BangkaPos/

Ini Dia Guru Besar UGM Kelahiran Belitung

SOSOK seorang ayah sangat berperan dalam perjalanan karier bagi seorang Profesor Dr rer nat Dedi Rosadi SSi MSc, putra

Ini Dia Guru Besar UGM Kelahiran Belitung
IST
Prof Dr rer nat Dedi Rosadi, S.Si., M.Sc saat dikukuhkan menjadi Guru Besar FMIPA UGM, Selasa (24/2/2014) kemarin.

SOSOK seorang ayah sangat berperan dalam perjalanan karier bagi seorang Profesor Dr.rer nat Dedi Rosadi S.Si M.Sc, putra Belitung yang baru saja dikukuhkan menjadi Guru Besar Fakultas Matematika dan IPA Universitas Gajah Mada (UGM), Selasa (24/2/2015) kemarin.

Sang ayah, almarhum Madris, yag membuat Dedi kecil kala itu bercita-cita menjadi seorang menjadi seorang guru, yang kemudian menjadi dosen dalam perjalanan hidupnya. Ayahnya sendiri mengabdikan diri menjadi guru di Gantung (Belitung Timur).

"Pesan dari almarhum Bapak, jika bekerja hendaknya memberikan yang terbaik dalam mencapai
jenjang tertinggi dalam pekerjaan. Pesan inilah yang menjadi inspirasi saya untuk total mengabdi sampai menjadi Guru Besar seperti sekarang ini," kata Dedi dalam wawancara dengan bangkapos.com, melalui email Jumat (27/2/2015).

Dedi dikukuhkan menjadi seorang guru besar dalam usia yang relatif muda, yakni 40 tahun. Usulan dirinya untuk menjadi guru besar sebenarnya sudah diajukan sejak cukup lama, yakni sekitar Oktober 2009. Namun terkendala beberapa kelengkapan
administratif sehingga dibutuhkan proses cukup panjang.

Surat keputusan dirinya sebagai seorang Guru Besar turun pada tanggal 2 September 2013. Saat itu usia Dedi lebih kurang 38 tahun. Namun karena terkendala oleh berbagai kesibukan terutama mengajar, berbagai riset dan kegiatan konsultasi, konferensi ilmiah  dan kerjasama penelitian di dalam dan luar negeri, Dedi baru bisa berkesempatan untuk melangsungkan pengukuhan pada tanggal 24 Februari 2015 kemarin.

Jadwal ini sedikit meleset dari target awal untuk melaksanakan pengukuhan tepat di tanggal ulang tahunnya ke-40, di akhir Desember 2014.

"Tentunya menjadi seorang profesor di satu sisi sangat menyenangkan karena sudah mencapai jenjang tertinggi dari karir akademik sebagai dosen di Perguruan Tinggi. Namun di sisi lain menuntut berbagai tanggung jawab baru terutama tanggung jawab akademik maupun sosial yang lebih besar dibanding sebelumnya," kata Dedi tentang gelar profesor yang diraihnya.

Apa yang diraih oleh Dedi sekarang ini, membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Diawali dengan kuliah S1 di Program Studi Statistika UGM mulai Agustus 1991 dan wisuda pada bulan Februari 1996. Setelah lulus, kala itu Dedi langsung magang
menjadi dosen di almamater dan mendapat SK CPNS di bulan Februari
1997.

Di bulan Agustus 1997, pria ini mendapatkan beasiswa dari VNO-NCW (sebuah organisasi nirlaba bentukan asosiasi perusahaan-perusahaan swasta di Belanda) guna melanjutkan studi S2 di University of Twente (Belanda). Sekembalinya dari Belanda di bulan Juli 1999, Dedi tidak langsung melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, karena ingin mengikuti prajabatan CPNS-nya yang terbengkalai karena studi S2 tersebut.

Pada bulan Agustus 2001, Dedi kembali mendapat beasiswa. Kali ini dari Pemerintah Austria untuk melanjutkan studi S3 di Vienna
University of Techology (Austria). Dedi menyelesaikan studi S3 di bulan September 2004. Sekembalinya dari Austria barulah dia mengabdi penuh di almamaternya sampai kemudian menjadi Guru Besar sekarang ini.

Halaman
12
Editor: emil
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help