Nelayan Beralih Membuat Kue Imlek

ANITA dan keluarganya untuk sementara tidak bisa mengandalkan nafkah dari laut. Suami Anita yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan

Nelayan Beralih Membuat Kue Imlek
Bangkapos/khamelia
Ilustrasi: Konsumen membeli pernik imlek di Toko Star Lotus Jalan Kampung Bintang Pangkalpinang. 

ANITA dan keluarganya untuk sementara tidak bisa mengandalkan nafkah dari laut. Suami Anita yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan tak berani mengambil risiko mencari ikan sejak perairan sekitar Pesaren, Belinyu, Kabupaten Bangka dilanda cuaca buruk.

Gelombang besar dan angin kencang yang terjadi nyaris setiap hari membuat banyak nelayan di Dusun Pesaren tidak mampu mencari ikan. Anita dan suaminya memanfaatkan waktu luang dengan memasak kue-kue yang akan mereka jual kepada warga keturunan Tionghoa yang merayakan Imlek.

Suami Anita pun semangat membantu sang istri membuat kue Konyen, istilah orang Tionghoa di Belinyu untuk perayaan Imlek. "Suami saya sudah dua bulan lebih tidak melaut, jadi bantu-bantu saya bikin kue Konyen, bikin kemplang dan kerupuk agogo," kata Anita di rumahnya, Sabtu (14/2).

Anita selama ini berusaha membuat aneka penganan untuk membantu mencari tambahan nafkah bagi keluarganya, sementara sang suami bekerja sebagai nelayan yang membawa perahu milik orang lain. Dengan tekun, Anita bekerja membuat kemplang cumi dan ikan, kerupuk agogo, empek-empek serta kue-kue kering.

Usaha yang dirintis Anita akhirnya menjadi penopang utama bagi keluarga ketika suami Anita tak bisa melaut. Keduanya menjalankan usaha dari sebuah rumah sederhana dengan perabotan rumah tangga seadanya yang mereka dirinya di dekat Pantai Pesaren.

"Selama ini kami tinggal mengontrak, tapi sudah dua tahun ini kami membuat rumah sendiri di pinggir Pantai Pesaren ini," kata Anita.
Anita sudah membuat kemplang sejak lima tahun lalu. Ia menghabiskan bahan baku berupa 10 kilogram ikan atau cumi-cumi sekali memproduksi kemplang. Saat ini ia belum bisa membuat kemplang karena tidak ada ikan atau cumi-cumi hasil tangkapan nelayan.

"Saya biasanya jual kemplang mentah belum digoreng seharga Rp 70.000 perkilogram untuk kemplang ikan dan kemplang cumi-cumi Rp 80.000 per kilogram," papar Anita.

Seandainya ada program bantuan pemerintah untuk masyarakat usaha kecil, Anita sangat berharap mendapat freezer dan gilingan cumi-cumi.
"Kalau ada freezer saya bisa menyimpan bahan baku ikan dan cumi-cumi untuk membuat kemplang, dan membuat es balok untuk dijual," harap Anita.
Perahu ditarik ke darat
Puluhan perahu nelayan terlihat berjajar di pesisir Dusun Pesaren, Desa Bintet, Kecamatan Belinyu. Banyak nelayan tidak berani mengarungi laut yang sedang mengalami masa gelombang besar dan angin kencang.
Achon, nelayan Pesaren, mengatakan perahu-perahu penangkap ikan di daerah ini ditarik sejauh mungkin ke daratan untuk menghindari kerusakan apabila dihantam ombak besar dan angin kencang apabila sekedar ditambatkan di pantai.
Meski cuaca kurang bersahabat, namun masih ada beberapa nelayan yang tetap berani turun melaut untuk mencari ikan.
"Cuaca seperti ini biasanya kami hanya berani pergi ke laut pada pagi hari, pasang jaring lalu pulang. Kemudian besok pagi kami angkat jaring. Kalau dapat ikan, kami ambil lalu pasang lagi jaringnya kemudian pulang lagi ke darat," jelas Achon.
Nelayan Pesaren lainnya, Antoni menyebut nelayan setempat merasakan kehidupan yang begitu berat dalam beberapa bulan terakhir. Ikan yang diperoleh dari hasil melaut tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan untuk mengoperasikan perahu.
"Sekali melaut kami butuh 2-3 teng minyak, belum biaya es dan makan minum. Hasil yang didapat hanya sekitar Rp 100 ribu. Jangankan dapat untung, untuk biaya beli minyak saja tidak balik modal. Kalau kondisi seperti ini terus bisa susah hidup kami sebagai nelayan," keluh Antoni. (edw)

Penulis: edwardi
Editor: emil
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved