Hasil Penelitian, Pria Gampang Mati Mendadak saat Olahraga

Bukan untuk menakut-nakuti. Tetapi, dari banyak kasus yang terjadi, memang lebih banyak dijumpai kaum adam yang meninggal mendadak setelah

Hasil Penelitian, Pria Gampang Mati Mendadak saat Olahraga
net
Ilustrasi

BANGKAPOS.COM – Bukan untuk menakut-nakuti. Tetapi, dari banyak kasus yang terjadi, memang lebih banyak dijumpai kaum adam yang meninggal mendadak setelah melakukan kegiatan olah raga.

Sejumlah selebriti pria di Indonesia, misalnya, dijumpai meninggal mendadak usai bermain futsal atau sepakbola. Fakta tersebut rupanya sama dengan hasil penelitian terbaru.

Menurut penelitian yang dilansir Reuters Health, pria yang berlari, bersepeda, atau bermain olah raga yang bersifat rekreasional, nyatanya 20 kali lebih sering meninggal akibat gangguan jantung mendadak ketimbang atlet rekreasional perempuan.

"Saya rasa, studi kami adalah yang pertama menunjukkan insiden rendah kematian mendadak di antara perempuan pada populasi umum yang tidak hanya terkait dengan partisipasi olah raga lebih rendah," ujar Dr. Eloi Marijon, yang bekerja pada penelitian di Paris Cardiovascular Research Center, Georges Pompidou European Hospital.

Bersama koleganya, Dr. Elio kemudian menelusuri kematian mendadak terkait olah raga di antara orang dewasa di Perancis antara tahun 2005-2010. Kematian yang dikarenakan berhentinya jantung, saat jantung tiba-tiba berhenti berdenyut, kerap dikaitkan dengan masalah jantung yang ada sebelumnya.

Para peneliti kemudian membandingkan angka kematian di setiap olah raga dengan jumlah total dari pria dan perempuan Perancis yang terlibat pada aktivitas tersebut, berdasarkan survei nasional tahun 2000. Menurut para peneliti yang melaporkan dalam Journal of the American Medical Association, ada 775 kematian mendadak terkait olah raga selama periode tersebut, termasuk 42 di antaranya adalah perempuan.

Ini berarti rata-rata terdapat satu kematian untuk setiap 2 juta partisipan perempuan yang berolah raga setiap tahunnya, dibandingkan dengan satu kematian per 100 ribu atlet rekreasional pria. Risiko bervariasi bagi pria untuk setiap olah raga tetapi tidak untuk perempuan.

Misalnya, sekitar lima daru satu juta pelari pria dan satu per satu juta perenang pria meninggal setiap tahunnya. Di antara perempuan, kurang dari satu kematian untuk setiap satu juta partisipan di kedua olah raga.

Menurut Dr. Eloi, ada dua kemungkinan penjelasan untuk temuan ini. Satu adalah bahwa pria mulai aktivitasnya dengan cepat dan langsung 100 persen, ketimbang menambah atau memperbesar untuk olah raga penuh tenaga, lebih sering ketimbang perempuan.

Hipotesa kedua adalah bahwa pria lebih cenderung memiliki timbunan dan sumbatan pada arteri yang menyuplai darah ke jantung, membuat mereka sudah memiliki risiko sebelum melangkahkan kaki ke lapangan. "Kami tahu bahwa penyakit arteri koroner merupakan faktor paling penting untuk kematian mendadak selama olah raga," tambah Dr. Eloi.

Karenanya, kebanyakan negara Eropa melakukan skrining atlet remaja dan dewasa sebelum mereka bermain olah raga untuk melihat masalah yang ada pada jantung yang meningkatkan risiko kematian mendadak. Namun, Dr. Eloi menambahkan, temuan ini memunculkan pertanyaan. "Kalau kita melakukan skrining untuk populasi umum sebelum melakukan olah raga, mungkin skrining tertentu sebaiknya berbeda antara pria dan perempuan," tegasnya.

Tags
Kesehatan
Editor: asmadi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved