Surono Harus Pontang Panting Gara-Gara Rambut
Bangkapos.com - Jumat, 25 Mei 2012 14:06 WIB

KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO
Kepala Pusat Vulkanologi, Mitigasi, dan Bencana Geologi Surono kini harus berpeci. Gara-gara salah potong rambut, dia pun harus pontang-panting. Dalam sehari dia tiga kali cukur di tempat yang sama, semir rambut, dan akhirya berpeci.
Berita Terkait
BANGKAPOS.COM, BANDUNG - Kepala Pusat Vulkanologi, Mitigasi, dan Bencana Geologi, Surono, tampil beda dan lain dari biasanya saat ditemui di kantornya, Jumat (25/5/2012).
Dia mengenakan peci, padahal biasanya dia membiarkan rambutnya yang keputihan tanpa penutup kepala sehingga dijuluki Mbah Rono. "Gara-gara salah potong," katanya sambil tertawa.
Kisahnya bermula dari inisiatif Surono di hari Sabtu lalu untuk potong rambut di salon sambil menemani istrinya yang juga ada di sana. Namun, hasilnya justru di luar harapannya, tepi kepala dihabiskan dan bagian atas disisakan.
Surono mengomentari gaya rambutnya ketika itu mirip karakter Bart dalam serial kartun The Simpsons.
Dia pun segera menuju ke tempat cukur rambut langganannya di Jalan Gegerkalong, tapi sedang banyak yang mengantre sehingga dia memutuskan datang ke tempat cukur di sebelahnya. Ternyata hasilnya jauh lebih parah, semakin awut-awutan.
Akhirnya, Surono pun mengalah, dia menunggu di tempat cukur langganannya dan terpaksa rambutnya dibabat habis. "Artinya dalam sehari saya potong rambut tiga kali," ujarnya.
Masalah belum selesai karena setelah rambutnya dipotong pendek, terlihat bercak-bercak antara rambut berwarna hitam dengan yang putih. Sambil berseloroh, Surono berkata bahwa kepalanya mirip peta rawan bencana karena pola hitam dan putih itu.
Di antara pilihan mengecat seluruh rambutnya agar tampak wajar, dia memilih warna hitam. Itu adalah pengalaman pertama bagi Surono dan ternyata saat dicuci dengan sampo, cat rambutnya menyebabkan badannya gatal-gatal sehingga harus mengonsumsi obat dari dokter. Efek samping dari obat tersebut membuatnya ngantuk dan lemas.
Itulah sebabnya, kini Surono harus akrab dengan peci untuk menyembunyikan rambutnya. Dia berharap agar rambutnya segera tumbuh sehingga bisa kembali dengan ciri khasnya, rambut putih. Dengan demikian tepat sudah panggilan Mbah Rono disematkan kepadanya.
Dia mengenakan peci, padahal biasanya dia membiarkan rambutnya yang keputihan tanpa penutup kepala sehingga dijuluki Mbah Rono. "Gara-gara salah potong," katanya sambil tertawa.
Kisahnya bermula dari inisiatif Surono di hari Sabtu lalu untuk potong rambut di salon sambil menemani istrinya yang juga ada di sana. Namun, hasilnya justru di luar harapannya, tepi kepala dihabiskan dan bagian atas disisakan.
Surono mengomentari gaya rambutnya ketika itu mirip karakter Bart dalam serial kartun The Simpsons.
Dia pun segera menuju ke tempat cukur rambut langganannya di Jalan Gegerkalong, tapi sedang banyak yang mengantre sehingga dia memutuskan datang ke tempat cukur di sebelahnya. Ternyata hasilnya jauh lebih parah, semakin awut-awutan.
Akhirnya, Surono pun mengalah, dia menunggu di tempat cukur langganannya dan terpaksa rambutnya dibabat habis. "Artinya dalam sehari saya potong rambut tiga kali," ujarnya.
Masalah belum selesai karena setelah rambutnya dipotong pendek, terlihat bercak-bercak antara rambut berwarna hitam dengan yang putih. Sambil berseloroh, Surono berkata bahwa kepalanya mirip peta rawan bencana karena pola hitam dan putih itu.
Di antara pilihan mengecat seluruh rambutnya agar tampak wajar, dia memilih warna hitam. Itu adalah pengalaman pertama bagi Surono dan ternyata saat dicuci dengan sampo, cat rambutnya menyebabkan badannya gatal-gatal sehingga harus mengonsumsi obat dari dokter. Efek samping dari obat tersebut membuatnya ngantuk dan lemas.
Itulah sebabnya, kini Surono harus akrab dengan peci untuk menyembunyikan rambutnya. Dia berharap agar rambutnya segera tumbuh sehingga bisa kembali dengan ciri khasnya, rambut putih. Dengan demikian tepat sudah panggilan Mbah Rono disematkan kepadanya.
Editor : suhendri
Sumber : Kompas.com
Rekomendasi Facebook
