Noryawati Kembangkan Bioplastik Edibel dari Rumput Laut

Dewasa ini, pola konsumsi manusia sudah bergeser ke arah instan dan praktis. Banyak produk pangan dikemas untuk 1 takaran penyajian

Noryawati Kembangkan Bioplastik Edibel dari Rumput Laut
TRIBUNNEWS
Norywati Mulyono
BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Dewasa ini, pola konsumsi manusia sudah bergeser ke arah instan dan praktis. Banyak produk pangan dikemas untuk 1 takaran penyajian, misalnya roti, kopi, mie instan, permen, dan sebagainya. Kemasan yang digunakan umumnya terbuat dari plastik atau aluminium foil yang dilapisi dengan plastik.

Keuntungan positifnya adalah praktis dan higienis. Namun, kemasan kosong tersebut jumlahnya sangat banyak dan telah mencemari lingkungan. Belum lagi plastik dan aluminium foil tersebut juga digunakan sebagai polybag, membungkus pupuk, benih, dan sebagainya.

Inilah yang menginspirasi Noryawati Mulyono untuk mengembangkan Bioplastik Edibel yakni bioplastik dari rumput laut. Berkat produk inilah, dirinya menjadi salah satu finalis dalam Green Final Diplomat Success Challenge season 3.

Dengan penggunaan bahan ini memungkinkan plastik dapat ikut dimakan sehingga  lebih praktis lagi bagi konsumen, tidak mencemari lingkungan, dan harganya kompetitif.

"Jika sachet tersebut digunakan sebagai kemasan bumbu mie instan, maka konsumen tidak lagi perlu membuka dan membuang sachet bumbu. Jadi hanya membuka kantong mie, kemudian mencelupkan semua isinya ke dalam air mendidih," tuturnya di Jakarta, Rabu (14/11/2012).

Dikatakannya, lembaran ini dibuat dari rumput laut Eucheuma cottonii yang banyak terdapat di Indonesia dan harganya Rp 6800-7200/kg di tingkat petani pengumpul.

"Proses pembuatan lembaran ini tidak menggunakan suhu tinggi dan bahan kimia berbahaya seperti pada pembuatan plastik dan aluminium foil. Jika perlu diwarnai, akan digunakan pewarna alami untuk makanan," katanya.

Bagaimana dengan faktor keamanan? Noryawati Mulyono yang saat ini tercatat sebagai dosen  Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, dirinya tentu akan memberikan jaminan keamanan dengan melakukan penelitian di laboratorium.

"Fokus yang mau disasar adalah memang pasar mie instan karena limbah plastik bekas wadah bumbu ataupun minyak menghasilkan  12600 ton. Kalau dengan bahan ini tidak ada kandungan bahan kimianya," tuturnya.

Terkait dengan beaya dibandingkan dengan plastik mie instan selama ini lebih murah. Kalau alumium foil beayanya Rp 79 tapi kalau dengan bahan kita bisa Rp 30 per bungkusnya. "Untuk karya cipta ini sudah saya  dipatent-kan," katanya. (Eko Sutriyanto)

Editor: asmadi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved