Orang-orang Besar
KEHIDUPAN memang banyak memberi hikmah pelajaran berharga tentang cinta dan keagungannya bagi mereka yang benar-benar hidup ....
antara orang-orang besar
dengan orang kebanyakan adalah
bahwa orang besar
mengambil peran aktif
dalam membentuk kehidupan mereka; mereka mendefinisikan impian mereka dan melakukan upaya untuk meraihnya.
Sementara orang kebanyakan
dibentuk oleh kehidupan mereka.
Mereka ini menunggu saja dengan pasif kemana kehidupan ini
akan membawa mereka selanjutnya.
Perbedaan di antara
kedua golongan ini adalah
golongan pertama benar-benar hidup, sementara golongan kedua
hanya sekedar hidup apa adanya.
(Michael Gerber)
KEHIDUPAN memang banyak memberi hikmah pelajaran berharga tentang cinta dan keagungannya bagi mereka yang benar-benar hidup serta tidak "sekedar hidup." Maka broadcast BBM yang dikirimkan Anton itu sejatinya mengajak kita untuk menjadi "orang-orang besar".
Perayaan "orang-orang besar" adalah perayaan pribadi-pribadi yang berbeda (pria dan wanita) atau bahkan berbeda suku, agama, ras dan antar golongan (SARA), kemudian berani menyatu. bersimbiose mutualisme dalam kehidupan, kawin dan berpadu, saling meleburkan dua atau lebih kepentingan menjadi satu pasangan "perkawinan" yang solid.
Pekan ini, kita masih mengamati berlangsungnya proses pinang meminang baik antara para bakal calon walikota atau bupati dengan pasangan wakilnya maupun pasangan-pasangan itu dengan partai politik sebagai kendaraan pengusung. Menjadi hidup, dinamis dan kalkulatif karena pada proses itu segala kriteria dan konsesi-konsesi dikemukakan untuk kemudian disanggupi atau tidak.
Para kandidat yang hari-hari ini muncul di media massa maupun muncul aktif bersosialisasi di antara masyarakat Pangkalpinang, Bangka dan Belitung adalah "orang-orang besar" yang akan aktif mewujudkan impian; mengubah kehidupan Kota Pangkalpinang, Kabupaten Bangka dan Kabupaten Belitung lebih bermakna. Mengawal proses pinang meminang, proses pengusungan dan koalisi-koalisi perlu dilakukan oleh kita semua agar "kebesaran orang-orang besar itu" terbukti nantinya dalam realita.
Selain kita belajar dan mengamati para kandidat walikota dan para bupati, Sabtu (1/9) kemarin saya memetik pengalaman Pernikahan Adat Batak antara Yunus Alaan Parlindungan Pakpahan SE MM putra pasangan Manganar Pakpahan dengan Diana br Marpaung, menyunting dr Ervinaria Uly Imaligy br Pasaribu putri Ir Sahat Parulian Pasaribu dengan Dr drg Tiurmina br Tarigan MARS di Balai Samudera, Jakarta.
Selain sukacita yang melimpah dari musik dan nyanyian, pasangan Yunus dan Evi itu berduet menyanyikan kidung cinta mereka yang menggetarkan keluarga dan tamu undangan. Komitmen atas impian persatuan pasangan itu menjadi syahdu dan tertancap di kalbu manakala pengalungan ulos dari puluhan marga terkait sebagai simbol doa restu dilangsungkan.
Ritual suhut pihak wanita menyerahkan dengke (ikan jenis ihan yang hanya hidup di Danau Toba atau Sungai Asahan bagian hulu) bermakna harapan: semoga pasangan pengantin Yunus Evi dan keluarganya senantiasa seia sekata dan senantiasa beriringan dan murah rejeki dalam kehidupannya sebagaimana ikan ihan yang mempunyai karakter hidup di air jernih dan berenang secara beriringan.
"Tio pancarian dohot pangomoan" simpul ungkapan Batak.
Karakter orang-orang besar sebagaimana dikristalkan oleh Michael Gerber adalah karakter yang sesungguhnya diidamkan oleh semua orang termasuk para kandidat walikota dan bupati. Kata kuncinya adalah komtemplasi, tafakur dan meditasi aktif membangun komitmen pada setiap impian dan cita-cita.
Orang-orang besar sesungguhnya pula adalah mereka yang rela menjadi garam, lebur dan memberi rasa bagi masyarakat. Orang-orang besar adalah mereka yang bersedia menjadi cahaya bagi sesamanya. Semoga!