Kek Sarim Beberkan Seputar Trem Beltim

Trem merupakan alat transportasi menyerupai kereta api. Benda yang 98 persen terbuat dari besi itu, ternyata beroperasi di dua zaman,

Kek Sarim Beberkan Seputar Trem Beltim
Pos Belitung/Disa Aryandi
Sarim, warga RT 05/03, Dusun Mempaya, Desa Mempaya, Kecamatan Damar, Kabupaten Belitung Timur (Beltim), Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), yang lahir pada tanggal 10 Oktober 1912. 

Laporan Wartawan Pos Belitung, Disa Aryandi

BANGKAPOS.COM, BELITUNG -- Trem merupakan alat transportasi menyerupai kereta api. Benda yang 98 persen terbuat dari besi itu, ternyata beroperasi di dua zaman, yaitu di penjajahan Belanda dan Jepang. Sekitar tahun 1912 benda berwarna hitam itu telah ada.

Transportasi utama zaman dahulu ini terhenti setelah empat bulan Jepang mengusai Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) pada tahun 1943. Trem yang dikemudikan oleh seorang warga pendatang dari Negara Cina.

Tidak beroperasinya trem lagi, karena dua orang pengemudi dari Thionghoa tersebut sudah dialihkan oleh Jepang, untuk membuat lapangan terbang Tanjungpandan. Pemborong dari lapangan tersebut diketahui merupakan orangtua dari Basuki T Purnama atau dikenal Ahok.

"Terakhir Trem masih ada itu, empat bulan setelah Jepang di Belitung," kata Kek Sarim, warga RT 05/03, Dusun Mempaya, Desa Mempaya, Kecamatan Damar, Kabupaten Belitung Timur (Beltim) ditemui dikediamannya, Beberapa waktu lalu.

Kek Sarim lahir di Mempaya, Belitung pada 10 Oktober 1912. Setidaknya dia telah melewati hidup di zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Masih banyak kisah sejarah kini masih melekat dibenak pria yang masih terlihat segar bugar ini.

Menurut mantan karyawan GMB (Geminse Haplike Meimbo Maskapai Bellitone) ini, bergelut bersama dengan Belanda sejak usianya masih berumur 13 tahun. Khusus Trem yang ada di jalur Manggar - Damar, saat itu memiliki dua unit. Kedua Trem tersebut biasa di sebut dengan Trem besar dan trem kecil.

Khusus Trem besar, hanya untuk pengangkut barang-barang berupa kayu dan peralatan tambang, serta mesin tambang. Namun untuk Trem kecil, biasa dipergunakan, sebagai angkut penumpang. Kedua trem tersebut, setiap harinya menuju Gunung Bulong, Kecamatan Damar.

"Kalau Trem besar dia tidak berhenti, langsung menuju Gunong Bulong. Kalau yang kecil, setiap hari itu biasa bawak pekerja ke Gunong Bulong. Nunggu nya di persimpang Tinjau (simpang tinjau berada di RT 02/03 Dusun Mempaya), setiap hari seperti itu," kata dia.

Pekerja dijemput oleh kendaraan yang menggunakan bahan bakar kayu dengan menghasilkan uap itu, setiap pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB di simpang Tinjau, dan sekitar pukul 08.00 WIB sudah tiba di puncak Gunong Bulong. Pada sore harinya, pekerja pulang dari Gunung Bulong di hentikan kembali di Simpang Tinjau sekitar pukul 17.00 WIB. Kedua trem, biasa tiba di Manggar sekitar pukul 18.00 WIB.

Halaman
12
Editor: emil
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved