Selasa, 28 April 2015
Home » Iptek

Beda Otak Orang Indonesia dengan Jepang

Jumat, 5 April 2013 21:39

Beda Otak Orang Indonesia dengan Jepang
wordpress.com
Ilustrasi

Kenyataan  seperti itu kelihatan sekali saat Ketua DPRD Ginanjar Kartasasmita berbicara Rabu 20 Februari 2008 di Hotel Okura Tokyo, di depan sekitar lima puluh orang Jepang baik anggota parlemen, pers maupun pengusaha Jepang.

Dalam rangka peringatan 50 tahun hubungan diplomatik Jepang-Indonesia tahun 2008 lalu, Ginanjar punya ide agar Jepang menerima kiriman seribu atau dua ribu pelajar Indonesia di Jepang sebagai bagian dari pertukaran pelajar, agar mereka mengenal lebih lanjut langsung di tempat (Jepang) budaya dan semua pemikiran Jepang.

“Kalau cuma pengiriman sepuluh dua puluh orang dampaknya kecil sekali ,bisa diabaikan. Tahun ini mungkin bisa dilakukan pengiriman ribuan pelajar Indonesia ke Jepang. Mereka yang masih muda nanti akan menjadi pemimpin di masa depan dan hubungan Indonesia-Jepang akan semakin baik. Lalu berulang lagi 50 tahun mendatang nanti. Kalau Cuma kirim sepuluh dua puluh orang tak akan ada dampak yang kelihatan nyata,” ujarnya, saat itu.

Seorang wartawan Jepang dan pengusaha Jepang kepada penulis menanggapi, hal itu memang sangat baik. Tapi kalau dia mengungkapkan saat ini, hal itu terlambat sekali, kata mereka.  Seharusnya Ginanjar mengatakan beberapa tahun lalu. Persiapan itu perlu dilakukan sedikitnya satu tahun sebelumnya.

Mengapa demikian? Pengiriman jumlah besar bukan hanya sulit dilakukan, tetapi persiapan Jepang sebagai tuan rumah perlu dilakukan jauh hari ke berbagai hal. Belum lagi perlakuan serupa harus dilakukan ke negara lain. Kalau tidak demikian akan terjadi rasa iri dari negara lain dan kejadian ini akan disebutkan sebagai diskriminasi negara Jepang terhadap negara lain tersebut. Banyak sekali aspek harus dipikirkan jauh hari, tidak mudah melakukan hal itu walaupun idenya brilliant sekali.

Maksud baik saja tidak cukup. Praktik belum tentu bisa dilakukan dengan mudah. Inilah satu bukti banyak sekali ide kita, banyak sekali keinginan kita, banyak sekali yang langsung melontarkan ke masyarakat segala ide, banyak sekali yang langsung mengoperasionalkan dan menggelindingkan bola, tapi kurang terpikirkan dampaknya lebih lanjut dan lebih luas.

Pada perdagangan juga demikian. Penawaran yang dilakukan, muncul tanggapan dari penjual Indonesia. Mereka ingin segera dilaksanakan, seolah tak sabar. Tidak tahu kalau di Jepang perlu berbagai tahapan berbagai proses untuk dapat melanjutkan permintaan mereka.

Halaman1234
Editor: fitriadi
Sumber: Tribunnews
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas