Polri Akui Sulit Awasi Peredaran Senjata Api Ilegal

Senjata api yang sebelumnya diberikan izin melalui badan fungsi Intelkam Polri di polda maupun Mabes Polri, sudah ditarik

Polri Akui Sulit Awasi Peredaran Senjata Api Ilegal
Kompas.com
Kepala Divisi Humas Polri Irjen Ronny Franky Sompie

BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Aksi kejahatan menggunakan senjata api, kerap terdengar di berbagai wilayah Indonesia, terutama di kota-kota besar.

Itu tentu saja membuat masyarakat resah, dan memertanyakan bagaimana pengawasan peredaran senjata api yang dilakukan polisi.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Ronny Franky Sompie mengatakan, lebih dari empat ribu senjata api yang diberikan izin pihak kepolisian sejak 2006, kini sudah ditarik.

"Senjata api yang sebelumnya diberikan izin melalui badan fungsi Intelkam Polri di polda maupun Mabes Polri, sudah ditarik secara berangsur-angsur. Kami juga berupaya menarik secara keseluruhan. Itu yang tadinya ada izin," jelas Ronny di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (10/10/2013).

Di samping senjata api yang diberikan izin pihak kepolisian, ada pula senjata api yang di luar daftar yang dimiliki Polri, khususnya senjata api rakitan dan yang didapat secara ilegal.

"senjata api ini ada yang dibuat sendiri, kemungkinan juga ada yang merupakan kiriman dari luar atau daerah-daerah operasi seperti Aceh atau Papua, yang bisa dibawa masuk melalui jalur-jalur distribusi yang memang tidak bisa dijangkau pengawasannya, seperti masuk lewat pantai, menggunakan perahu, masuk ke sungai-sungai, perahu rakyat. Kami kan sulit mengawasinya," ungkap Ronny.

Tapi, untuk jalur-jalur masuk resmi, lanjut Ronny, pihaknya sudah bekerja sama dengan instansi terkait. Itu membuat kecil kemungkinan senjata api ilegal masuk lewat bandara atau pelabuhan resmi.

"Kalau melalui bandara, pelabuhan, kami sudah bekerja sama dengan instansi terkait di jalur-jalur transportasi darat, laut, dan udara, untuk memberikan masukan, sekaligus melakukan pengawasan," jelasnya.

Editor: asmadi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help