Mukoyoshi, Tradisi Adopsi Menantu ala Jepang

Tata cara adopsi ini sangat khas Jepang, dikenal dengan nama Mukoyoshi.

Mukoyoshi, Tradisi Adopsi Menantu ala Jepang
AP
Ilustrasi

"Secara historis, kasus semacam ini lebih sering terjadi pada keluarga-keluarga di bagian barat Jepang diamna keluarga pebisnis mencoba mencari sosok yang dianggap paling cocok sebagai penerus," kata Mariko Fujiwara, seorang sosiolog pada Institut Kehidupan Hakuhodo.

Intinya kalau tak ada anak laki-laki yang dianggap cocok untuk meneruskan garis dan bisnis keluarga, maka sosok itu bisa dicari dengan mengawinkan anak perempuan dengan menantu yang handal mengurus usaha, kata Fujiwara.

"Memang cara yang sangat pragmatis dalam rangka mempertahankan kelangsungan usaha keluarga," jelasnya.

Bahkan hingga hari ini sebagian besar perusahaan Jepang, termasuk raksasa industri yang dikenal dunia, dianggap sebagai perusahaan keluarga. Termasuk diantaranya pabrikan mobil Toyota dan Suzuki, pembuat kamera Canon serta perusahaan spesialis saus dan kecap, Kikkoman.

Suzuki misalnya, beberapa kali berada dibawah kendali anak adopsi. Pimpinan tertinggi Suzuki saat ini, Osamu Suzuki, adalah anak adopsi keempat dalam sejarah perusahaan itu.

"Bisnis keluaraga yang dijalankan oleh menantu lelaki biasanya malah jauh lebih bagus pertumbuhannya dibanding kalau dijalankan oleh anak laki-laki sendiri," ungkap Yasuaki Kinoshita, analis pada perusahaan pengelola keuangan Nissay Asset Management, yang banyak menanam modal dalam perusahaan-perusahaan Jepang.

"Saat berinvestasi pada sebuah perusahaan keluarga di lantai bursa, sisi negatif perusahaan itu ada pada soal tata kelola perusahaan dan suksesi pengurusnya."

Di Matsui Securities, sebuah perusahaan sekuritas tua di Jepang, pimpinannya saat ini Michio Matsui juga diadopsi meski dengan konsekuensi harus menanggalkan nama keluarganya sendiri.

"Saya anak laki-laki tertua dalam keluarga (asli) kami, jadi saya agak ragu menjadi anak adopsi keluarga lain," Matsui bercerita. "Tapi orangtua kandung saya bilang mungkin ini memang sudah jadi jalan hidup saya."

Peluang bisnis

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: fitriadi
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help