Beban Tanjungpandan
Bangkapos.com - Selasa, 3 Juli 2012 15:47 WIB
Share |

Berita Terkait
TANJUNGPANDAN, 1 Juli berulang tahun. Berbagai kegiatan digelar merayakan hari jadi kota utama di Pulau Belitung. Kemeriahan acara ingin menunjukkan kalau kota ini sudah  benar-benar kota, bukan kampung besar lagi.

Acara yang menyedot tak sedikit dana itu terselip keinginan menegaskan Tanjungpandan sebagai etalase Pulau Belitung yang kian tersohor dengan pariwisatanya. Karena untuk Babel, pariwisata Belitung menjadi daerah tujuan utama.

Puluhan ribu wisatawan setiap tahun berkunjung ke Belitung dan Tanjungpandan adalah pintu masuk sekaligus tepat menginap sebelum menyebar menuju objek wisata yang tersebar di beberapa kecamatan.
Wajar pula Tanjungpandan terus berbenah. Segala fasilitas patut dipenuhi.  Karena itulah Tanjungpandan tergolong istimewa ketimbang kecamatan lainnya di Kabupaten Belitung. 

Di Tanjungpandan pula segala akses ke luar masuk orang dan barang cukup lengkap. Dari laut ada pelabuhan, lewat udara terdapat bandara, apalagi akses dan darat yang menghubungkan ke seluruh kecamatan mulus.
Dengan sarana vital itu mendorong orang-orang berduit untuk berinvestasi. Hotel berbintang bermunculan. Pengusaha lokal juga berbondong-bondong membangun ruko di ruas jalan strategis sekeliling kota. Tak heran bila melintas jalan yang membelah Tanjungpandan, ruko berjejer.

Semua keistimewaan dimiliki Tanjungpandan tanpa arti bila tanpa perencaaan dan penataan sebuah kota dimasa depan. Mau kemana kota ini berjalan? Ini yang beluim jelas. Pemerintah sudah menggadang-gadang Tanjungpandan sebagai pusat pembangunan bisnis yang dikenal dengan CBD itu. Kota ini pun nantinya diperluas sampai pinggiran yang berbatasan dengan kecamatan tetangga seperti Badau, Sijuk, dan Membalong.

Saat ini tumbuhnya bangunan usaha nyaris tak tertata. Taka jelas lagi mana kawasan bisnis, permukiman, dan kawasan hijau. Semua aktivitas menumpuk di sepanjang kota yang  berpenduduk lebih dari 90 ribu jiwa. Pertumbuhan kota dengan investasi yang masuk tak jarang pula menggusur bangunan peninggalan sejarah masa lalu. Seakan ingin memutus mata rantai masa lalu Tanjungpandan yang memang sudah gemilang.

Jika tidak ditata dari awal sebelum kota ini berkembang makin pesat, bukanlah mustahil, wajah Tanjungpandan mengalami penyakit seperti kota-kota  lain di Indonesia. Sumpek, padat dan semrawut. Kota yang sesak dengan polusi sampah dan udara. Hari-hari inipun persoalan sampah belum juga terurai. Kalau terjadi demikian, sangatlah tidak menarik sama sekali.

 Sebelum semuanya terjadi, momen hari jadi ke 174 ini sebagai komitmen menata Tanjungpandan sebagai kota yang berwajah manusiawi dan ramah terhadap lingkungan. Keberadaannya tetaplah cantik dan nyaman. Yang mencerminkan para penghuninya.  Semoga (*)

Editor : dedypurwadi
Sumber : bangkapos.com


Rekomendasi Facebook