Zat Berbahaya di Jajanan Anak Bisa Rusak Ginjal
Bangkapos.com - Jumat, 4 Mei 2012 08:41 WIB

www.sehatnews.com
Ilustrasi
Berita Terkait
- Bicara di Ponsel Beresiko Naikan Tensi
- Inilah Tips Naikkan Bobot Ideal
- Inilah Efek Samping Anak Sering Nonton Film 3D
- Ekstrak Cempedak Obat Malaria Baru
- Tidak Ada Plafon Khusus Obat Untuk JKB
- JKB Tidak Membatasi Pengobatan Pasien
- Anggaran JKB Terus Meningkat
- Cukup KTP Untuk Layanan JKB
- JKB Tanggung Pengobatan Hingga Tuntas
- Rujukan Melalui JKB Didominasi Pasien Penyakit Kanker
BANGKAPOS.COM--Dokter spesial anak sekaligus Tim Ahli Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dr. Rachmat Sentika, mengatakan jajanan anak yang banyak mengandung zat aditif dapat berbahaya bagi kesehatan dan tumbuh kembang anak.
Rachmat menjelaskan, efek dari zat tersebut memang tidak akan terlihat pada jangka waktu yang dekat, tapi dalam jangka waktu yang lama akan muncul kerusakan pada ginjal dan gangguan tumbuh kembang anak.
“Beberapa waktu lalu bersama BPOM, kami melakukan sidak ke SD di kabupaten Bandung, dari sidak tersebut sejumlah makanan ditemukan 12,3 persen mengandung formalin, 10,2 persen mengandung metanil yelow, 10,9 persen mengandung rhodamin B dan 56,7 persen mengandung boraks.
Selain dapat merusak ginjal dan menggangu tumbuh kembang anak, Rachmat menuturkan, apabila zat aditif terus dikonsumsi anak, maka proses pembentukan sel darah dapat terganggu, dan dapat menimbulkan penyakit kanker di kemudian hari.
Rachmat menjelaskan, efek dari zat tersebut memang tidak akan terlihat pada jangka waktu yang dekat, tapi dalam jangka waktu yang lama akan muncul kerusakan pada ginjal dan gangguan tumbuh kembang anak.
“Beberapa waktu lalu bersama BPOM, kami melakukan sidak ke SD di kabupaten Bandung, dari sidak tersebut sejumlah makanan ditemukan 12,3 persen mengandung formalin, 10,2 persen mengandung metanil yelow, 10,9 persen mengandung rhodamin B dan 56,7 persen mengandung boraks.
Selain dapat merusak ginjal dan menggangu tumbuh kembang anak, Rachmat menuturkan, apabila zat aditif terus dikonsumsi anak, maka proses pembentukan sel darah dapat terganggu, dan dapat menimbulkan penyakit kanker di kemudian hari.
Editor : dedypurwadi
Sumber : Gaya Hidup Sehat
Rekomendasi Facebook
