Kamis, 2 April 2015
Home » Kolom » Opini

Uji Publik Kurikulum 2013

Senin, 7 Januari 2013 10:21

SEBELUM diberlakukan tahun ini,  terlebih dulu dilakukan uji publik terhadap kurikulum 2013 diberbagai daerah termasuk kepulauan Bangka Belitung. Jika dilihat dalam paparan uji publik yang dilakukan di Kepulauan Bangka Belitung, ada beberapa hal yang menarik perlu dicermati bahwa pertama, kurikulum berbasis kompetensi kembali dijadikan sebagai alasan dalam pengembangan kurikulum, kedua, sikap, pengetahuan dan ketrampilan juga dijadikan dasar pijakan.

Ini menunjukkan kembalinya kurikulum Indonesia merujuk kepada kurikulum berbasis kompetensi yang merupakan kurikulum tahun 2004.
Pada prinsipnya suatu pengembangan yang dapat memajukan pendidikan tidaklah salah bahkan harus didukung oleh segenap bangsa Indonesia, namun melihat landasan yuridis yang dijadikan acuan kurikulum 2013 menunjukkan konsistensi dan arah pendidikan Indonesia belum sepenuhnya terfokus.

Perubahan kekuasaan juga ikut berdampak pada kebijakan pendidikan. Belumlah rampung kurikulum 2006 (KTSP) yang akhirnya pada tingkatan satuan pendidikan menimbulkan berbagai administrasi yang harus dilaksanakan guru yang mengakibatkan beban guru semakin sulit karena dengan sistem administrasi yang dituntut mulus juga menghendaki peserta didik lulus dengan nilai yang mulus yang akhirnya guru menjadi terhambat untuk mulus dalam pengembangan dirinya sendiri. Dan kini muncul kurikulum baru yang akan menekankan pada karakter.

Alasan lain yang kurang pas dalam pengembangan kurikulum 2013 adalah tawuran pelajar. Sebagaimana kita ketahui tawuran pelajar hanya terjadi di kota Jakarta dan beberapa kota metropolis saja. Apakah alasan ini dapat dijadikan dasar bahwa seluruh Indonesia berlaku masalah ini. Setidaknya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung belum pernah terdengar tawuran dan juga beberapa provinsi lainnya juga sangat tentram. Jika dijadikan dasar maka sungguh lah aneh pemaksaan terhadap karakter dalam kurikulum 2013. Alasan lainnya juga narkoba, korupsi, plagiarisme, kecurangan dalam ujian juga dijadikan alasan. Apakah ini juga harus dipaksakan dengan kurikulum berkarakter?

Kita bisa melihat apakah narkoba juga karena kurikulumnya yang salah? Korupsi apakah guru mengajarkan demikian selama ini? Tidaklah demikian adanya. Dan kenapa lingkungan diluar sekolah tidak menjadi sorotan tajam. Karena didikan di sekolah telah mendidik dan menjadikan anak untuk berkarakter. Selama ini pendidikan yang disalahkan, guru yang persalahkan karena didikannya salah, kurikulumnya yang salah.

Cobalah untuk mengungkapkan sesuatu yang terjadi diluar sekolah yang mengakibatkan didikan lingkungan luar sekolah juga berperan lebih besar dalam mengarahkan anak untuk tawuran, narkoba, plagiarisme, contek mencontek. Sifat instan yang diperoleh terkadang dibawa ke sekolah, ketika keluar dari sekolah, maka apakah itu produk dari sekolah..marilah berpikir lebih jernih untuk mengkritisi kurkulum ini agar nantinya Indonesia ini jelas arah pendidikannya, karakter atau kompetensi atau bahkan kedua-duanya.

Disisi lain, perubahan kurikulum juga akan mengakibatkan multiplayer effect yang harus dibuat regulasinya agar tidak berdampak negative terhadap guru seperti beban guru yang sertifikasi terhadap mata pelajarannya, mata Pelajaran TIK yang harus ada disemua pelajaran yang belum diketahui apakah semua guru memahami TIK tersebut, mata pelajaran bahasa inggris yang jam pelajarannya berubah dan beberapa hal terkait dengan regulasi yang telah dibuat sebelumnya yang akan menjadikan guru tidak tercapai beban mengajarnya. Dan disisi lain tampak bahwa akan ada fotopolio siswa yang tentunya akan merepotkan guru secara administrasi.

Halaman12
Editor: dedypurwadi
Sumber: bangkapos.com
KOMENTAR

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas