LSM Duga Polisi Kerahkan Preman Hadapi Mahasiswa
Pena Melati Centre menyesalkan penanganan unjuk rasa mahasiswa
BANGKAPOS.COM.COM, JAKARTA - Pena Melati Centre menyesalkan penanganan unjuk rasa mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar yang terjadi Senin (17/6/2013) malam.
Polisi yang diharapkan menangani aksi unjuk rasa menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) itu berubah menjadi anarkis. Saling lempar batu antara mahasiswa dengan polisi.
Abdul Rachmat Noer, Direktur Eksekutif Pena Melati Centre, mengatakan yang paling disayangkan lagi karena diduga aparat kepolisian melibatkan preman bayaran untuk menghadapi mahasiswa.
Para preman itu bersama petugas intelijen polisi menghadapi aksi unjuk rasa dengan cara yang represif. Mahasiswa dipukul mundur sampai masuk dikampus.
"Tidak hanya itu, sarana kampus pun dirusak. Polisi telah melakukan pembiaran untuk merusak fasilitas perkuliahan. Ini perbuatan biadab, perbuatan barbarian," katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (18/6/2013).
"Kami sangat menyesalkan kejadian ini, dimana polisi telah menciptakan konflik horisontal di tengah masyarakat. Jangan dipertentangkan sesama warga sipil. Kalau polisi kewalahan menangani aksi unjuk rasa, maka itu harus menjadi pelajaran berharga bagi institusi kepolisian untuk lebih profesional di lapangan," katanya.
Rachmat mendesak Kapolri didesak segera turun tangan mengevaluasi dan menindak anak buahnya yang diduga melanggar HAM dalam penanganan aksi unjuk rasa di Makassar. Penindakkan mulai kepada petugas di lapangan sampai ke Kapolda. Jika mahasiswa mulai anarkis, maka tidak seharusnya polisi ikut-ikutan anarkis menangani aksi unjuk rasa yang dijamin UUD 45, yaitu kebebasan berserikat dan berkumpul.