Aliat Sudah 40 Tahun Merasakan Banjir
Bangkapos.com - Kamis, 24 Mei 2012 19:29 WIB

Bangkapos.com/fennie y
Aliat di antara genangan air di depan rumahnya di Gang Merpati, Kelurahan Gedung Nasional, Pangkalpinang, Kamis (24/5/2012) sore.
Berita Terkait
Laporan Wartawan Bangka Pos, Fennie Y.
BANGKAPOS.COM, BANGKA - Aliat mengobok-obok selokan di depan rumahnya menggunakan sebatang kayu bulat berukuran sekitar 75 cm, Kamis (24/5/2012) sore.
Rumah yang terletak di Gang Merpati, Kelurahan Gedung Nasional, Pangkalpinang, Bangka Belitung itu berada di pemukiman cukup padat. Hampir setiap kali hujan, daerah ini menjadi langganan banjir.
Lambatnya air mengalir, jeleknya sistem drainase ditambah selokan yang kadang penuh sampah menambah komplit keruwetan kota.
Aliat, yang usianya sudah 60 tahun lebih, tak mampu berbuat banyak. Aliat mulai akrab dengan banjir yang selalu menyapa rumahnya saat usianya baru 18 tahun.
"Rumahnya selalu jadi langganan banjir. Asuk (kakek) tu lah lame tinggal di sini. Kesian kek die tu, di dalem rumah e air lah sekitar selutut," ujar tetangga Aliat kepada bangkapos.com.
Berjalan sedikit ke Selatan, di Jalan Abdurrachman Siddiq, genangan air pun menghadang jalan dan tak jarang membuat kemacetan. Begitu pula ke Utara, di Jalan Balai bahkan mengalami genangan cukup dalam dan panjang. Banyak pengendara memilih putar balik untuk menghindari banjir. Air selokan setinggi sekitar 1,5 meter di daerah itu hampir meluber.
Hujan yang berlangsung sekitar satu setengah jam dan berhenti sekitar pukul 15.00 WIB selama dua hari terakhir cukup memusingkan sebagian warga yang rumahnya kerap menjadi langganan banjir.
Apalah daya Aliat dan kawan-kawan, mau pindah ke tempat yang jauh dari banjir, ekonomi terbatas. Belum lagi persoalan adaptasi. Ketika seseorang telah merasa 'at home' di suatu tempat, tentulah tak gampang untuk memulainya di tempat baru.
Aliat adalah satu dari banyak warga yang selalu repot saat banjir datang, namun ia tidak kuasa mengatasi banjir itu seorang diri karena banjir terjadi akibat mata rantai yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Siapa mau peduli?
BANGKAPOS.COM, BANGKA - Aliat mengobok-obok selokan di depan rumahnya menggunakan sebatang kayu bulat berukuran sekitar 75 cm, Kamis (24/5/2012) sore.
Rumah yang terletak di Gang Merpati, Kelurahan Gedung Nasional, Pangkalpinang, Bangka Belitung itu berada di pemukiman cukup padat. Hampir setiap kali hujan, daerah ini menjadi langganan banjir.
Lambatnya air mengalir, jeleknya sistem drainase ditambah selokan yang kadang penuh sampah menambah komplit keruwetan kota.
Aliat, yang usianya sudah 60 tahun lebih, tak mampu berbuat banyak. Aliat mulai akrab dengan banjir yang selalu menyapa rumahnya saat usianya baru 18 tahun.
"Rumahnya selalu jadi langganan banjir. Asuk (kakek) tu lah lame tinggal di sini. Kesian kek die tu, di dalem rumah e air lah sekitar selutut," ujar tetangga Aliat kepada bangkapos.com.
Berjalan sedikit ke Selatan, di Jalan Abdurrachman Siddiq, genangan air pun menghadang jalan dan tak jarang membuat kemacetan. Begitu pula ke Utara, di Jalan Balai bahkan mengalami genangan cukup dalam dan panjang. Banyak pengendara memilih putar balik untuk menghindari banjir. Air selokan setinggi sekitar 1,5 meter di daerah itu hampir meluber.
Hujan yang berlangsung sekitar satu setengah jam dan berhenti sekitar pukul 15.00 WIB selama dua hari terakhir cukup memusingkan sebagian warga yang rumahnya kerap menjadi langganan banjir.
Apalah daya Aliat dan kawan-kawan, mau pindah ke tempat yang jauh dari banjir, ekonomi terbatas. Belum lagi persoalan adaptasi. Ketika seseorang telah merasa 'at home' di suatu tempat, tentulah tak gampang untuk memulainya di tempat baru.
Aliat adalah satu dari banyak warga yang selalu repot saat banjir datang, namun ia tidak kuasa mengatasi banjir itu seorang diri karena banjir terjadi akibat mata rantai yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Siapa mau peduli?
Editor : fitriadi
Sumber : bangkapos.com
Rekomendasi Facebook
