereka
Dan kini ku panggil Engkau POPO
Ibu dari Ayahku
Keberhasilannya merupakan Doamu POPO.
Terima kasih POPO
Kami masih berdiri disini semua karena Cintaa
Cintaa seorang IBU bak air mengalir tiada pernah berhenti.
Marthe berkata: “Mama was my greatest teacher, a teacher of compassion, love and fearlessness. If love is sweet as a flower, then my mother is that sweet flower of love.” Semoga!