Yarsih Diduga Terjebak di Suriah
Yarsih, warga RT 04/07, Kampung Ciparang,Bandung Barat hingga kini keberadaannya tidak diketahui.
Laporan Wartawan Tribun Jabar
BANGKAPOS.COM, CIPATAT - Yarsih (35), warga RT 04/07, Kampung Ciparang, Desa Cipatat, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB), hingga kini keberadaannya tidak diketahui.
Pihak keluarga menduga, ibu tiga anak itu menjadi korban penjualan manusia oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Tribun, terakhir kali Yarsih memberi kabar kepada pihak keluarga melalui sambungan telepon, akan dikirimkan oleh dua orang yang merekrutnya ke salah satu negara di wilayah Timur Tengah, yaitu Suriah.
Informasi tersebut diterima pihak keluarga pada Mei 2009 lalu saat Yarsih masih berada di Jakarta. Beberapa hari setelah itu, Yarsih sempat pulang ke rumah orangtuanya di Cipatat. Namun seminggu kemudian, Yarsih kembali dijemput oleh Ny Cucu dan Asep.
"Sejak ngasih kabar pada 2009 itu, tidak ada kabar lagi sampai sekarang. Kami tidak tahu kakak saya berada di mana dan bagaimana kabarnya," ujar Wulani (32), adik kandung Yarsih, dalam bahasa Sunda saat ditemui di rumah orangtua Yarsih, Selasa (11/9/2012).
Pada saat itu, Yarsih sempat berpesan kepada Wulani untuk menghubungi dan mencari dua orang yang merekrutnya yaitu Ny Cucu, warga Parongpong, dan Asep, warga Rajamandala.
Wulani pun menuruti permintaan kakaknya tersebut dengan menghubungi nomor Ny Cucu, bahkan mendatangi rumahnya di Parongpong, KBB.
Namun, kata Wulani, saat itu, Ny Cucu justru mengelak dan mengaku tidak mengetahui keberadaan Yarsih. Ia pun mengaku sempat dijanjikan agar datang kembali pada bulan berikutnya dengan jaminan Cucu sudah mengetahui informasi tentang kabar dan keberadaan kakaknya itu.
"Saya sudah beberapa kali datang ke rumahnya tapi jawabannya selalu tidak tahu. Dia (Cucu) hanya janji-janji saja. Bahkan dia malah sempat mengaku tidak memberangkatkan kakak saya. Saya tidak tahu harus bagaimana lagi," tambah dia.
Namun alangkah kagetnya, saat pertengahan tahun 2011, Wulani mendapat telepon dari Yarsih walaupun hanya beberapa menit. Saat itu, kata dia, janda tiga anak itu memberitahu pihak keluarga bahwa dirinya tengah berada di Suriah.
Selain itu, kata Wulani, Yarsih juga sempat mengatakan ingin segera pulang ke Indonesia karena tidak tahan dengan suasana di Suriah.
Selain khawatir terkena dampak konflik bersenjata di Suriah, menurut Wulani, kakaknya itu sempat mengaku tidak betah karena mendapat perlakuan buruk dari majikannya.
"Waktu itu dia bicaranya terbata-bata seperti ketakutan. Neleponnya juga hanya sebentar. Setelah itu, tidak ada lagi kontak," kata dia.
Mengetahui kabar keberadaan Yarsih di Suriah bukannya membuat senang pihak keluarga. Mereka justru semakin cemas dengan keselamatan ibu dari Rica (17), Kadim (16), dan Harumi (11) itu.
Ibu kandung Yarsih pun, Emak Ari (65), makin sering sakit-sakitan setelah mengetahui anaknya berada di Suriah. Menurut Wulani, sejak Yarsih meninggalkan rumah pada 2009, ibunya sering sekali melamun dan memikirkan anak ketiganya itu.
Bahkan, setelah mengetahui bahwa Yarsih berada di Suriah, kesehatan ibunya semakin drop.
"Tiap hari ibu saya menangis memikirkan Yarsih. Ibu bahkan sampai bilang, sebelum meninggal ingin bertemu dulu dengan Yarsih," ujar Wulani sambil memeluk ibunya yang tengah menangis.
Anggota Badan Perwakilan Desa (BPD) Cipatat, Radi Rohadi, mengatakan, pihaknya langsung melapor ke Polsek Cipatat begitu mengetahui salah seorang warganya diduga menjadi korban human traficking atau perdagangan manusia.