Sabtu, 29 November 2014
Bangka Pos

Suhaimi Bidik Revitalisasi Transmigrasi

Senin, 19 November 2012 20:14 WIB

Laporan Wartawan Bangka Pos, Edhie

BANGKAPOS.COM, BELITUNG
- Revitalisasi transmigrasi melalui pengembangan kesenian dan kerajinan lokal mulai diwacanakan bidang Pelatihan Penempatan Tenaga Kerja (P2TK) dan Transmigrasi Disnakertransos Kabupaten Belitung. Langkah inovatif ini merupakan harapan baru untuk meminimalisir angka pengangguran di masyarakat.

Kepala bidang P2TK dan Transmigrasi Disnakertransos Kabupaten Belitung Suhaimi mengatakan program itu akan dilaksanakan 2013 mendatang.

"Ada beberapa program revitalisasi transmigrasi. Tapi mengedepankan kesenian dan kerajinan lokal menjadi ikon baru kita kedepan," kata Suhaimi kepada bangkapos.com, Senin (19/11/2012).

Wacana ini menurut Suhaimi masih dalam tahap pembahasan internal. Kesenian dan kerajinan bisa menjadi alternatif lain untuk membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat yang belum bekerja.

"Kalau transmigrasi identik dengan pertanian, perkebunan, peternakan dan lainnya yang berhubungan dengan lahan. Ini yang mendorong kita untuk lebih kreatif," papar Suhaimi.

Suhaimi menjelaskan konsep pengembangan revitalisasi transmigrasi melalui kesenian dan kerajinan lokal sangat sederhana. Ia mencontohkan di beberapa lokasi transmigrasi merupakan kumpulan pendatang dari satu daerah.

"Tentunya ada kesenian disana. Dan itu bisa dikembangkan, peran dinas bisa memfasilitasinya agar bernilai jual," papar Suhaimi.

Khusus untuk kerajinan lokal, Suhaimi tertarik untuk mengembangkan kerajinan kerang. Menurut ia, sebagai kabupaten yang memprogramkan pariwisata harus diselaraskan dengan cinderamata lokal terutama pariwisata pantai.

"Masyarakat transmigran bisa kita latih dan berikan pelajaran untuk menekuni kerajinan ini. Dengan harapan, bisa dikerjakan di daerah transmigran dan menjadi pemasukan pendapatan lain. Hanya masalahnya, wacana ini masih terbentur pendanaan. Semoga tahun depan bisa," terang Suhaimi.

Sedangkan untuk program yang dibiayai APBN dan APBD, menurut Suhaimi ada dua yaitu padat karya produktif dan padat karya infrastruktur.

"Ada tiga dusun transmigran yang mendapatkannya, dusun Rejosari dan Rejomulyo untuk APBN. Sedangkan Desa Ibul untuk APBD. Melalui pembukaan lahan dan pembayaran upah kerja sesuai hari orang kerja (HOK), bisa menampung tenaga kerja," jelas Suhaimi.

Minim SDM
Ketua Kelompok Tani Dusun Rejosari Desa Membalong Kecamatan Membalong Daris mengatakan permasalahan yang paling utama dalam pengembangan wilayah transmigrasi adalah sumber daya manusia (SDM) yang minim. Ia mencontohkan di wilayahnya semua sarana dan prasarana sejak tahun 1986 sudah dipenuhi pemerintah daerah.

"Pemerintah sudah gak bisa kita ngomong lagi. Mereka (pemda--red), sudah sangat membantu kami. Tapi ya itu (SDM--red)," jelas Daris.

Daris merupakan satu dari 325 warga transmigran yang menetap di Rejosari. Daris merupakan transmigran dari Magelang Jawa Tengah.

Ia bersama kelompok tani lokal masih mengedepankan sektor pertanian, perkebunan, peternakan dan lainnya. Namun kedepan, ia membidik sektor kesenian untuk alternatif promosi dan usaha warga rejosari.

"Pernah lihat Warok Krido (kesenian Magelang--red) disini kan. Itu kita yang mainkan. Jadi, bisa menjadi penopang hidup kalau dikerjakan dengan serius," ungkap Daris.

Soal lahan pertanian atau perkebunan Daris mengatakan masing-masing kepala keluarga (KK) mengelola 2,4 hektar.

"Masalahnya kembali ke pribadi masing-masing. Kalau mau maju ya usaha dengan optimal. Tapi kalau setengah-setengah ya percuma saja bantuan pemerintah," jelas Daris.
Penulis: ediyusmanto
Editor: fitriadi
Sumber: Pos Belitung

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas