Babel Terancam Ekspor Kuli
Pakar Lingkungan Hidup Prof Dr Emil Salim pernah memberi peringatan
Tayang:
Laporan Wartawan Bangka Pos, Teddy Malaka
Pakar Lingkungan Hidup Prof Dr Emil Salim pernah memberi peringatan, Bangka Belitung akan merana jika timah habis. Peringatan Emil Salim terkait fakta yang menunjukkan di daerah-daerah yang kaya hasil tambang masih banyak kasus kemiskinan, kebodohan dan kerusakan lingkungan parah yang berpotensi menimbulkan bencana.
PENDAPAT Emil Salim tentu bukan tanpa alasan. Perekonomian Bangka Belitung kenyataannya masih bertumpu pada sektor tambang timah. Sektor usaha lain masih membutuhkan proses dan topangan untuk perkembangannya hingga tumbuh menjadi unggulan Babel.
Sekretaris Asosiasi Tambang Timah Indonesia (ATTI) Hendra Apollo juga mengingatkan, masa depan Bangka Belitung akan suram jika tidak ada pengembangan usaha selain pertambangan timah.
Beberapa kasus perambahan hutan untuk kepentingan penambangan pun terjadi. Pengusahanya ditangkap, meski hukumannya tidak seberat penambang rakyat yang terkena razia.
"Sebenarnya bukan salah tambang rakyat saja, tetapi semuanya terlibat. Rakyat menjual ke pengusaha, pengusaha mengekspor. Sementara syarat ekspor mestinya ada sertifikasi dari lembaga surveyor, ternyata timah ilegal tetap bisa diekspor. Jadi tidak hanya rakyat, tetapi juga pengusaha dan pemerintah juga terlibat, sementara aparat membekingi. Mereka-mereka seperti cuci tangan sehingga hanya penambang rakyat yang salah," kata Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bangka Belitung, Ratno Budi, Sabtu (18/5/2013).
Pakar Lingkungan Hidup Prof Dr Emil Salim pernah memberi peringatan, Bangka Belitung akan merana jika timah habis. Peringatan Emil Salim terkait fakta yang menunjukkan di daerah-daerah yang kaya hasil tambang masih banyak kasus kemiskinan, kebodohan dan kerusakan lingkungan parah yang berpotensi menimbulkan bencana.
PENDAPAT Emil Salim tentu bukan tanpa alasan. Perekonomian Bangka Belitung kenyataannya masih bertumpu pada sektor tambang timah. Sektor usaha lain masih membutuhkan proses dan topangan untuk perkembangannya hingga tumbuh menjadi unggulan Babel.
Sekretaris Asosiasi Tambang Timah Indonesia (ATTI) Hendra Apollo juga mengingatkan, masa depan Bangka Belitung akan suram jika tidak ada pengembangan usaha selain pertambangan timah.
"Kita bisa ekspor kuli, tidak lagi ekspor timah, kalau timah ini sudah habis. Kita akan seperti provinsi miskin yang banyak kirim TKI (Tenaga Kerja Indonesia) untuk jadi kuli dan pembantu," kata Hendra Apollo, Kamis (16/5/2013).
Masyarakat Babel, khususnya yang tinggal di dekat wilayah penambangan timah, kenyataannya banyak yang mengandalkan penghasilan dari upaya penggalian mineral ini, secara langsung maupun tidak langsung.
Beberapa waktu lalu, penduduk pesisir pantai Kecamatan Parittiga, antara lain di Dusun Jebu Laut Desa Kelabat dan Dusun Penganak Desa Air Gantang, sempat protes terhadap PT Timah Tbk. Warga keberatan terhadap keputusan perusahaan penambangan itu yang mengarahkan aktivitas bongkar muat pasir timah hasil penambangan kapal isap produksi (KIP) di tengah laut yang masuk wilayah Parittiga.
Dampaknya pada penyerapan tenaga kerja bongkar muat (TKBM), serta menurunnya pendapatan penyedia jasa transportasi dan pedagang di pesisir pantai tersebut. Perekonomian masyarakat di pesisir pantai tersebut pun terpengaruh.
"Sekarang penanganan soal bongkar pasir timah langsung dilakukan PT Timah. Yang kami pertanyakan, kenapa bongkarnya harus di tengah laut? Dulu ada keseimbangan dengan masyarakat, sekarang nggak melibatkan TKBM lagi. Malah bongkar di tengah laut," keluh seorang warga Desa Air Gantang , Rabu (24/4) lalu. PT Timah Tbk kemudian mengakomodir keinginan warga tersebut. Bongkar muat kembali dilakukan di darat.
Tidak sekadar memberi harapan untuk menjadi buruh angkut hasil tambang, keberadaan kapal isap juga memberi penghasilan bagi desa. Sejumlah desa di daerah pesisir yang menjadi lokasi penambangan laut mematok sumbangan pihak ketiga, familiar disebut fee kapal isap.
Sayangnya, beberapa kasus pengelolaan dana sumbangan pihak ketiga ini ada yang berujung terhadap perbuatan melawan hukum. Hal ini dialami seorang mantan Kepala Desa Kelabat, Kecamatan Kelapa, Bangka Barat yang pernah masuk dalam DPO (Daftar Pencarian Orang) Kejaksaan Tinggi Babel terkait pertanggung jawaban penggunaan dana itu.
Tambang rakyat
Berbicara penambangan timah di Babel pasti tidak lepas dengan yang namanya tambang rakyat. Terkait soal legalitas, dari seluruh wilayah di Provinsi Babel, hanya Kabupaten Belitung Timur yang memayungi penambang rakyat di daerah ini dengan Wilayah Penambangan Rakyat.
Sementara PT Timah Tbk yang diakomodir oleh Permen ESDM Nomor 24 Tahun 2012 tidak bisa menyerap seluruh penambang rakyat yang ada. Walhasil, praktik tambang timah ilegal masih banyak terjadi di Bangka Belitung.
Direktur PT Timah Tbk, Sukrisno memperkirakan terdapat sekitar 6.230 unit tambang rakyat beroperasi di tahun 2012. Bahkan, jumlah tambang ini diperkirakan terus bertambah hingga mencapai sekitar 9.000 unit pada tahun ini. Menurut Sukrisno, PT Timah Tbk memperhitungkan sekitar 138 ribu ton pasir timah yang berada di cadangan mereka hilang sejak tahun 2008.
"Data kami, cadangan (timah) hilang 138 ribu ton. Ini menjadi pertanyaan kami," katanya, Rabu (22/5/2013).
Ribuan tambang ini tidak hanya beroperasi di IUP PT Timah Tbk, tetapi juga di kawasan konservasi, hutan lindung dan hutan produksi.
Perambahan kawasan konservasi di kaki Menumbing adalah contoh perambahan kawasan terlarang untuk kepentingan operasional tambang, seperti pantauan Bangkapos.com (Bangka Pos Group) pada bulan Maret lalu.
Beberapa kasus perambahan hutan untuk kepentingan penambangan pun terjadi. Pengusahanya ditangkap, meski hukumannya tidak seberat penambang rakyat yang terkena razia.
"Sebenarnya bukan salah tambang rakyat saja, tetapi semuanya terlibat. Rakyat menjual ke pengusaha, pengusaha mengekspor. Sementara syarat ekspor mestinya ada sertifikasi dari lembaga surveyor, ternyata timah ilegal tetap bisa diekspor. Jadi tidak hanya rakyat, tetapi juga pengusaha dan pemerintah juga terlibat, sementara aparat membekingi. Mereka-mereka seperti cuci tangan sehingga hanya penambang rakyat yang salah," kata Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bangka Belitung, Ratno Budi, Sabtu (18/5/2013).
Ekonomi timah
Namun apa dikata, tambang timah mau tidak mau harus diakui tetap merupakan penyumbang terbesar perekonomian Bangka Belitung. Badan Pusat Statistik (BPS) Babel menilai sektor pertambangan yang sejauh ini menggerakkan sistem perekonomian Bangka Belitung. Ketika harga timah jatuh, ekonomi masyarakat pun melemah.
"Kalau harga timah murah, pasar akan sepi. Ini membuktikan timah sangat mempengaruhi. Timah menggerakan sektor lain, terutama jasa dan perdagangan," kata Kepala BPS Bangka Belitung, Teguh Pramono, Jumat (17/5/2013).
Hasil Pendataan Domestik Regional Bruto (PDRB) dan angka pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung juga mendukung kenyataan itu. Ketika sektor pertambangan dan penggalian yang didominasi usaha pertimahan sedang tinggi aktivitasnya, pertumbuhan prekonomian berjalan linier. Namun ketika sektor ini terjerembab, pertumbuhan ekonomi Babel pun terdampak menjadi muram.
Menurut Teguh, pertumbuhan ekonomi Babel bisa dilihat dari pergerakan PDRB, sektor tambang menjadi peran yang sangat besar. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada 2003 sebesar 11,9 persen dan pertumbuhan terendah terjadi pada 2009 sebesar 3,7 persen.
"Kata kuncinya, belum ada selain sektor timah yang bisa berpengaruh signifikan. Sementara sektor pertanian dan perkebunan baru mulai, perkebunan pun kebanyakan masyarakat hanya jadi buruh sawit," kata Teguh.
Bank Indonesia dalam kajian ekonomi regional Provinsi Bangka Belitung pada Triwulan Tahun 2007, menyebut perekonomian Bangka-Belitung berbasis pada sektor-sektor primer, khususnya pertimahan. Sektor primer inilah yang merupakan andalan perekonomian Babel dan merupakan sektor tempat banyak penduduk menggantungkan hidup mereka.
Sektor primer Babel mempunyai komoditas andalan yakni timah. Tingginya permintaan timah di pasar dunia telah membuat komoditas tersebut terus meningkat dan tentunya mempengaruhi dinamika perekonomian Babel.
Dikutip dari www.bi.go.id, terdapat beberapa implikasi sehubungan dengan keterkaitan antara perkembangan harga timah dunia dengan pertumbuhan ekonomi di Babel. Melihat cukup sensitifnya pertumbuhan ekonomi Babel terhadap pergerakan harga timah di pasar internasional, maka perekonomian Babel sangat terkait erat dengan situasi perekonomian dunia, khususnya permintaan timah.
Dikutip dari www.bi.go.id, terdapat beberapa implikasi sehubungan dengan keterkaitan antara perkembangan harga timah dunia dengan pertumbuhan ekonomi di Babel. Melihat cukup sensitifnya pertumbuhan ekonomi Babel terhadap pergerakan harga timah di pasar internasional, maka perekonomian Babel sangat terkait erat dengan situasi perekonomian dunia, khususnya permintaan timah.
Keterkaitan tersebut juga menimbulkan risiko rentannya perekonomian Babel terhadap gejolak perekonomian internasional.
Hingga saat ini, pertambangan dan penggalian yang diikuti oleh sektor pengolahan berupa smelter timah, masih mendominasi pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung.
Hingga saat ini, pertambangan dan penggalian yang diikuti oleh sektor pengolahan berupa smelter timah, masih mendominasi pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung.