Vita Consecrata Monsignor Hila
Rangkaian perayaan syukur Uskup Pangkalpinang, Mgr Hila itu sederhana, khidmat dan agung.
Oh Tuhan
dalam dunia masa kini,
masa yang penuh dengan kerinduan hampa
adakah seorang "nabi"
yang rela kan berbakti
dengan cinta dan damaiMu Tuhan.
Biarkanlah kami menjadi saksiMu
dalam ziarah hidupku yang bahari.
....
Biarkanlah kami menjadi saksiMu
Bagai dian di persadaMu indah
....
Di pucuk idamanku
bersemi dunia citraMu, Tuhan.
TATKALA menerima undangan berlambang konfigurasi perahu dengan tulisan di lambung "Bishop of The Sea" Ego Autem Rogavi Pro Te (Aku Telah Berdoa untukmu): 25 th Tahbisan Uskup, 40 th tahbisan Imamat Monsignor Hilarius Moa Nurak SVD yang berpuncak pada hari ini, 5 Agustus 2012, kita terkenang akan lagu merdu yang dibawakan oleh seorang suster diiringi petikan dawai gitar yang menggetarkan.
Rangkaian perayaan syukur Uskup Pangkalpinang, Mgr Hila yang teritori dan otoritasnya meliputi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Kepulauan Riau itu sederhana, khidmat dan agung. Diawali dengan perayaan ekaristi bersama imam/biarawan/ti asal Keuskupan Pangkalpinang dan yang sedang berkarya di Keuskupan Pangkalpinang.
Sabtu (4/8-2012) malam dilangsungkan Ibadat Pujian dan Adorasi Ekaristi, di Gereja Katedral St Yosef Pangkalpinang.
Menurut Vikjen Keuskupan Pangkalpinang, RD FX Hendrawinata dan Ketua Panitia RD Nicolaus Duli Lolon, Minggu (5/8-2012) akan diselenggarakan Perayaan Ekaristi bersama Duta Besar Vatican, 18 Uskup se Indonesia termasuk dari Singapura dan akan dilanjutkan Pesta Umat.
Minggu (5/8-2012) sore Mgr Hila melangsungkan ramah tamah bersama Pimpinan Daerah, Pemuka Agama dan tamu undangan di Aston Soll Marina Hotel. Perayaan tersebut dimaksudkan sebagai persaudaraan dan kebersamaan yang akan menjadi persembahan terindah bagi kemuliaan Tuhan di tempat yang tinggi.
Itulah perayaan yang berdimensi vertikal dan horizontal. Berdimensi vertikal karena kesetiaan 25 th Tahbisan Uskup dan 40 th Tahbisan Imamat hanya dimungkinkan terjadi karena karya dan penyelenggaraan ilahi. Berdimensi horizontal karena Mgr Hila dikenal akrab oleh para pejuang pembentukan provinsi dan para pemimpin Kepulauan Bangka Belitung.
Mgr Hila sebagai bagian dari Tokoh Bangka Belitung turut berpartisipasi aktif dalam mewujudkan terbentuknya provinsi 12 tahun lalu dengan memberikan dukungan yang sangat signifikan sehingga hanya dalam satu tahun perjuangan, provinsi terbentuk.
Horizontalisme Mgr Hila yang berasal dari Wetebula (21 Februari 1943) Nusa Tenggara Timur dengan para pemimpin Negeri Serumpun Sebalai/Negeri Laskar Pelangi itu bertali sambung secara historis dengan Pahlawan Babel Depati Amir dan Depati Hamzah yang dibuang ke Kupang, NTT hingga wafatnya.
Walikota Pangkalpinang H Zulkarnain Karim memberikan apresiasi khusus atas tali spiritualitas historis heroisme Depati Amir dan Depati Hamzah yang diterima dengan baik dan penuh cinta oleh masyarakat Kupang, NTT waktu itu hingga sekarang dengan berbalas kasih melalui penamaan jalan di Keuskupan Pangkalpinang: Jalan Batu Kadera.
Mgr Hila ditahbiskan imam di Flores, 2 Agustus 1972 dan tahbisan Uskup di Pangkalpinang, 2 Agustus 1987. Dalam tradisi Gereja Mgr Hila telah setia menjalani hidup bakti selama 40 tahun. Pilihan hidup (selibat/tidak menikah) murni, miskin dan taat itu tiada hentinya "ditampilkan" di tengah dunia demi Kerajaan Allah, kerajaan cinta kasih bersama Allah sebagai rajanya.
Pilihan hidup seperti Mgr Hila adalah panggilan Tuhan yang dikuatkan oleh Roh Kudus guna membaktikan diri kepadaNya dengan hati "tak terbagi" (I Kor 7:34). Sebagai pemimpin umat Mgr Hila senantiasa memperjuangkan "hesychia" atau damai batin, doa tiada henti, puasa dan tirakat, menciptakan keseimbangan yang laras serasi antara hidup batin, meditasi tentang sabda Allah dan mendampingi umat dalam gelanggang pengembangan iman secara kontekstual dengan jaman, studi, dialog dan kebudayaan, membangun hidup dalam kota duniawi menuju kota surgawi.
Last but not least! Mgr Hila adalah pemimpin umat Keuskupan Pangkalpinang yang berakar kuat dan pandai mengapresiasi kebudayaan dan peradaban setempat. Dalam kotbah atau sambutan-sambutan Mgr Hila senantiasa membuka dan menutup dengan pantun-pantun indahnya
Itulah hidup bakti Mgr Hila yang kontekstual dengan budaya setempat dalam menjalankan tugas "kenabian" atau profetisnya: mengingatkan akan rencana ilahi bagi umat manusia; menyelamatkan dan mendamaikan serta melayaninya. Tugas mendampingi umat menuju ke kebaikan dan kebenaran sempurna itu menjadi tugas bersama tokoh-tokoh agama lain.
Perayaan akan panggilan khusus Mgr Hila mengingatkan kita semua bahwa dunia ini sejatinya masih diliputi kegelapan dan kerinduan hampa. Masih dinantikan pribadi-pribadi berspirit profetis, sebagaimana Mgr Hila; yang berani dan menjalani hidup bakti agar Allah benar-benar meraja; berani menyanyikan lagu terindahnya bagai burung duri justru manakala duri yang paling tajam menusuk dirinya, sehingga Tuhan tersenyum di surga. Karena suara profetis yang begitu indah disenandungkan dengan pengorbanan diri melalui hidup bakti. In Finem Omnia Mgr Hila!