Astronom Pecahkan Misteri Besar Alam Semesta

Baru-baru ini, peneliti post-doktoral di Universitas Cornell di Amerika Serikat, Ryan Lau, berhasil mendapatkan petunjuk berharga

Astronom Pecahkan Misteri Besar Alam Semesta
NASA/Cornell
Pola garis menunjukkan debu kosmik di sekitar Sagitarius A East. Debu tersebut dikonfirmasi berasal dari supernova 10.000 tahun lalu. 

BANGKAPOS.COM — Astronom menyatakan, Bumi dan obyek lain di alam semesta tersusun atas material dari bintang dan debu-debu antariksa. Namun, dari mana material itu berasal?

Baru-baru ini, peneliti post-doktoral di Universitas Cornell di Amerika Serikat, Ryan Lau, berhasil mendapatkan petunjuk berharga. Bumi tersusun atas debu-debu hasil ledakan bintang atau supernova.

Astronom sudah mengetahui bahwa supernova menghasilkan debu dalam jumlah besar. Akan tetapi, mereka ragu apakah debu bisa survive dari gelombang kejut akibat ledakan bintang.

Lau dan rekannya berhasil mengobservasi secara langsung awan debu kosmik yang berasal dari supernova. Hal itu mengonfirmasi bahwa debu memang bisa "selamat" dari dahsyatnya supernova.

"Observasi kami mengungkap awal debu yang dihasilkan oleh supernova 10.000 tahun lalu yang cukup untuk menghasilkan 7.000 Bumi," kata Lau.

Lau dan rekannya melakukan observasi dengan Stratospheric Observatory for Infrared Astronomy, instrumen milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang berada di atas pesawat Boeing 747 jumbo jet.

"Kami menggunakan fasilitas observatorium terbang, bergerak dengan kecepatan 600 mph (965 km per jam) pada ketinggian 45.000 kaki (13.715 meter) untuk mengambil gambar sisa-sisa supernova yang berada pada jarak 27.000 tahun cahaya dari kita," kata Lau seperti dikutip Huffington Post, Minggu (22/3/2015).

Lau mengungkapkan, dia sedang mengamati "dua obyek terang" di sekitar Sagitarius A East ketika menjumpai awan debu.

Lewat pengamatan dengan inframerah, Lau berhasil mengonfirmasi bahwa 7-20 persen dari debu angkasa survive dari efek gelombang kejut saat supernova terjadi. Debu-debu mungkin survive sebab adanya gas mampat yang berada di sekitarnya.

Hasil penelitian lau dipublikasikan di jurnal Science pada Kamis (19/3/2015) minggu lalu.

Editor: Hendra
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved