Awas Rentenir Berkedok Koperasi Simpan Pinjam

Warga Kabupaten Bandung, terutama yang tinggal di pelosok desa

Awas Rentenir Berkedok Koperasi Simpan Pinjam
Net
Ilustrasi

BANGKAPOS.COM, PASIRJAMBU - Warga Kabupaten Bandung, terutama yang tinggal di pelosok desa diminta waspada jika kedatangan orang yang menawarkan pinjaman uang.

Mereka kemungkinan besar adalah para rentenir. Sejumlah warga di Desa Cibodas, Kecamatan Pasirjambu, sudah menjadi korban. Beberapa dari mereka bahkan terpaksa kehilangan rumah untuk menutup utang mereka kepada para rentenir tersebut.

Ketua Yayasan Bakti Anak Negeri, Muhammad Ijudin Rahmat, mengatakan, modus para rentenir ini adalah menawarkan bantuan berupa pinjaman uang dengan syarat-syarat yang mudah.

"Mereka memberi pinjaman dengan cepat dan tak berbelit-belit. Namun, mereka menerapkan bunga yang sangat tinggi hingga akhirnya banyak warga banyak terlilit utang mengalami kebangkrutan," kata Ijudin, seusai mengikrarkan gerakan antirentenir di Kampung Suraja, Desa Cibodas, Minggu (2/2).

Ia berharap, gerakan ini dapan memberikan wawasan kepada masyarakat. "Kami juga memberikan pendampingan kepada masyarakat umum atau pelaku usaha mikro kecil menengah. Jika membutuhkan bantuan modal bisa mengakses bantuan permodalan resmi," ujarnya.

Dalam gerakan antirentenir ini, kata dia, mereka bekerjasama dengan Kementerian Koperasi dan UMKM, Diskoperindag Kabupaten Bandung serta instansi pemerintah dan swasta terkait lainnya. Gerakan antirentenir ini akan terus disosialisasikan ke semua desa di Kabupaten Bandung hingga tingkat Nasional.

"Sekarang banyak koperasi simpan pinjam padahal pengelolanya juga rentenir. Jadi warga harus berhati-hati jika akan meminjam uang. Jangan sampai nantinya malah merugikan warga juga," katanya.

Ketua Koperasi Mitra Cipta Sejahtera (KMCS), Kampung Cangkuang, Desa Pananjung, Kecamatan Cangkuang, Jajang Sutisna, mengatakan keberadan rentenir memang menjadi masalah.

"Mereka datang menawarkan pinjaman uang dengan persyaratan mudah. Namun, ternyata malah membuat peminjamnya bangkrut. Anggota koperasi kami juga ada beberapa orang yang menjadi korban rentenir," ujar Jajang.

Ahmad Ramadhan (35), warga Kampung Sukarajin, RT 7/3, Desa Gandasari, Kecamatan Katapang, menuturkan mengatakan telanjur menjadi nasabah rentenir sejak beberapa tahun lalu. Menurutnya meminjam uang kepada rentenir tidak membutuhkan banyak persyaratan.

"Saya punya usaha warung. Ingin nambah modal. Tapi kalau ke bank atau koperasi syaratnya ribet. Jadi memilih pinjem ke rentenir walau nanti bayar cicilannya lumayan berat," kata Ahmad.

Untuk melunasi pinjamannya yang hanya Rp 2 juta, setiap hari Ahmad harus membayar cicilan Rp 60 ribu selama 40 hari. Pinjaman tersebut harus lunas tepat waktu. Jika tidak akan ada denda yang berlipat-lipat.

Tags
rentenir
Editor: edwardi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved