Kaum Muda Lebih Optimis Soal Gaji
Bangkapos.com - Kamis, 5 April 2012 21:30 WIB

SHUTTERSTOCK
Dengan berpegang pada nilai gaji rekan kerja Anda, Anda mendapat keyakinan bahwa Anda pun berpeluang mengalami kesuksesan yang sama.
Berita Terkait
- Ahok Ancam Batalkan Kenaikan Gaji Guru Honorer
- Roy Suryo tak Akan Stop ISL dan IPL
- Tahun Depan, Gaji Polisi di Perbatasan Naik 75 Persen
- Gaji PNS 2013 Tidak Naik
- Diego Mendieta Tanya Gaji, Hanya Dapat Janji
- Ahok: Gaji PNS Naik kalau APBD DKI Ratusan Triliun
- Slip Gaji Tevez Bocor di Twitter
- Hasil Survei, Gaji Bukan Alasan Utama dalam Memiilih…
- Anggaran Polri-Jaksa Dinaikkan Bikin Kecemburuan
- Gaji Pokok Gubernur Hanya Rp 3 Juta per Bulan
BANGKAPOS.COM - Penasaran dengan gaji rekan kerja yang sedikit lebih senior? Atau sirik karena rekan kerja di tim Anda digaji lebih tinggi? Tenang saja dulu.
Menurut penelitian, ketika melihat rekan kerja digaji lebih tinggi, Anda justru akan mengalami tingkat kepuasan yang lebih tinggi. Pasalnya, dengan berpegang pada nilai gaji rekan kerja Anda itu, Anda mendapat keyakinan bahwa Anda pun berpeluang mengalami kesuksesan yang sama. Namun, hal ini hanya dialami oleh kaum muda.
"Orang biasanya kurang senang dengan adanya perbandingan-perbandingan," ujar Profesor Feliz FitzRoy, peneliti dari University of St Andrews School of Economics and Finance. "Semakin tinggi penghasilan rekan kerja seangkatannya, semakin buruk yang mereka rasakan. Tapi bagi kaum muda, yang terjadi adalah kebalikannya."
Penelitian berjudul So Far So Good: Age, Sex, Happiness and Relative Earnings, ini dilakukan di Jerman, dimana responden dibagi dalam kelompok-kelompok sesuai usia, pendidikan, dan lokasinya. Responden juga diidentifikasi dalam dua kategori, yaitu kelinci, atau mereka yang dipromosikan lebih cepat, atau kura-kura, atau mereka yang proses promosinya tidak begitu cepat.
Namun, harapan untuk mendapatkan kesuksesan yang sama ini ada batas waktunya. Mereka yang berusia di atas 45 tahun menjadi frustrasi dan terpuruk jika mereka masih digaji lebih rendah daripada rekan seangkatannya. Sedangkan mereka yang sudah pensiun tidak lagi terganggu dengan perbedaan penghasilan, karena lebih mengkhawatirkan masalah kesehatan.
Lebih lanjut, FitzRoy mengatakan bahwa penemuan ini memberi pengaruh yang kurang baik bagi kalangan yang baru mengawali kariernya. "Dalam situasi dimana terjadi penghematan, harapan-harapan ini buyar secara sistematis karena dengan mendapatkan pekerjaan saja lulusan baru sudah beruntung. Jika mendapat pekerjaan pun, biasanya mereka di bawah kualifikasi."
Kenyataan tersebut seringkali merusak keyakinan diri generasi muda ini, apalagi jika prospek mendapatkan pekerjaan semakin sulit.
Menurut penelitian, ketika melihat rekan kerja digaji lebih tinggi, Anda justru akan mengalami tingkat kepuasan yang lebih tinggi. Pasalnya, dengan berpegang pada nilai gaji rekan kerja Anda itu, Anda mendapat keyakinan bahwa Anda pun berpeluang mengalami kesuksesan yang sama. Namun, hal ini hanya dialami oleh kaum muda.
"Orang biasanya kurang senang dengan adanya perbandingan-perbandingan," ujar Profesor Feliz FitzRoy, peneliti dari University of St Andrews School of Economics and Finance. "Semakin tinggi penghasilan rekan kerja seangkatannya, semakin buruk yang mereka rasakan. Tapi bagi kaum muda, yang terjadi adalah kebalikannya."
Penelitian berjudul So Far So Good: Age, Sex, Happiness and Relative Earnings, ini dilakukan di Jerman, dimana responden dibagi dalam kelompok-kelompok sesuai usia, pendidikan, dan lokasinya. Responden juga diidentifikasi dalam dua kategori, yaitu kelinci, atau mereka yang dipromosikan lebih cepat, atau kura-kura, atau mereka yang proses promosinya tidak begitu cepat.
Namun, harapan untuk mendapatkan kesuksesan yang sama ini ada batas waktunya. Mereka yang berusia di atas 45 tahun menjadi frustrasi dan terpuruk jika mereka masih digaji lebih rendah daripada rekan seangkatannya. Sedangkan mereka yang sudah pensiun tidak lagi terganggu dengan perbedaan penghasilan, karena lebih mengkhawatirkan masalah kesehatan.
Lebih lanjut, FitzRoy mengatakan bahwa penemuan ini memberi pengaruh yang kurang baik bagi kalangan yang baru mengawali kariernya. "Dalam situasi dimana terjadi penghematan, harapan-harapan ini buyar secara sistematis karena dengan mendapatkan pekerjaan saja lulusan baru sudah beruntung. Jika mendapat pekerjaan pun, biasanya mereka di bawah kualifikasi."
Kenyataan tersebut seringkali merusak keyakinan diri generasi muda ini, apalagi jika prospek mendapatkan pekerjaan semakin sulit.
Editor : suhendri
Sumber : Kompas.com
Rekomendasi Facebook
