Orang Bangka Luar Biasa
PELAKU seni, pembatik sekaligus perancang busana asal Yogyakarta, Rosso saat menginjakkan kaki di Provinsi Bangka Belitung
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- PELAKU seni, pembatik sekaligus perancang busana asal Yogyakarta, Rosso saat menginjakkan kaki di Provinsi Bangka Belitung "Negeri Serumpun Sebalai" untuk pertama kalinya mengakui orang Bangka luar biasa.
"Luar biasa dan sangat bersahabat. Kesan saya budaya itu sangat mudah masuk di mana saja, karena ternyata ketika saya memasukkan unsur Budaya Jawa ke Bangka mereka bisa menerima dengan senang hati," tutur Rosso kepada bangkapos.com, Senin (14/5/2012) sore.
"Akhirnya mereka belajar tariannya, belajar musiknya, walaupun unsur hitungan tidak persis sama dengan yang ada di Jawa, tetapi yang menjadikan sama adalah temponya bisa diperlambat," lanjut Rosso.
Ia berharap, dari tempo yang cepat kemudian diperlambat, mudah-mudahan membuat seseorang bisa berpikir langsung ke hati.
"Kadang-kadang kan orang kalau melakukan sesuatu secara cepat tidak terlalu berpikir dengan hati, tetapi otak saja. Pengendapan jadi kurang. Dengan memperlambat gerakan memberi kesempatan hati untuk ikut berpikir. Gitu maksudnya," imbuh Rosso.
Kedatangan Rosso ke Pulau Bangka dalam rangkaian peringatan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-46 dengan menggelar sarasehan dan pelatihan tari di Sanggar Prabuswara Jalan Sungaiselan No 16, Pangkalpinang.
"Kolaborasi antara Bangka dengan Jawa menghasilkan hubungan personal, langsung dari jiwa ke jiwa. Di dunia seni, bahasa dan keindahannya sama. Dan ternyata sangat mudah menyatukan dua unsur budaya yang sangat berbeda," ujarnya.
Dengan kolaborasi, Rosso mengaku ingin memberi angin segar pada dunia seni, khususnya tari. Dalam hal ini ia memadukan tari persembahan dengan proses membatik.
"Tadi ada proses cewek membatik, menunjukkan kain, itu menggambarkan cara membatik dan hasil dari membatik itu," jelas Rosso usai latihan bersama anak-anak Sanggar Prabuswara.
Ia menambahkan, tari persembahan itu adalah khas Bangka yang kemudian ia kreasikan dengan proses membatik.
"Musiknya kita garap sendiri. Ke 15 orang Bangka yang ikut menari tadinya memiliki ritme sangat Melayu, saya kreasikan dengan sedikit pelan sehingga jauh dari Melayu. Akordionnya juga saya sesuaikan dengan irama Jawa, Dandang Gulo. Ketukan gendang, juga saya miripkan dengan Jawa sehingga efeknya sangat berbeda dengan lagu-lagu Melayu," lanjut orang yang telah melanglang buana hingga ke China, Jepang, India, Kanada dan negeri lainnya karena seni.
"Besok saya akan ke Beijing dan Han Sui. Kolaborasi budaya. Komunikasi dua arah yang ingin saya ciptakan. Dengan kolaborasi kita berkomunikasi, bagaimana menyelaraskannya, bagaimana membuat suatu keseimbangan, tidak boleh menonjolkan ego satu dengan yang lain," tandas Rosso.
Kolaborasi yang ia ciptakan bersama anak-anak di Sanggar Prabuswara itu akan dipergunakan untuk menyambut kedatangan Uskup Kupang, juga dalam rangka malam budaya Hari Komunikasi Sosial Sedunia bertema 'Silent and Word', Jumat (18/5/2012).