• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 23 April 2014
Bangka Pos

Andrea Hirata Punya Kenangan dan Filosofi Soal Kopi

Senin, 4 November 2013 22:15 WIB
Andrea Hirata Punya Kenangan dan Filosofi Soal Kopi
bangkapos.com/rudi
Nampak salah seorang penikmat kopi di Warkop Kupi Kuli di Museum Rumah Kata, di Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, milik Andrea Hirata, Minggu, (3/11-2013).

Laporan Wartawan Bangka Pos, Rudy

BANGKA POS.COM, BELITUNG - Novelis besar Laskar Pelangi, Andrea Hirata ternyata punya kenangan soal kopi. Bahkan ia punya filosofi khusus air hitam yang diminum dengan cara disenduh ini.

Bagi Anda yang berkunjung ke Museum Kata milik Andrea Hirata di Kecamatan Gantung, Belitung Timur, belum sempurna rasanya bila belum mencicipi segelas kopi.

Bandingkan dengan kopi di tempat lain, kopi di sebelah dapur museum yang tempatnya diberi nama Warkop Kupi Kuli ini begitu terasa di lidah, karena dipilih dari biji kopi berkualitas serta diseduh oleh tangan pelayan terampil.

"Kopinya memang beda rasanya. Seperti agak mutung (gosong) dan rasanya  kuat di lidah," ujar salah seorang penikmat kopi, dalam obrolan dengan bangkapos.com, Minggu, (3/11-2013), di Warkop Kupi Kuli tersebut.

Dari tempat ini ternyata Andrea punya kenangan banyak semasa membuka warung kopi. Bahkan ia punya filosofi kopi seperti ia tuangkan dalam untaian kata berbingkai yang dipajang di dinding museum.

Berikut petikannya yang diambil bangkapos.com hanya dua paragraf tulisan dari lima paragraf yang ada dibingkai tulisan.

"Semakin dalam keberkubang di dalam warung kopi, semakin ajaib teman-temanku. Kopi bagi orang Melayu, rupanya bukan sekedar air gula, berwarna hitam, tapi pelarian dan kegembiraan.
Segelas kopi bak dua gelas teguk kisah hidup. Bubuk hitam yang larut disiram air mendidih, pelan-pelan mengungkapkan rahasia nasib..(dan seterusnya).

Lalu pada paragraf kedua,
"Mereka yang menghirup kopi pahit, umumnya bernasib seperti kopinya. Makin pahit kopinya, makin berliku-liku petualangannya. Hidup mereka penuh untaian mara bahaya. Cinta? Berantakan. Istri? Pada minggat. Kekasih? Berkhianat di atas tempat tidur mereka sendiri! Bayangkan itu. Bisnis? Kena tipu. Tapi mereka tetap mencoba dan mencipta. Mereka naik panggung dan dipermalukan. Mereka menang dengan gilang gemilang. Mereka lalu kalang dengan tesuruk-surut. Mereka jatuh, bangun, jatuh dan bangun lagi. Dalam dunia pergaulan zaman modern ini, mereka disebut para players.

Penulis: rudy
Editor: edwardi
Sumber: Pos Belitung
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
684854 articles 12 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
© 2014 TRIBUNnews.com All Right Reserved About Us Privacy Policy Help Terms of Use Redaksi Info iklan Contact Us Lowongan
Atas