Putri Keraton Tolak Poligami

Gusti Noeroel, sosok perempuan yang menjaga tradisi Keraton namun berpikiran dan

Putri Keraton Tolak Poligami
DOK. PRIBADI Gusti Noeroel. 

BANGKAPOS.COM - Gusti Noeroel, sosok perempuan yang menjaga tradisi Keraton namun berpikiran dan bergaya hidup modern menjadi sumber inspirasi juga idola bagi perempuan lintas generasi. Inspirasi inilah yang ingin dibagi pihak keluarga, melalui Penerbit Buku Kompas, dalam sebuah buku biografi berjudul Gusti Noeroel Streven naar geluk (Mengejar Kebahagiaan).

Gusti Noeroel adalah anak tunggal putra adipati Keraton Jawa, Kota Solo, Praja Mangkunagaran, K.G.P.A.A Mangkoenagoro VII dari permaisurinya, Gusti Kanjeng Ratu Timoer. Ayah Gusti Noeroel adalah seorang ningrat dari Solo yang beristrikan putri dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Ibu Gusti Noeroel adalah puteri ke-12 Sultan Hamengku Buwono VII dari permaisuri ketiga, GKR Kencono. Nama asli ibunya adalah G.R.Ay Mursudarijah.

Memilih merdeka
Perempuan berkarakter khas ini memutuskan untuk merdeka mencari bahagia, keluar dari Keraton untuk melakukan perjalanannya sendiri bersama suami berkarier militer. Ia menolak dimadu karena tak ingin menyakiti perempuan lain. Ia menolak menjadi permaisuri karena tak silau harta juga kuasa. Gusti Noeroel mencari bahagia dengan caranya.

Terlahir sebagai bangsawan tak membuat Gusti Noeroel terlena dengan pelayanan para abdi Dalem (abdi raja) atau dayang-dayang yang selalu setia menemani. Ia tumbuh sebagai perempuan mandiri yang menjaga akar budaya namun tetap menerima budaya modern. Ia berani bereksperimen dengan gaya busana, tetap berkebaya namun tak menutup diri dari gaya busana modern. Ia tak pantang melakukan berbagai hal yang disukainya seperti menunggang kuda, bermain tenis, namun tetap patuh pada tradisi bahkan masih menjalani tirakat.

Gusti Noeroel juga dikenal sebagai perempuan muda yang tak hanya pintar membawakan tarian klasik Jawa, ia juga berhasil memukau orang Belanda saat tampil memenuhi undangan di sana pada 1973. Selain terbiasa mendengar gamelan di lingkungan Keraton saat masih belia, ia juga menyukai lagu Barat.

Sosoknya yang khas berkarakter kuat inilah yang menarik perhatian banyak pihak. Mulai media nasional hingga media di Belanda. Profil Gusti Noeroel dimuat di beberapa media tersebut. Sosoknya pun memberikan inspirasi untuk wanita pada zamannya.

Tak hanya menjadi idola kaum hawa, kecantikan fisik dan kepribadian menarik seorang Gusti Noeroel juga memikat hati berbagai kalangan dan bangsawan. Namun prinsip kuatnya yang menolak poligami membuat banyak pria patah hati. Sederhana saja alasannya.

"Aku takut tidak bisa tidur karena dimadu," jawabnya terhadap Sultan dari Yogyakarta yang tak berhasil meminangnya.

Dalam bukunya, Gusti Noeroel menuliskan alasannya menolak poligami meski di usia 20 ia belum juga mendapatkan jodoh. Perempuan berusi 20 pada masa itu dianggap tak enteng jodoh jika belum juga menikah.

"Tapi aku lebih percaya dengan hati nurani untuk mengatakan tidak dan harus berani menolak, rasanya tidak adil bila aku mendesak pada Sultan untuk menceraikan garwa ampilnya. Bagaimana pun mereka kaumku. Wanita mana yang mau diceraikan begitu saja karena suami akan menikah lagi dengan wanita lain. Aku tidak mau menyakiti wanita lain," tulisnya.

Halaman
12
Tags
keraton
Editor: edwardi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved