Preman Ini Nangis Kencang Di Kantor Polisi Karena Takut Ditangkap

Ada-ada saja kelakuan pengamen agar tak ditangkap polisi dalam operasi pekat. Seperti kelakuan Deni (21), menangis sekencang-kencangnya

Preman Ini Nangis Kencang Di Kantor Polisi Karena Takut Ditangkap
Tribun Jabar/Ida Romlah
Kasat Sabhara Polres Cirebon Kota, AKP Nana meminta DA (21) agar tidak menangis terus, Sabtu (7/2/2015). Pengamen asal Cangkol Tengah, Kota Cirebon, itu terus menangis di Mapolres Cirebon Kota gara-gara ditangkap saat mengamen di Perempatan BAT, Kota Cirebon. 

BANGKAPOS.COM, CIREBON - Ada-ada saja kelakuan preman agar tak ditangkap polisi dalam operasi pekat. Seperti kelakuan Deni (21), menangis sekencang-kencangnya di Mapolres Cirebon Kota, Sabtu (7/2/2015) sore. Pemuda asal Cangkol Tengah, Kota Cirebon itu terjaring operasi pekat Satuan Sabhara Polres Cirebon Kota.

"Saya nangis karena takut. Ini baru pertama ditangkap polisi," kata Deni.

Deni mengaku baru sepekan menjadi pengamen. Ia dan teman-temannya memilih mengamen di perempatan gedung BAT, dan dilakukan bergiliran. "Shift shift-an. Ada yang pagi, siang, dan sore," ujarnya.

Selama sepekan mengamen di perempatan gedung BAT, Deni mengaku bisa mengantongi Rp 20.000 per hari saat akhir pekan, dan Rp 50.000 per hari pada hari biasa. Uang itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Deni mengaku terpaksa menjadi pengamen karena tak punya pekerjaan. Dengan berbekal ijazah SMA, kata dia, sulit mendapatkan pekerjaan di Kota Cirebon.

Kepala Satuan Sabhara Polres Cirebon Kota, AKP Nana Ruhiana berupaya menenangkan Deni agar tidak terus menangis. "Jangan menangis, tidak apa-apa kok. Di sini juga hanya didata, difoto, buat surat pernyataan dan dibina, nanti juga boleh pulang. Masa kalah sama yang kecil ini," kata dia.

Dalam operasi pekat hari ini, ada 13 pria diduga preman dan pengamen diciduk dari sejumlah titik. Mereka pun diamankan di Mapolres Cirebon Kota dengan diberi pengarahan dan diminta menandatangani perjanjian tidak akan bikin resah masyarakat.

AKP Nana mengatakan, operasi dilakukan karena banyak keluhan dari masyarakat yang resah dengan perilaku preman dan pengamen. Dari 13 yang diciduk, beberapa ada yang sudah pernah kena operasi sebelumnya. "Tapi sebagian besar baru satu kali," ujarnya.

Tags
Preman
Editor: Hendra
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help