Ini Lho Rahasia Bisnis Mobil Bekas

Hitungan ini memang informal, tetapi semua pedagang mobkas di Jakarta khususnya menetapkan aturan ini. Selanjutnya masih

Ini Lho Rahasia Bisnis Mobil Bekas
KompasOtomotif | Author : HERU SRI KUMORO/Kompas
Mobil bekas yang dijajakan di WTC Mangga Dua, Jakarta

BANGKAPOS.COM, JAKARTA – Namanya pedagang mobkas, ada saja caranya untuk mendapat produk dengan harga lebih murah tapi dijual dengan keuntungan sebanyak-banyaknya. Memang ini prinsip dasar teori ekonomi, tapi bagaimana sebenarnya hitung-hitungan pengusaha mobkas menentukan harga satu model untuk konsumen?

Herjanto Kosasih, GM Senior WTC Mangga Dua, sentra mobkas membeberkan pada KompasOtomotif bagaimana hitungan “informal” yang selama ini digunakan pengusaha mobkas. Pada dasarnya ada dua jenis perhitungan yang dilakukan, yakni yang sudah lazim dilakukan pengusaha dan hitungan mengambang.

Pertama, menurutnya, adalah hitungan baku yang sudah lazim digunakan setiap pengusaha mobkas. Mereka menetapkan, setiap mobil baru yang keluar dari “showroom” otomatis harga jualnya langsung turun 10-15 persen. Maksudnya, kalau mobil baru Anda dibanderol Rp 100 juta, maka kalau langsung mau dijual harganya langsung turun jadi Rp 85-90 juta.

“Hitungan ini memang informal, tetapi semua pedagang mobkas di Jakarta khususnya menetapkan aturan ini. Selanjutnya masih ada faktor lain yang juga menentukan,” jelas Herjanto, semalam (6/12/2013).

Kedua, masuk dalam perhitungan mengambang karena tidak ada patokan dan tergantung dari kondisi kendaraan, usia, dan berbagai variabel lain. Perhitungan ini yang kemudian menjadi “level” seberapa mahir si pebisnis mobkas mejalankan usahanya. Semakin untung, semakin mahir ia “memainkan” variabel ini.

Variabel
Lantas, apa variabel saja yang bisa menentukan harga mobkas di pasar? Pertama, kondisi mobil. Ini dilihat secara kasat mata bagaimana bodi dan mesinnya. Semakin mulus, semakin tinggi juga banderol, termasuk jika suara mesinnya masih halus, tidak mengelitik, maka makin apik.

Kedua, berapa jauh mobil ini sudah berjalan. Dilihat dari indikator di spidometer, semakin jauh semakin kecil harga mobkas itu. Ketiga, warna bodi mobil. Pebisnis mobkas cenderung menghindari produk dengan warna non-favorit, seperti hijau botol, biru, coklat muda (champagne), dan coklat tua. Lebih memilih warna primadona, seperti putih, silver, hitam, dan abu-abu tua.

“Selanjutnya kondisi kaki-kaki. Terakhir, masalah surat-surat perpajakkan mobil. Semakin panjang pajak kendaraan itu lebih mahal, kalau kondisi sebaliknya maka harga bisa ditekan,” tutup Herjanto.

Editor: asmadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help