• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 17 September 2014
Bangka Pos

Mukoyoshi, Tradisi Adopsi Menantu ala Jepang

Rabu, 19 September 2012 15:21 WIB
Mukoyoshi, Tradisi Adopsi Menantu ala Jepang
AP
Ilustrasi
BANGKAPOS.COM, TOKYO - Tata cara adopsi ini sangat khas Jepang, dikenal dengan nama Mukoyoshi. Jepang adalah negara dengan tingkap adopsi tertinggi kedua di dunia, dengan rata-rata lebih dari 80.000 kasus per tahun namun sasaran adopsi bukan anak-anak melainkan laki-laki dewasa usia 20-30-an.

"Secara historis, kasus semacam ini lebih sering terjadi pada keluarga-keluarga di bagian barat Jepang diamna keluarga pebisnis mencoba mencari sosok yang dianggap paling cocok sebagai penerus," kata Mariko Fujiwara, seorang sosiolog pada Institut Kehidupan Hakuhodo.

Intinya kalau tak ada anak laki-laki yang dianggap cocok untuk meneruskan garis dan bisnis keluarga, maka sosok itu bisa dicari dengan mengawinkan anak perempuan dengan menantu yang handal mengurus usaha, kata Fujiwara.

"Memang cara yang sangat pragmatis dalam rangka mempertahankan kelangsungan usaha keluarga," jelasnya.

Bahkan hingga hari ini sebagian besar perusahaan Jepang, termasuk raksasa industri yang dikenal dunia, dianggap sebagai perusahaan keluarga. Termasuk diantaranya pabrikan mobil Toyota dan Suzuki, pembuat kamera Canon serta perusahaan spesialis saus dan kecap, Kikkoman.

Suzuki misalnya, beberapa kali berada dibawah kendali anak adopsi. Pimpinan tertinggi Suzuki saat ini, Osamu Suzuki, adalah anak adopsi keempat dalam sejarah perusahaan itu.

"Bisnis keluaraga yang dijalankan oleh menantu lelaki biasanya malah jauh lebih bagus pertumbuhannya dibanding kalau dijalankan oleh anak laki-laki sendiri," ungkap Yasuaki Kinoshita, analis pada perusahaan pengelola keuangan Nissay Asset Management, yang banyak menanam modal dalam perusahaan-perusahaan Jepang.

"Saat berinvestasi pada sebuah perusahaan keluarga di lantai bursa, sisi negatif perusahaan itu ada pada soal tata kelola perusahaan dan suksesi pengurusnya."

Di Matsui Securities, sebuah perusahaan sekuritas tua di Jepang, pimpinannya saat ini Michio Matsui juga diadopsi meski dengan konsekuensi harus menanggalkan nama keluarganya sendiri.

"Saya anak laki-laki tertua dalam keluarga (asli) kami, jadi saya agak ragu menjadi anak adopsi keluarga lain," Matsui bercerita. "Tapi orangtua kandung saya bilang mungkin ini memang sudah jadi jalan hidup saya."

Peluang bisnis

Pentingnya melanjutkan garis keturunan dan mempertahankan kelangsungan bisnis membuat Chieko Date membuka situs perjodohan dimana calon suami harus bersedia diadopsi oleh keluarga istrinya kelak. "Pangsa pasarnya jelas karena tingkat kelahiran di Jepang sangat rendah dan banyak orangtua yang hanya punya anak perempuan."

"Sementara banyak juga laki-laki yang mencari kesempatan untuk memanfaatkan ketrampilan berbisnis mereka tanpa status sebagai pegawai perusahaan karena di tengah ekonomi seperti sekarang, mencari kenaikan pangkat jadi lebih sulit," tambah Date.

Tsunemaru Tanaka mendaftar di situs itu bulan November lalu. Dia mengaku sudah berhasil membangun bisnis yang cukup sukses namun kemudian bisnisnya diambil alih istrinya yang juga patner usahanya. Kini dia berharap ada yang mau mengadopsinya sehingga dia bisa kembali terjun mengelola bisnis keluarga.

"Tidak masalah mengganti nama karena menurut saya nama itu sekedar panggilan yang diberikan pemerintah untuk urusan kartu keluarga," kilahnya. "Saya yakin keahlian saya bisa sangat bernilai dan ini ada peluang utnuk mewarisi sebuah bisnis keluarga dan membesarkannya, jadi akan menguntungkan semua pihak."

Tanaka sudah bertemu enam perempuan melalui ajang jodoh ini tetapi belum menemukan sosok yang dicarinya.

"Saya mencari-cari informasi tentang perusahaan yang dimiliki keluarga perempuan-perempuan ini," kata Tanaka.

"Saya tidak mengawini perusahaannya tetapi toh saya ingin tahu juga," tambah Tanaka.

Sumber : BBC Indonesia
Editor: fitriadi
Sumber: Kompas.com
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
130734 articles 12 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas